Setelah Penantian 20 Tahun, Blok Masela Akan Segera Beroperasi

Setelah Penantian 20 Tahun, Blok Masela Akan Segera Beroperasi
Hari ini, Selasa (16/7/2019) dilaksanakan penyerahan persetujuan POD I Revisi oleh Kepala SKK Migas kepada CEO INPEX disaksikan oleh Presiden RI , Menteri ESDM, Sekretaris Kabinet, dan Dubes kedua negara, di Kantor Presiden, setelah sebelumnya CEO Inpex audiensi dengan Presiden RI.

Zonasatu NewsPenantian panjang hampir 20 tahun agar sumber daya alam di Blok Masela dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran bangsa akhirnya dapat segera dimulai.

Hari ini, Selasa (16/7/2019) dilaksanakan penyerahan persetujuan POD I Revisi oleh Ka SKK Migas kepada CEO INPEX disaksikan oleh Presiden RI , Menteri ESDM, Sekretaris Kabinet, dan Dubes kedua negara, di Kantor Presiden, setelah sebelumnya CEO Inpex audiensi dengan Presiden RI.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Dwi Soetjipto menjelaskan presiden menyambut gembira atas kerja keras kedua pihak. “Negosiasi yang meskipun alot pada akhirnya bisa selesai, dan investasi yang sangat besar ini berarti buat Indonesia,” jelasnya.

Dengan beroperasinya pembangunan kilang Blok Masela, maka Indonesia sedang dalam tahapan yang tepat untuk mewujudkan kemandirian energi di masa mendatang. Defisit migas yang terjadi saat ini salah satunya adalah terlambatnya pemanfaatan blok Migas yang ditemukan, sehingga seiring dengan kebutuhan Migas yang terus tumbuh dan sayangnya tidak dapat diimbangi dengan ketersediaan/produksi Migas.

Blok Abadi Masela adalah salah satu Blok Migas terbesar di dunia dan dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama, sehingga tidak salah diberikan nama Blok Abadi karena memberikan manfaat dalam kurun waktu yang lama.

Mengapa beroperasinya Blok Abadi Masela sangat dinantikan oleh banyak pihak, karena potensi yang luar biasa dan kemanfaatan ekonomi yang luar biasa.

1. Cadangan gas alam mencapai sekitar 18,5 triliun kaki kubik (TCF) dan minyak (kondensat) sekitar 255 juta barel.

2. Volume produksi yang besar sehingga akan menambah pasokan gas dalam negeri, kapasitas kilang mencapai 9,5 juta metric ton LNG per tahun ditambah 150 juta kaki kubik standar per hari (150 MMSCFD) untuk industri lokal. Diakhir masa kontrak 2055 sisa kandungan gas sekitar 2,2 TCF (setara dengan 1,5 kali sisa kandungan di Blok Mahakam saat ini)

3. Total penerimaan (gross) diperkirakan sekitar USD 118 miliar

4. Penerimaan negara netto sekitar minimal USD 39 miliar atau setara dengan Rp 550 triliun untuk kurs saat ini.

5. Kontraktor netto diperkirakan maksimal USD 37 miliar (termasuk Participating Interest 10% Pemerintah Daerah yang di carried penuh oleh kontraktor)

6. Biaya pengembangan antara USD 18,5 miliar sd USD 19,8 miliar adalah investasi asing terbesar sejak tahun 1968. Sedangkan total investasi sampai 2055 sebesar USD 42 miliar

7. Menciptakan lapangan kerja yang besar. Pada saat proyek akan membuka lapangan kerja sekitar 30.000 (langsung dan tidak langsung) dan saat beroperasi menyerap tenaga kerja sekitar 4.000 (langsung dan tidak langsung).

8. Menciptakan multiplier efek ekonomi domestik yang besar. Dari investasi 2019-2026 minimal 26% dari total investasi atau sekitar Rp 5 triliun atau setara dengan Rp 70 triliun atau setara dengan Rp 10 triliun per tahun. Sedangkan dari operasi 2027-2055 minimal 40% atau sekitar USD 8,8 miliar atau setara dengan Rp 132,2 triliun atau setara dengan Rp 4,9 triliun pertahun.

Dengan mulainya proyek ini, Indonesia akan terima sekitar US$ 39 miliar dan Inpex sekitar US$ 37 miliar. Angka tersebut sudah termasuk 10% milik daerah, sehingga Inpex dan Shell hitungannya bisa terima US$ 33,3 miliar. “Porsi RI cukup signifikan.”

Belum lagi dampak multiplier seperti industri petrokimia dan potensi investasi US$ 1,5 miliar hingga US$ 2 miliar di daerah tersebut. SKK menargetkan blok Masela akan mulai produksi pada 2027, sehingga proyek dikebut sampai 2026.

 

Tags:
banner 468x60