JIRE Mewakili Indonesia Bicara Rendah Emisi Di “Bangkok Asia Pacific Climate Week”

JIRE Mewakili Indonesia Bicara Rendah Emisi Di “Bangkok Asia Pacific Climate Week”
Climate Action Network (CAN) Di Bangkok, Rabu (4/9/2019).




Bangkok, Zonasatu News — Dicky Edwin Hindarto, Koordinator Jaringan Indonesia Rendah Emisi (JIRE) dan Advisor untuk Implemntasi JCM di Indonesia diundang oleh Climate Action Network (CAN) Di Bangkok, Rabu (4/9/2019).

Dia selama beberapa hari terakhir telah dipercaya oleh Climate Action Network (CAN) untuk menjadi pembicara tentang implementasi kerjasama antar para pihak dalam penurunan emisi di Indonesia.

“Saya diundang mewakili Jejaring Indonesia Rendah Emisi (JIRE) untuk melakukan presentasi tentang bagaimana asal muasal pembentukan JIRE, apa latar belakangnya, apa saja yang telah dilakukan, apa yang akan dilakukan, dan siapa saja anggota JIRE,” kata dia kepada zonasatunews.com.




Wakil dari JIRE yang diundang ada 2 orang, Dicky sendiri selaku koordinator dan Diah Suran dari Astra Internasional selaku anggota jejaring. Mereka diundang untuk berbicara di dalam dua sesi, sesi utama di plenary dan sesi khusus atau side event.

Pada sesi side event Mr. Nithi Nesadurai selaku koordinator CAN Asia Tenggara menyampaikan pentingnya kerjasama antar lembaga dan para pihak.

Pada sesi ini Dicky menceritakan secara detil proses pendirian JIRE dan kondisi terkini dari jejaring ini. Sementara Diah selaku anggota JIRE, menceritakan bagaimana program penurunan emisi GHG dilakukan di Astra, dan apa yang diharapkan dengan bergabung menjadi anggota JIRE.

Dicky juga dipercaya untuk menjadi panelis di plenary atau ruang sidang utama dari UNESCAP. Pada kesempatan itu dia menyampaikan pentingnya kerjasama antara para pihak, terutama non pemerintah, untuk melakukan penurunan emisi.

“Saya juga sampaikan di dalam ruang sidang utama UNESCAP ini, bahwa harus ada upaya berkesinambungan di dalam melakukan peningkatan pemahaman, penyebaran informasi, dan pengetahuan dari para pihak terkait, terutama non pemerintah, dalam kegiatan rendah karbon. Sadar atau tidak sadar, ada gap atau jurang informasi sangat besar antara para pelaku negosiasi dan pemerintah, dengan sektor swasta selaku pelaku sesungguhnya dari penurunan emisi,” jelas dia.

Gap atau jurang pemisah inilah yang kemudian menjadi salah satu target dan tujuan dari pembentukan JIRE.

Menjadi satu-satunya panelis yang mengangkat perlunya peningkatan pemahaman sektor swasta, terutama di Indonesia, di antara 6 panelis lain, juga secara otomatis menunjukkan perlunya hal ini untuk dilakukan segera.

Sementara ke 6 panelis yang lain memberikan analisis tentang kemajuan dan kemandekan dari perundingan article 6 (bagian yang membahas tentang implenentasi menggunakan pasar atau non pasar), dan bagaimana kemudian hal tersebut bisa dituntaskan, saya malah mempertanyakan apakah dunia luar mengerti apa yang dirundingkan dan apakah kemudian siap apabila diimplementasikan.

“Pada kenyataannya akan dibutuhkan jeda waktu yang cukup lama antara pemahaman terhadap regulasi atau keputusan internasional yang baru dengan implementasinya di lapangan. Bahkan kadang sampai 2-3 tahun,” kata dia.

Sementara waktu yang ada sangat terbatas. Kita tidak punya kemewahan waktu untuk sekedar coba-coba melakukan penurunan emisi. Semua harus dilakukan secara simultan dan paralel antara perundingan dan kesiapan implementasi di lapangan. Justru untuk inilah salah satu peran JIRE bisa ditingkatkan.

Pertanyaannya kemudian, kenapa harus terburu dan tergesa mrnghadapi waktu? Ini karena bumi kita tak lagi bisa menunggu.

Harus kita lakukan sekarang, atau binasa bersama.

Editor : Setyanegara







Tags: , ,
banner 468x60