Muhammad Najib : Ujian Terakhir Bagi Mahathir Muhamad

Muhammad Najib : Ujian Terakhir Bagi Mahathir Muhamad




OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

PERDANA Mentri Malaysia, Mahathir Mohamad lahir pada 10 Juli 1925, di Alor Setar, Malaysia. Berarti kini usianya sudah lebih dari 94 tahun. Sejumlah media menyebutnya sebagai kepala negara tertua di dunia.

Julukan ini tentu dapat bermakna positif, akan tetapi dapat juga sebaliknya, tergantung pada siapa yang menilainya atau kriteria apa yang digunakannya.

Sebelumnya, Mahathir menjabat sebagai Perdana Mentri Malaysia selama 22 tahun (1981-2003). Ia digantikan oleh Abdullah Badawi, kemudian Najib Razak. Tidak ada yang bisa membantah, Mahathirlah yang mengangkat harkat dan martabat Malaysia sebagai sebuah negara dan rumpun Melayu sebagai etnis yang dihormati di pentas dunia, baik dalam hal ekonomi, kesejahteraan rakyat, maupun kualitas sumberdaya manusianya.

Kebanyakan orang Indonesia merasa kagum sekaligus iri dengan Malaysia. Bisa dibayangkan, orang Indonesia merasa lebih dahulu maju, sehingga memandang orang Malaysia seperti orang dari “kampung”, atau sebagai adik yang layak dibantu.

Para mahasiswa asal Malaysia membanjiri universitas-universitas di Indonesia, khususnya yang berada di kota Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Guru-guru Indonesia diundang untuk mengajar di Malaysia.

Beberapa tahun setelah Mahathir berkuasa, tiba-tiba mahasiswa asal Indonesia yang pergi ke Malaysia untuk belajar. Lebih dari itu, para pekerja kasar Indonesia, termasuk pembantu rumah tangga berduyun-duyun mencari sesuap nasi di sana.

Mahathir membuat bandara baru yang jauh lebih bagus dan lebih indah dari bandara Soekarno-Hatta yang sangat dibanggakan rakyat Indonesia, lalu membuat jalan bebas hambatan (tol) yang menghubungkan hampir semua kota besar di Malaysia daratan, memindahkan ibukota dari Kuala Lumpur ke kota baru Putrajaya. Hal ini merupakan sejumlah indikator keberhasilannya.

Sayang penerusnya, tidak mampu melanjutkan sukses Mahathir. Bahkan berbagai gejolak politik baik dalam pemerintahan maupun dalam tubuh partai UMNO yang menopangnya tak pernah putus, yang membuat Malaysia seolah jalan di tempat. Bahkan dalam ekonomi mengalami krisis yang serius akibat skandal korupsi.

Kenyataan inilah yang mendorong Mahathir yang sudah tidak muda lagi terpanggil untuk turun gunung. Ia menggandeng sahabat lamanya Anwar Ibrahim melalui koalisi dua partai (Partai Pribumi Bersatu dan Partai Keadilan Rakyat) dalam Pemilu tahun 2018, dengan janji yang disampaikan ke publik berulang-ulang saat kampanye akan berbagi kekuasaan, termasuk posisi Perdana Mentri.

Kini masyarakat Malaysia maupun internasional menanti dengan harap-harap cemas, akankah Mahathir menunaikan janjinya? Dalam suatu kesempatan ia mengutarakan dengan lugas bahwa janjinya pada Anwar Ibrahim akan ditunaikannya. Akan tetapi dalam kesempatan berbeda, ia berbicara mengambang dengan kalimat yang bisa ditafsirkan lain.

Keraguan masyarakat internasional bertambah, jika mengingat dua tokoh ini selain pernah bersatu juga pernah berseteru. Kerasnya perseteruan ini sampai berujung dipenjarakannya Anwar. Tuduhan berlapis dan berulang-ulang, dari korupsi sampai sodomi terus mencecar dirinya.

Masyarakat awam pada umumnya merasa Anwar diperlakukan tidak adil, bahkan menganggap pria yang berulangkali mendekam di penjara ini telah didzalimi. Akan tetapi mereka juga tidak kuasa untuk menghujat Mahathir, mengingat besarnya jasa yang pernah ditanamnya.

Kini semuanya berulang pada sang Perdana Mentri yang dikenal sebagai politisi tangguh dan cerdik ini, apakah ia akan terus menggenggam kekuasaan atau menunaikan janjinya tanpa perlu mencari-cari argumen baru sebagai pembenar.

Paling tidak ada dua ujian yang kini dihadapi oleh Mahathir, sebagaimana ujian yang datang pada para pejabat pada umumnya. Pertama, yang datangnya dari diri sendiri. Kedua, yang datangnya dari keluarga, teman dekat, termasuk para kader partai yang mengusungnya.

Merujuk pada sejarah, ternyata sebagian besar para penguasa tidak lulus menghadapi ujian ini. Tengoklah Muawiyah bin Abu Sufyan yang sumbangannya terhadap dunia Islam luar biasa besar, akan tetapi sampai sekarang Ummat Islam tidak bangga kepadanya. Terlihat dari keengganan orang tua memberi nama anak laki-lakinya dengan menggunakan namanya. Karena itu tidak banyak kita temui orang bernama Muawiyah.

Berbeda dengan Ali bin Abi Thalib yang menjadi seteru politiknya, setiap orang senang merujuk namanya, menceritakan keberaniannya, ketinggian ilmunya, sampai pada keutamaan akhlaknya, sehingga begitu banyak orang tua yang memilih nama Ali, dengan harapan agar si kecil bila dewasa nanti dapat mencontoh sang pujaan hati. Ali bisa jadi kalah secara politik, akan tetapi menang secara moral.

Dalam usianya yang sudah senja, kita tentu berharap Mahathir akan lulus menghadapi ujian ini. Mengingat keberhasilannya bukan saja akan membawa kebaikan bagi Malaysia, dengan terhindar dari kemungkinan terjadinya gejolak politik yang berkepanjangan.

Lebih dari itu, hal ini juga akan menjadi warisan yang amat berharga bagi rumpun Melayu, bahwa etika, moral atau akhlak masih mendapat tempat di pentas politik kita, di tengah politik yang menghalalkan cara yang dipertontonkan oleh banyak politisi di dunia, baik di Barat maupun Timur.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi.

Editor : Setyanegara







banner 468x60