Rizal Ramli : Karena sikap tertutup dan jumawa, mungkin krisis itu sulit dihindarkan

Rizal Ramli : Karena sikap tertutup dan jumawa, mungkin krisis itu sulit dihindarkan
Dr Rizal Ramli, ekonom senior Indonesia




ZONASATUNEWS.COM–Banyak pejabat yang ngaku virus corona nyaris tidak ada di Indonesia, tapi ketika index (5300) dan rupiah anjlok (Rp14.262) para pejabat semua bilang akibat corona. Padahal tanpa corona pun, ekonomi Indonesia semakin nyungsep karena salah-kelola. Benar-benar ilmu pengibulan sudah tingkat Dewa. Hal itu dikatakan ekonom senior Rizal Ramli.




Analis-analis pasar modal dan ekonom-ekonom konvensional tidak bisa ramalkan apa yang terjadi hari-hari ini 6-12 bulan yang lalu. Mereka hanya bisa melakukan extrapolasi trend, tidak bisa memperkirakan akan ada ‘struktural break’. Itu terjadi 1996-1997, terulang kembali 2019-2020.

Rizal menilai, media mainstream lebih banyak memuat penjelasan pejabat-pejabat yang rajin melakukan ‘self-denial’ dan ekonom-ekonom konvensional. Apalagi hari ini fatamorgana itu diperbesar oleh ‘influenser-influenser” dan buzzer-buzser bayaran.

“Akibatnya beban krisis akan lebih besar untuk bangsa dan rakyat kita, karena rakyat dan bisnis terlena dengan fatamorgana itu, tidak bersiap-siap melakukan tindakan preventif. Kok ndak pernah belajar dari sejarah?” kata Rizal.

Oktober 1996, Rizal Ramli via ‘Econit Economic Outlook’ meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami krisis akhir 1997 & 1998. Semuanya terjadi.

Pertengahan 2018, RR katakan ekonomi masuki zone lampu kuning, kalau tidak hati-hati, bisa masuk lampu merah akhir 2019-2020. Pak @jokowi Peringatan-peringatan itu adalah “Early Warning Sytem”, sumbangan pikiran RR agar RI tidak mengalami krisis kedua.

Biasanya di setiap peringatan-peringtan itu ada alternatif solusi. Jika diikuti 5 bubbles (gelembung2) itu: makro, gagal-bayar, daya beli, digital dan pendapatan petani bisa dikecilkan, sehingga krisis bisa dihindari.

“Tapi karena sikap tertutup dan jumawa (sombong,red), mungkin krisis itu sulit dihindarkan,” kata Menko Ekonomi era Presiden Gus Dur itu.

Editor : Setyanegara

 










banner 468x60