Agus Mualif : Abdul Azis, Prostitusi dan Budak Tempo Dulu

Agus Mualif : Abdul Azis, Prostitusi dan Budak Tempo Dulu




Oleh : Agus Mualif Rohadi

Melihat potongan video abdul azis di tv one, dimana dia menjelaskan bahwa agama Islam membolehkan seorang laki laki melakukan hubungan seks dengan milk al yamin yang diterjemahkan sebagai partner seksual selain istri berdasarkan kesepakatan dengan kutipan pembenaran berdasar pada Qs al – mukminun 6, maka Abdul Azis justru telah menjadikan agama Islam sebagai agama yang tidak menghargai kesucian perkawinan, karena membolehkan berhubungan seks dengan wanita bukan istri seperti dalam komunitas binatang dimana yang jantan boleh berhubungan seks dengan banyak betina yang disukainya, meskipun diembel embeli dengan kata kata dilakukan berdasar kesepakatan dan berhubungan seks ditempat tertutup. Jadi kalau ada akad atau transaksi, maka hubungan seks dapat dilakukan. Hubungan seks hanyalah sebuah transaksi atau suka sama suka. Jika suka sama suka dilakukan dengan transaksi maka pengertiannya persis protitusi yang dilegalkan.

Hubungan seks bebas, perselingkuhan dan perzinaan yang di halalkan melalui ijtihad fiqh. Dan Abdul Azis ingin mendedikasikan ijtihad fiqh – nya untuk berkontribusi mengatasi masalah hukum terkait hubungan seksual bebas, perselingkuhan atau perzinaan. Luar biasa.

Dengan definis Abdul Azis ini, tentu Qs Al – Isra’ 32 menjadi gugur atau tidak perlu ada.
Al – Isra’ 32 menyatakan : Dan janglah kamu mendekati zina. (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.

Terkait dengan ayat tersebut, banyak hadits yang menjelaskan perbuatan zina adalah perbuatan setan yang besar dosanya nomor dua setelah syirik. Oleh karena itu dalam Qs Al – Isra’ 32 tersebut, perbuatan mendekati zina saja tidak diperbolehkan, apalagi melakukannya.

Apa ada perbuatan zina atau selingkuh tanpa kesepakatan ?. Kalau tanpa kesepakatan atau akad transaksi, maka perbuatan itu adalah pemerkosaan.

Kembali, pada ayat Al – Mukminun 6 yang menjadi dasar Abdul Azis yang menafsirkan budak atau hamba sahaya pada ayat tersebut dalam konteks kekinian adalah partner seksual bukan istri. Ayat ini menyebut ” hamba sahaya yang (mereka) miliki”. Padhal konteks kepemilikan hamba sahaya dalam ayat ini adalah kepemilikan budak yang didapat dari perang (tempo dulu).

Tradisi perang kuno, yang dikalahkan akan diperbudak. Tradisi yang hidup hampir disemua belahan bumi, sejak masa sebelum Nabi Ibrahim. Tradisi perang yang kemudian memunculkan hukum Musa yang tercantum dalam Kitab Ulangan pasal 20 ayat 10 – 14, yang intinya adalah bagi yang kalah perang, semua lelaki dibunuh sedang anak anak dan wanita dijadikan budak, harta bendanya dirampas.

Hukum perang Musa juga pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad usai perang khandaq yang dilaksanakan didasarkan atas kesepakatan dengan suku yahudi bani quraidhah tentang hukuman yang diterapkan bagi pengkhianatan terhadap perjanjian Madinah, jika kota Madinah diperangi. Kaum lelakinya dihukum mati sedang anak anak dan perempuan menjadi budak. Namun oleh nabi Muhammad, para budak tersebut dapat dimerdekakan jika mau memeluk agama Islam atau ditebus dengan sejumlah harta yang disepakati.

Usai perang hunain, Nabi Muhammad bahkan menggunakan harta rampasan perang bagian Nabi untuk memerdekakan budak yang menjadi hak kaum muslim. Perbuatan Nabi tersebut kemudian ditanggapi oleh kaum muslim dengan tidak menerima haknya atas budak. Karena peristiwa tersebut kemudian turun wahyu Qs At – Taubah 60, yaitu : ” Sesungguhnya zakat zakat itu hanyalah untuk orang orang fakir, miskin, para pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak dan tawanan, untuk orang orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang orang yang sedang melakukan perjalanan, sebagai ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Jadi konteks al – Mukminun 6 adalah hamba sahaya atau budak yang dimiliki karena menang perang. Bukan kemudian dibelokkan dengan diterjemahkan menjadi wanita lain bukan istri yang menjadi partner sex berdasarkan kesepakatan atau transaksi.

Justru zakat kaum muslim bisa digunakan untuk memerdekakan budak sehingga si budak terhindar dari keterpaksaan melayani hasrat seksual kaum muslim. Bukan sebaliknya, dimana harta kaum muslim dapat digunakan untuk memperoleh kesepakatan atau digunakan untuk transaksi seksual.

Editor : Setyanegara 

 







Tags: , ,
banner 468x60