Utang ugal-ugalan, Pengamat : Indonesia diambang krisis ekonomi yang lebih buruk dari tahun 1998

Utang ugal-ugalan, Pengamat : Indonesia diambang krisis ekonomi yang lebih buruk dari tahun 1998
Dr Rizal Ramli, ekonom senior Indonesia




ZONASATUNEWS.COM, Jakarta– Ekonom senior DR Rizal Ramli (RR) menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak ubahnya dengan gelembung (buble) yang terus menggelembung dan rentan. RR ramalkan kemungkinan krisis hantam Indonesia, penguasa harus hati-hati dan waspada.

“Penguasa harus hati-hati krisis bisa hantam Indonesia. Namun, gelembung ekonomi yang muncul saat ini dan bisa meletus tidak mendapat dukungan fundamental yang kuat,” kata RR dalam perbincangannya yang dilansir Harian Terbit, belum lama ini.

RR menyatakan, sejak 1,5 tahun lalu dirinya sudah mengkhawatirkan lima bubbles (gelembung) yang semakin membesar dan siap meletus. Pertama, makro ekonomi, gagal bayar, daya beli, digital bizz, dan nasib petani.

“Gelembung-gelembung ini terjadi pada periode bersamaan. Bisa ber implikasi sosial, ekonomi dan politik besar. Ironi yang kuasa tak sadar,” paparnya.

Kenyataannya, lanjut RR, dalam dua tahun terakhir, pejabat-pejabat Indonesia malah mengulang kebiasaan buruk, ‘self-denial’ (menolak kenyataan) bahwa kondisi ekonomi semakin memburuk, tanpa kemampuan melakukan inovasi dan terobosan kebijakan untuk ‘turn-around’.

“Kita dapat menghindari krisis, tapi tidak dengan cara-cara lama. Bahkan pemerintah terus berupaya menutup gelembung tersebut dengan persepsi seolah semua tidak ada masalah. Padahal gelembung seperti itu akan meletus sebagai bagian dari koreksi alamiah,” kata RR.

Mantan Komisaris Utama Bank BNI ini, suapaya gelembung meletus tidak memerlukan kehadiran kekuatan yang besar, cukup sentuhan kebenaran. “Untuk meledak, tidak perlu linggis atau kampak, hanya butuh peniti-peniti kebenaran dan fakta ril,” paparnya.

Utang Ugal-ugalan

Rizal Ramli menyoroti utang Indonesia yang kian ugal-ugalan di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Rasio utang sudah mencapai mencapai 29,8 persen dari GDP.

Tak heran, kata RR, ancaman utang Indonesia, dan akan terus menggunung jika tak ada solusi nyata dari pemerintah. Pasalnya, pertumbuhan utang Indonesia jauh lebih cepat dari pertumbuhan PDB. Padahal rasio aman utang 60 persen PDB adalah berdasarkan dua kali rasio pajak negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.

“Rasio pajak negara-negara OECD adalah 30 persen, maka ditetapkan rasio pajak 2 x 30 persen, sama dengan 60 persen. Indonesia bukan negara maju yang rasio pajaknya tinggi. Rasio pajak Indonesia hanya 10 hingga 11 persen,” paparnya.

Artinya, lanjut RR, rasio aman utang Indonesia seharusnya adalah 2 kali 11 persen, alias 22 persen. “Sedangkan kini rasio utang Indonesia sudah 29,8 persen GDP. Jadi, rasio utang Indonesia, jelas sudah di atas batas aman. Karena berdasarkan ratio Debt-Service/Export Revenue, batas amannya hanya 20 persen,” paparnya.

Menurutnya. ancaman utang Indonesia, akan terus menggunung jika tak ada solusi nyata dari pemerintah. Pasalnya, pertumbuhan utang Indonesia jauh lebih cepat dari pertumbuhan PDB.

“Utang pemerintah Indonesia setiap tahun bertumbuh rata-rata 20 persen. Sementara pertumbuhan PDB Indonesia hanya rata-rata 5 persen setiap tahun. Sedangkan utang pemerintah bertumbuh 4 kali lebih cepat dari pertumbuhan PDB,” ungkap RR.

Sementara kondisi saat ini, anggaran pembayaran bunga utang tahun 2020 mencapai Rp 295 triliun. Sementara pembayaran pokok utang Rp 351 trilliun. Artinya, total pokok dan bunga utang Indonesia mencapai Rp 646 triliun

Lebih lanjut RR mengemukakan dirinya sejak sejak 1,5 tahun lalu sudah mengkhawatirkan lima bubbles/gelembung yang akan semkin membessar. Pertama, makro ekonomi, gagal bayar, daya beli, digital bizz, petani. gelembung2 itu tjd pd periode bersamaan. implikasi sosial, ekonomi dan politik besar. ironi ytg kuasa tak sadar

Krisis Ekonomi

Dihubungi terpisah, pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin sependapat dengan ramalan RR bahwa krisis ekonomi akan menghantam Indonesia. Bahkan, Aminudin menyatakan, saat ini sudah terjadi krisis ekonomi di negeri ini. Hanya saja tidak ada media mainstream yang membingkai berita krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini secara utuh agar diketahui oleh publik.

“Beruntung ada sebagian kecil pengamat ekonomi yang sadar Jokowi sudah membuat Indonesia diambang krisis ekonomi yang lebih buruk dari tahun 1998. Tapi publik belum aware (sadar) apa yang terjadi,” ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Senin (17/2/2020).

Menurutnya, indikasi Indonesia sudah dihantam krisis ekonomi, yakni, banyak perusahaan mulai dari tekstil, retail, pabrik baja, semen, pabrik-pabrik gula, perdagangan online, dan lainnya yang goyang dan tutup serta melakukan PHK besar-besaran.

Aminudin juga tidak sepakat dengan pernyataan bahwa krisis ekonomi juga dialami negara lain. Alasannya, Yunani, Italia, Portugal juga sudah bisa mengatasi atau recovery ekonomi negaranya. Oleh karena itu saat ini krisis ekonomi hanya terjadi di Indonesia dan tidak terjadi di Negara-negara
lainnya.

“Saat ini boleh dikatakan hanya Indonesia yang mengalami krisis ekonomi. Karena Yunani, Italia, Portugal sudah bisa recovery ekonomi,” jelasnya.

Aminudin menyebut, jika pemerintah tidak segera mencari solusi maka akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021 jika tak ada keajaiban atau upaya yang dilakukan maka Indonesia bakal masuki masa sulit.

“Seperti dikatakan ekonom Kwik Gian Gie sebagai fase ekonomi yang menyakitkan. Dampak krisis ekonomi maka akan membuat para pengusaha khawatir dan was-was,” paparnya.







Tags: , ,
banner 468x60