10 importir alat covid 19: Dari perusahaan kecantikan, ketel uap, hingga tekstil

10 importir alat covid 19: Dari perusahaan kecantikan, ketel uap, hingga tekstil
ILUSTRASI




ZONASATUNEWS.COM, JAKARTA–Korporasi non-pemerintah pengimpor alat penanganan Covid-19 tidak sepenuhnya memiliki latar belakang bisnis yang konsen pada urusan kesehatan masyarakat.

Importir alat deteksi Covid-19 seperti PCR dan Rapid Test Antigen didominasi sepenuhnya oleh kelompok perseorangan atau korporasi non-pemerintah. Berdasarkan dokumen importasi yang diterima Bisnis, kelompok korporasi non pemerintah memegang 77,16 aktivitas impor alat kesehatan yang diperuntukkan untuk penanganan Pandemi Corona di Tanah Air.

Sementara itu, pemerintah hanya memegang 16,67 persen dari keseluruhan aktivitas impor alat kesehatan penanganan Covid-19 itu. Sisanya, 6,18 persen pengadaan barang dari luar negeri dilakukan oleh lembaga non-profit.

Hanya saja, korporasi non-pemerintah itu tidak sepenuhnya memiliki latar belakang bisnis yang konsen pada urusan kesehatan masyarakat. Dokumen importasi itu menunjukkan ada perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan, tekstil hingga ketel uap.

Terdapat 10 importir terbesar untuk alat-alat kesehatan termasuk di dalamnya PCR dan Rapid Test hingga akhir Juli 2021 lalu, sebagai berikut :

1) Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB sebesar US$68,6 juta atau 6,29 persen Baca Juga : Gula-Gula ‘Impor’ Alat Covid-19: Penanganan Bencana atau Komersialisasi?

2) PT Jenny Cosmetics dengan nilai impor sebesar US$43,6 juta atau 4 persen

3) Kelompok usaha Dexa Group PT. Beta Pharmacon sebesar US$36,4 juta atau 3,34 persen. Kelompok usaha Dexa Group khusus melakukan importasi obat terapi Covid-19, tak terkait importasi rapid test maupun PCR.

4) Perusahaan teknologi medis asal Jerman Dräger Medical Indonesia sebesar US$21,5 juta atau 1,98 persen

5) Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan nilai US$21,07 juta atau 1,93 persen

6) Perusahaan tekstil multi nasional PT Pan Brothers US$21,07 juta atau 1,93 persen

7) Perusahaan ketel uap PT Trimitra Wisesa Abadi sebesar US$20,8 juta atau 1,91 persen

8) Perusahaan laboratorium diagnostik molekular PT Sinergi Utama Sejahtera sebesar US$20,8 atau 1,91 persen

9) Perusahaan alat kesehatan Cahaya Medical Indonesia sebesar US$20,7 juta atau 1,90 persen.

10) Pusat Keuangan Kementerian Pertahanan juga melakukan impor dengan nilai mencapai US$18,7 juta atau 1,72 persen.

Adapun alat deteksi Covid-19 seperti PCR dan Rapid Test Antigen diimpor dengan nilai mencapai US$530,6 juta atau menyentuh di angka 52,2 persen dari keseluruhan pengadaan alat kesehatan yang didatangkan dari sejumlah negara pemasok.

Perinciannya, impor PCR Test menembus di angka US$340,5 juta atau sekitar 31,20 persen dari keseluruhan alat kesehatan yang dibeli dari luar negeri.

Ihwal rapid test, importir dalam negeri membeli dengan nilai US$190,1 juta atau 17,42 persen. Produk impor alat kesehatan itu kebanyakan didatangkan dari China dengan nilai transaksi mencapai US$541,3 juta atau 49,61 persen dari keseluruhan negara penjual.

Selanjutnya diikuti Korea Selatan dengan nilai transaksi mencapai US$150,5 juta atau 13,5 persen dari keseluruhan negara mitra.

Mayoritas alat kesehatan hasil impor itu didatangkan melalui pintu Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Soekarno-Hatta. Malahan barang impor yang sampai di pintu Soekarno-Hatta itu mencapai nilai US$828,1 juta atau 75,89 persen dari keseluruhan barang yang masuk ke Tanah Air. (bisnis.com)

EDITOR : REYNA







banner 468x60