Arip Musthopa : Jika Saya Menjadi Mendikbud

Arip Musthopa : Jika Saya Menjadi Mendikbud
Arip Musthopa




Oleh Arip Musthopa
Pendiri Opinia

Tulisan ini adalah sebuah pengandaian. Bukan proposal, apalagi rayuan. Tulisan ini bisa dianggap sebuah curhat, keprihatinan, dan upaya mencari perhatian. Tapi bukan perhatian pada pribadi penulis, melainkan pada isi tulisan. Pada gagasan yang ada di dalamnya. Tulisan ini juga bukan dibuat oleh ahli atau praktisi pendidikan. Penulis menyadari bahwa dirinya underqualified untuk menjadi seorang mendikbud.

Saya memahami bahwa suatu bangsa akan maju apabila memiliki karakter unggul dan cara berpikir dan bertindak yang driven by science. Tugas mendikbud menanamkan dua hal tersebut pada bangsanya. Karakter yang dimaksud adalah akhlakul karimah, atau kepribadian berbasis nilai-nilai kebajikan universal seperti kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Sedangkan cara berpikir driven by science adalah cara berpikir rasional berdasarkan akal sehat, data, fakta, dan penalaran yang logis-ilmiah.

Untuk menanamkan hal fundamental tersebut, saya akan menjalankan sejumlah aksi nyata. Pertama, membersihkan jajaran dunia pendidikan dari tingkat pusat (kemendikbud) hingga sekolah dari budaya korupsi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini dunia pendidikan dihantui budaya korupsi yang akut mulai dari proses pengangkatan rektor hingga kepala sekolah, mulai dari proyek pengadaan hingga pelaksanaan program kerja, dsb.

Bagaimana caranya? Selain minta bantuan instansi penegak hukum, saya akan buat mekanisme whistleblower di internal kemendikbud dan dinas-dinas pendidikan. Shock therapy secara tegas akan dilakukan terhadap mereka yang tidak mau berubah. Rekrutmen pegawai kemendikbud, dinas pendidikan, guru/dosen harus bebas suap.

Arip Musthopa




Kedua, peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Seluruh guru honorer diangkat menjadi guru tetap. Dana sertifikasi guru akan ditingkatkan berdasarkan lamanya dia mengajar sejak lulus sertifikasi. Setiap lima tahun pengabdian tanpa pelanggaran kode etik, dana sertifikasi seorang guru/dosen dinaikkan dua kali lipat. Peningkatan apresiasi ekonomi ini disertai tindakan tegas terhadap guru yang melanggar kode etik, dari sanksi pemecatan hingga pidana.

Ketiga, kesenjangan jumlah kelas SD-SMP-SLTA akan dikurangi sehingga jumlah kelasnya sama. Bagaimana mungkin wajib belajar dua belas tahun dapat dicapai apabila jumlah kelas SD-SMP-SLTA tidak sama? Paling tidak, jika jumlah kelas SD itu 100, maka jumlah kelas SMP adalah 95 dan SLTA adalah 90. Ini tentu membutuhkan investasi yang besar karena juga harus diikuti oleh penyediaan guru dan sarana belajar lainnya.

Keempat, masalah kendala ekonomi untuk melanjutkan pendidikan akan diatasi dengan peningkatan jumlah kuota beasiswa dan menyediakan fasilitas pinjaman untuk pelajar dan mahasiswa (student loan). Kemendikbud akan menempatkan deposito di bank penyalur. Deposito tersebut menjadi jaminan student loan, sehingga pelajar atau mahasiswa yang mengajukan pinjaman hanya dikenakan bunga 1,5 % per tahun. Bunga beserta pokoknya dikembalikan setelah siswa/mahasiswa selesai menempuh pendidikan dan memiliki income. Student loan hanya untuk living cost bagi pelajar SMP dan SLTA (karena biaya sekolah SD-SLTA ditanggung negara); dan living cost beserta biaya studi untuk mahasiswa.

