FTA : Extrajudicial Killing Yang Dilakukan Polisi, Puncak Kemunduran Demokrasi di Indonesia

FTA : Extrajudicial Killing Yang Dilakukan Polisi, Puncak Kemunduran Demokrasi di Indonesia
Screenshoot video : makam salah satu laskar FPI yang dibunuh Polisi Indonesia




ZONASATUNEWS.COM–Forum Tanah Air (FTA) yang anggotanya tersebar diseluruh dunia, mengaku prihatin dengan tragedi pembunuhan terhadap 6 laskar sipil FPI oleh polisi Indonesia. FTA berjuang agar pelanggaran HAM itu diketahui dunia.Salah satunya dengan cara membuat video berdurasi 9 menit 30 detik, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Video itu kini telah menyebar diberbagai negara didunia.

Melalui video bertitel “EXTRAJUDICIAL KILLING & PELANGGARAN HAM DI INDONESIA”, FTA menegaskkan, Indonesia negara demokrasi terbesar ke 3 didunia, sedang berada disimpang jalan setelah terbunuhnya 6 laskar FPI (Islamic Defender Front) pada Senin dinihari 07 Desember 2020.

Menurut keterangan Kepolisian Metro Jakarta, pihaknya diserang oleh 6 orang laskar dengan senjata tajam dan pistol asli sehingga harus membela diri, setelah saling berkejar kejaran di jalan tol.

Keterangan dari pihak FPI mengatakan ke 6 orang laskar berada dalam rombongan Habib Rizieq Shihab yang bertugas mengawal habib yang akan pergi pengajian keluarga di luar Jakarta. Laskar melakukan pengawalan rutin dan tidak bersenjata sama sekali.

Pihak kepolisian akhirnya merubah statementnya bahwa pistol yang dibawa laskar adalah pistolrakitan, dan kemudian hari berikutnya membuat pernyataan lagi bahwa pistol yang ada ditangan laskar adalah pistol yang direbut dari petugas polisi.

Senin pagi hari setelah kejadian, pihak FPI membuat press release bahwa 6 anggotanya dinyatakan hilang dalam tugasnya mengawal habib rizieq shihab, karena tidak di ketahui keberadaannya. Namun afternoon pihak kepolisian menyatakan bahwa 6 orang laskar FPI dinyatakan tewas dalam tembak menembak senin dinihari.

Menurut saksi mata di lolasi kejadian, jalan tol Jakarta-Cijampek, tepatnya di rest area KM50, tidak ada terdengar tembak menembak, mereka hanya mendengar 2 kali tembakan, dan 30 menit kemudian melihat ambulance datang membawa 2 korban tembakan dan 4 orang lainnya dibawa pergi oleh kendaraan lain.

Jenazah 6 laskar akhirnya diserahkan polisi pada selasa malam 9/12 dan di kebumikan pagi harinya Rabu 10/12/20. Adapun kasus penembakan ini akhirnya diambil alih oleh Kepolisian Negara RI dan polisi yang menembak 6 orang diamankan oleh Propam.(Police Internal Affair).

“Extrajudicial killing yang dilakukan oleh pihak polisi Indonesia menjadi puncak kemunduran demokrasi di Infonesia, setelah tumbangnya rezim otoritarian Suharto. Apakah Indonesia akan kembali menjadi negara otoritarian setelah reformasi tahun 1998? Hopely not,” ungkap FTA dalam video yang sudah viral itu.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60