Prospek Bisnis di Sektor Kelautan dan Perikanan bagi Startup

Prospek Bisnis di Sektor Kelautan dan Perikanan bagi Startup
Dr. Machsus Fawzy MT.




Oleh: Riris Septi Arimbi (1), Baroto Tavif Indrojarwo(2), dan Machsus (3)

Sebagai negara maritim, potensi perikanan di Indonesia tentu tak diragukan lagi. Dengan sumber daya yang melimpah, Indonesia seharusnya mampu menguasai bisnis dalam sektor kelautan dan perikanan jika dikelola dengan baik. Prospek bisnis di sektor kelautan dan perikanan ini perlu dimanfaatkan oleh generasi muda dengan mendirikan startup atau perusahaan rintisan di sektor ini.

Saat ini diperkirakan sebanyak 60 persen sumber daya ikan berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) wilayah timur Indonesia. Sementara konsentrasi Unit Pengelolaan Ikan (UPI) masih berpusat di barat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Hal ini menjadi tantangan logistik di sektor kelautan dan perikanan, dan sekaligus menjadi peluang bisnis bagi starup. Prospek bisnis ini telah dimanfaatkan oleh Ir. Sudiarso dan Achmadi Nizam dalam membangun usahanya, yang diakui oleh Beliau berdua saat menjadi narasumber dalam acara Kelas Inkubasi Startup Inovatif ke-5 (KINSOV-5), Kamis (8/10) malam.

Selain disparitas sumber daya ikan, ada hal lain yang menjadi tantangan distribusi lokal, yakni biaya logistik yang tidak efisien, penurunan kualitas produk, hingga minimnya sarana dan prasarana. Realitasnya biaya transportasi ekspor lebih murah daripada biaya pengiriman domestik, misalnya distribusi untuk tujuan ke wilayah Papua dan sekitarnya.




Proses pemasaran produk ikan sendiri dimulai dari perikanan budidaya atau tangkap, yang kemudian disalurkan ke pasar segar ataupun UPI. UPI kemudian memasok untuk produk ekspor, industri katering, pengiriman daring, pasar modern, restoran dan cafe, hingga hotel. Namun, selama masa pandemi ini memang mengalami penurunan omzet sekitar 30 persen. Karena biasanya supply ke hotel, tapi sekarang perhotelan sedang ambruk. Solusi mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan diversifikasi produk, yakni memproduksi aneka produk frozen yang dinilai lebih praktis, karena dapat diolah sendiri di rumah.

Perikanan memiliki potensi cukup besar secara nasional, baik secara makro, sektor-sektor industrinya, logistiknya, dan maritimnya. Belum lagi, sekitar 10 persennya belum diolah. Ikan yang tadinya bernilai ekonomi rendah, kalau diolah bisa bernilai mahal. Dalam proses bisnis ini, perintis startup bisa hadir untuk menyelesaikan dalam hal storage selama pengiriman, atau pada bagian lainnya.

Prospek Pasar Amerika bagi Produk Perikanan Indonesia
Pilihan segmentasi pasar, selain fokus pada pasar domestik, juga bisa memilih ekspor sebagai segmentasi pasarnya, untuk jenis produk perikanan tertentu. Misalnya dengan memilih rajungan sebagai produk utamanya, seperti yang dilakukan oleh Achmadi Nizam melalui PT. Bahari Mulia Utama sejak tahun 2015. Namun, memang dibutuhkan kerja keras dan kedisiplinan untuk bisa menembus pasar Amerika. Hal ini dikarenakan Amerika memiliki standar kualitas yang sangat tinggi. Terlebih, rajungan termasuk produk yang mudah basi. Disamping itu, produk rajungan merupakan produk pasteurisasi dalam kaleng.

Produk rajungan di laut Indonesia diperkirakan ada sekitar 65 persen, yang merupakan Blue Swimming Crab terbaik di dunia adanya di Indonesia. Namun sayangnya, standar kualitas di Indonesia tidak terlalu bagus, sehingga importir lebih memilih membeli dari Vietnam, India, hingga Tunisia. Namun, akhirnya Amerika tetap ambil di Indonesia karena mereka tahu kalua rajungan terbaik adanya di Indonesia.

Sebelum dilakukan pengiriman ekspor ke Amerika, produk rajungan yang dibeli langsung dari nelayan dengan jumlah yang cukup melimpah itu disortir dan dipilih yang berkualitas. Sebab, banyak rajungan yang tidak lolos uji kualitas, sehingga harus dibuang atau dijual ke pasar domistik karena tidak sesuai dengan standar Amerika.

Jadi untuk rajungan kelas dua (second grade crab) dijual kembali ke pasar domestik. Jenis rajungan kualifikasi ini disebut dengan nama “Rajungan Legit”. Dengan demikian, selain mendapatkan hasil yang juga lumayan, limbahnya tidak terlalu terbuang.

Kiat untuk menembus pasar Amerika, yang terpenting adalah adanya permintaan pasar terlebih dahulu, barulah kita dapat masuk menjadi pemasoknya. Lalu diperlukan dedikasi tinggi untuk memelihara kualitas produk. Jadi rajungan dengan kualifikasi blue swimming crab menjadi produk spesifik, yang jarang bisa dijual di tempat umum.

Selanjutnya, komitmen belajar menjadi seorang entrepreneur dengan mendirikan startup harus siap untuk rugi dan tidak bermimpi untuk selalu untung. Karena banyak orang yang latah terjun di bisnis hanya karena melihat produk yang bagus. Padahal kenyataannya, dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi agar tidak tergerus oleh pesaing. Bagi pegiat startup, yang perlu dipahami bahwa persaingan bisnis di sektor kelautan dan perikanan ini, kompetitornya bukan di Indonesia, melainkan dari negara lain yang standarnya tinggi. Akhirnya keberanian mendirikan startup di sektor kelautan dan perikanan berpulang kepada Anda. Siapkah Anda mencoba!

1)Entrepreneur di bidang Art Maker
2)Manajer Senior Inkubator dan Layanan Bisnis, DIKST-ITS
3)Manajer Senior Akses Permodalan dan Kealumnian, DIKST-ITS

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: , ,
banner 468x60