Kelima, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kebajikan universal seperti kejujuran, keadilan, kebenaran, dan sebagainya akan dilakukan secara massif di seluruh aspek pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Kantin sekolah tanpa kasir akan menjadi standar di semua sekolah dan perguruan tinggi. Sanksi tidak lulus pelajaran atau mata kuliah bagi pelajar dan mahasiswa yang nyontek atau plagiat tegas diberlakukan. Kegiatan ekstra kurikuler juga akan ditekankan sebagai kegiatan strategis pembangunan karakter dan keterampilan, dan lain sebagainya.

Keenam, kesenjangan kualitas pendidikan antar sekolah/perguruan tinggi dan antara sekolah/perguruan tinggi swasta dengan negeri akan diatasi dengan cara intensitas experience sharing antar guru/dosen dan antar kepala sekolah/rektor, peningkatan kompetensi guru/dosen dan kepala sekolah secara berkala, dan mengurangi kesenjangan sarana dan prasarana antar sekolah.

Arip Musthopa

Ketujuh, kemendikbud akan bekerjasama dengan semua media cetak dan online yang mainstream agar menambah dua kolom baru khusus untuk artikel civitas academica setiap hari. Diharapkan tulisan-tulisan tersebut menjadi referensi publik, alih-alih trending topic media sosial yang saat ini banyak dirujuk. Anggaran penelitian dan jurnal ilmiah akan ditingkatkan berkali lipat. Jumlah jurnal ilmiah akan diperbanyak. Guru dan dosen yang tulisannya dimuat media massa dan jurnal akan mendapatkan apresiasi poin penilaian dalam formula baru dan apresiasi finansial dari kemendikbud. Hal ini penting dilakukan agar suplai perspektif ilmiah kepada publik mencapai jumlah yang memadai untuk membentuk masyarakat yang driven by science.

Kedelapan, ada pertemuan rutin tahunan atau per semester antara dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi dan SLTA, dengan industri. Pertemuan ini untuk merangsang relevansi dunia pendidikan dengan industri. Serta diharapkan secara instingtif mendorong investor dan pelaku industri agar berinvestasi kepada dunia pendidikan dan temuan-temuannya.

Kesembilan, Balitbang Kemendikbud akan difokuskan pada dua fungsi : (1) menjadi pemantau dan pemandu minat-bakat anak bangsa. Dalam fungsi ini, Balitbang akan memetakan potensi minat dan bakat anak bangsa secara regional dan nasional, dan memberikan perhatian khusus pada bakat-bakat menonjol di seluruh tanah air. Dia akan bekerja untuk memastikan bakat-bakat menonjol tidak disia-siakan oleh negara.

Oleh karena itu, Balitbang Kemendikbud akan mewajibkan tes minat-bakat dan tes IQ pada siswa di semua sekolah SD, SMP, dan SLTA. Hal ini juga penting sebagai referensi bagi orang tua dalam mengarahkan masa depan anaknya.

(2) Inovasi pendidikan, yakni memantau, mengkaji, dan mengujicobakan inovasi baru di dunia pendidikan dan proses belajar-mengajar sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Unit ini akan berada di posisi terdepan untuk mengkaji perubahan dan perbaikan kurikulum, perkenalan metode dan teknologi baru, dan strategi mendasar yang harus dilakukan demi peningkatan kualitas pendidikan dan SDM bangsa.

Kesepuluh, untuk menjaga gizi siswa SD dan gurunya, setiap hari selasa, rabu, dan jumat, negara memfasilitasi makan siang dengan menu empat sehat lima sempurna di SD-SD daerah kumuh perkotaan, desa-desa, dan kawasan tertinggal.

Itulah pilar kebijakan dan langkah nyata yang akan saya lakukan apabila menjadi mendikbud. Seiring dinamika permasalahan yang dihadapi, metode, teknologi, dan anggaran yang tersedia; kebijakan-kebijakan di atas akan dikembangkan dan disesuaikan. Semuanya untuk mewujudkan dua tugas fundamental dunia pendidikan pada bangsa ini : pembangunan karakter dan penanaman cara berpikir dan bertindak yang driven by science.

Wallahu a’lam bishshawab.

Jakarta, 31/7-1/8 2020.







banner 468x60