Muhsin Budiono, Karyawan Pertamina Terima Penghargaan Followership di Kanada

Muhsin Budiono, Karyawan Pertamina Terima Penghargaan Followership di Kanada
Muhsin bersama Marc Hurwitz dan Samantha Hurwitz. Suami istri. Pakar Followership Kanada. Penulis buku Leadership is half the story.




Kannada,  Zonasatu News –Kabar mengejutkan datang dari Global Followership Conference-GFC 2019 (29/07) yang diadakan di Universitas Waterloo, Kanada. Salah satu warga Indonesia menerima penghargaan bergengsi di bidang Followership Management yakni Followership Trail Blazer Award. Penghargaan ini pertama kalinya diberikan kepada warga negara Indonesia.

Adalah Muhsin Budiono Nurhadi, akrab disapa Muhsin, seorang pemerhati dan praktisi followership asal Surabaya yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Followership Trailblazer Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang telah berjasa besar dalam penyebaran wacana maupun materi followership sehingga memiliki dampak terhadap banyak orang.

Muhsin menerima penghargaan Trailblazer sekaligus uang tunai sebesar $1500 dihadapan ratusan akademisi, profesional maupun para pakar yang tergabung dalam Followership Learning Community of the International Leadership Association (ILA) yang sejak tanggal 26 hingga 28 Juli kemarin berkumpul di Kanada untuk berpartisipasi dalam konferensi Internasional dibidang Followership.

“Terharu banget. Pada saat menerima penghargaan mereka tepuk tangan sambil berdiri sekitar setengah menit. Maklum belum pernah merasakan standing ovation. Mereka sangat menghargai apa yang telah saya lakukan terhadap pengembangan followership di Indonesia”, ujar Muhsin saat diwawancarai melalui video call.




Pada awalnya Muhsin menghadiri undangan GFC 2019 sebab diminta untuk menyampaikan materi bertopik “Followership in the difference culture” serta Focus Group Discussion untuk membahas strategi dan langkah konkret pengembangan followership di dunia. Dari Indonesia hanya ia sendiri yang diundang.

“Sesi panel saya dimoderatori langsung oleh Marc Hurwitz (Pakar Followership Kanada) dimana saya menyampaikan konsep tentang Islamic Followership dan strategi mengajarkan followership di Indonesia. Panitia tidak memberitahukan terkait pemberian award. Award tersebut baru diumumkan pada saat sesi penutupan konferensi”, tutur pemuda berumur 34 tahun ini.

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang juga Karyawan aktif PT Pertamina (Persero) ini merupakan praktisi Followership didikan langsung Ira Chaleff (Pakar Followership-Leadership USA) dan satu-satunya Trainer Indonesia yang tersertifikasi Internasional di bidang Followership.

Muhsin yang juga anggota International Leadership Association ini menerangkan bahwa Followership masih jarang dipelajari atau bahkan diketahui oleh masyarakat awam. Tak terkecuali di Indonesia. Padahal trend dunia saat ini mengarah pada Followership, mengingat puluhan bahkan ratusan tahun pendekatan manajemen berbasis leadership menurut penelitian tingkat keberhasilan dan keefektifitasannya hanya berkisar diangka 8%. Organisasi, Korporasi ataupun Institusi cenderung menggunakan pendekatan pengembangan sumber daya manusia berbasis leader centric dan top-down approach. Akibatnya pengembangan terhadap peran Follower menjadi terabaikan. Padahal jumah Followers jauh lebih banyak ketimbang jumlah leader.

Masih menurut Muhsin, Indonesia sejatinya sudah ketinggalan Followership selama lebih dari 30 tahun. Ilmu Followership di Indonesia seringkali diremehkan, dianggap tidak penting, tidak bergengsi dan tidak bermanfaat untuk dipelajari.

“Jujurlah, berapa banyak diantara kita yang pernah mendapatkan assessment tentang kepribadian followership sehingga menyadari tergolong tipe seperti apa kita ini?”, ujar Muhsin kepada zonasatunews.com.

Peserta dari USA. Kanada. Brazil.
Hongkong.Qatar. Singapore, Indonesia.

Bahkan di Indonesia hingga sekarang belum disepakati terjemahan baku dari Followership itu sendiri. Mereka yang merasa pintar justru tergesa-gesa menerjemahkan followership sebagai ‘Kepengikutan’. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak dikenal istilah ‘Kepengikutan’.

Followership sendiri menurut Muhsin adalah ilmu dan ketrampilan (skill) yang dapat dipelajari dan diterapkan untuk penumbuhkembangan potensi dari pengikut/follower agar membuahkan hubungan dan pengaruh positif terhadap komunitas maupun lingkungan sekitar, serta memberikan kesempatan rutin para follower untuk mengasah kemampuan leadership yang dimilikinya. Dengan demikian ilmu ini sangatlah penting dipelajari siapa saja. Bahkan oleh Top Management sekalipun.

Di Indonesia setidaknya terdapat tiga tantangan besar dalam pengembangan followership. Yang pertama yakni Inkompetensi mengajar followership. Beberapa orang yang mengajarkan atau menulis buku tentang followership di Indonesia tidak memiliki basis pemahaman yang kuat tentang followership. Mereka yang pemikir di bidang manajemen stratejik, HRD atau seorang CEO perusahaan hanya berdasarkan pengalaman memimpin dan background akademik yang dimiliki sudah merasa berhak mengajarkan followership. Akibatnya misconception dan misorientation.

Kedua, belum adanya wadah untuk berkumpulnya orang-orang Indonesia yang berminat mempelajari Followership. Itulah sebabnya pada awal Juli 2019 lalu Muhsin mendirikan INFOLCO (Indonesia Followership Learning Community).

“Adapun yang ketiga yakni belum adanya peran aktif dari seluruh komunitas praktisi, kaum profesional, manajemen korporasi, maupun Pemerintah untuk bersama-sama memperlakukan followership ini sebagai sesuatu yang penting dan bermanfaat”, jelas lelaki yang mempelajari followership di Amerika dan Belgia itu.

Muhsin yang pernah menjadi Trainer untuk fungsi pengembangan sumber daya manusia POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) ini, hingga sekarang telah berkeliling ke banyak kota dan memberikan wacana followership kepada tak kurang dari 3000 orang di seluruh Indonesia. Ia berharap melalui penghargaan yang diterimanya ini semakin membuat Indonesia lebih terpandang dalam bidang Followership Management serta akan semakin banyak lagi orang-orang Indonesia yang mau mempelajari dan mendalami followership. (End).

Editor : Setyanegara 

 

 







Tags: , , ,
banner 468x60