China tidak meminta persetujuan pengadilan untuk membunuh 20.000 pasien coronavirus

China tidak meminta persetujuan pengadilan untuk membunuh 20.000 pasien coronavirus
Gambar muka artikel terbitan CT News : Staf medis memindahkan seorang pasien dari kasus yang diduga sangat tinggi dari coronavirus baru di Rumah Sakit Queen Elizabeth di Hong Kong, Cina 22 Januari 2020. Foto diambil 22 Januari 2020. cnsphoto via REUTERS. EDITOR PERHATIAN - GAMBAR INI DIBERIKAN OLEH PIHAK KETIGA.




ZONASATUNEWS.COM–Laporan oleh AB-TC menyatakan bahwa pejabat Cina ingin mengeksekusi pasien yang terinfeksi coronavirus untuk melindungi petugas kesehatan dari virus yang mematikan.

Sebuah artikel yang diterbitkan di situs web AB-TC alias ‘City News’ telah mengklaim bahwa pemerintah China meminta persetujuan dari Pengadilan Rakyat Tertinggi negara itu untuk membunuh 20.000 pasien virus korona untuk mengendalikan penyebaran virus.

Laporan itu menyatakan bahwa pejabat Tiongkok ingin mengeksekusi pasien ini untuk melindungi petugas kesehatan dari penyakit mematikan.

Artikel yang menyebut China sebagai “Chhina” dalam kalimat pertama mengatakan: “Tingkat tertinggi pengadilan di Chhina, Mahkamah Agung Rakyat, diharapkan memberikan persetujuan Jumat untuk pembunuhan massal pasien coronavirus di China sebagai cara pasti untuk mengendalikan penyebaran virus yang mematikan. “

Laporan tersebut sejak itu telah dibagikan secara luas di platform media sosial. Banyak juga yang turun ke Twitter untuk menyampaikan keprihatinan dan menyerukan aktivis HAM.

Kisah itu berkobar di Internet ketika jumlah korban tewas akibat virus itu naik melebihi 600 pada hari Jumat dan di tengah meningkatnya spekulasi bahwa China tidak terbuka mengenai skala korban.

Namun, kami tidak dapat menemukan situs web berita tunggal yang dapat diandalkan yang menguatkan klaim AB-TC. Klaim tersebut tampaknya berasal dari situs web. AB-TC: Situs web AB-TC (City News) tidak memiliki rincian tentang situs yang menyebutkan siapa yang berada di belakang situs web tersebut.

Artikel-artikel di situs web tidak memiliki penulis dan diklaim ditulis oleh ‘Koresponden Lokal’. BOOM mengakses rincian situs web whois dan menemukan bahwa itu terdaftar di Guangdong Cina dan didirikan hanya tujuh bulan lalu pada Juni 2019.

Kami tidak menemukan fakta-fakta pendukung yang kuat dari sumber berita lainnya. Sehingga klaim yang dibuat oleh situs AB-TC kurang meyakinkan. Beberapa media lain justru telah menjatuhkan vonis bahwa klaim informasi itu tidak benar.

Tetapi sulitnya memperoleh data pembanding yang cukup bebas dari media di China menyebabkan informasi menjadi simpang siur. Informasi China hanya berasal dari satu sumber resmi pemerintah. Hal itu memantik adanya spekulasi yang sulit dikonfirmasi dari sumber China lainnya. Hingga kini sumber pemerintah belum memberikan bantahan resmi terkait klaim yang dibuat oleh situs AB-TC tersebut.




Kabut asap tebal di kota Wuhan China, diduga berasal dari rumah pembakaran mayat yang bekerja non stop 24 jam sehari. Foto ini diambil setelah pembakaran berlangsung 5 hari

Contoh lainnya adalah tentang jumlah korban meninggal akibat coronavirus. Sumber resmi pemerintah menyebut 800-an.. Namun seorang miliarder China yang telah mengasing diri ke Amerika, Guo Wengui baru-baru ini mengungkapkan kebocoran dari krematorium Wuhan. Dia mengklaim berdasarkan jumlah mayat yang membakar tungku mereka, jumlah korban jiwa bisa mencapai 50.000. Wengui membuat tuduhan dalam sebuah wawancara dengan mantan kepala strategi Gedung Putih Steve Bannon.

Dia juga mengklaim memiliki informasi orang dalam bahwa ada 1,5 juta kasus virus korona yang dikonfirmasi di Cina. Wengui dengan tegas menyatakan bahwa ini tidak hanya dikarantina atau “sedang diamati” tetapi juga mengkonfirmasi kasus infeksi coronavirus:

“Jadi saya mendapat informasi orang dalam. Yang benar adalah 1,5 juta orang bukan hanya pengamatan, itu dikonfirmasi [kasus]. Dan jumlah orang yang telah meninggal, seperti yang ditunjukkan oleh tubuh yang terbakar, adalah lebih dari 50.000.” kata Wengui seperti dikutip CCN.COM. Data Wengui ini diperkirakan setelah krematorium berjalan selama 17 hari.

Editor: Setyanegara

 







banner 468x60