Shell Hengkang Dari Blok Abadi Masela, Ridwan Hisjam : Buka Peluang Perusahaan Nasional

Shell Hengkang Dari Blok Abadi Masela, Ridwan Hisjam : Buka Peluang Perusahaan Nasional
Anggota Komisi VII DPR RI Ridwan Hisjam




ZONASATUNEWS.COM–Hengkangnya Shell dari proyek Abadi Masela menjadi kabar buruk ditengah upaya Pemerintah menggenjot penyelesaian proyek tersebut sebagai proyek migas terbesar sejak Indonesia merdeka. Namun, hal ini menjadi peluang pula bagi badan usaha nasional baik BUMN maupun swasta masuk dalam proyek Abadi Masela yang memiliki cadangan terbukti 18,5 TCF gas. Saat beroperasi nanti Blok Masela akan menghasilkan gross revenue sekitar US$ 118 milyar atau setara dengan Rp 1.700 triliun.sampai tahun 2050. Jika dirasakan berat masuk sendiri, maka Pertamina dapat membentuk konsorisum dan menggandeng swasta nasional seperti Medco, Energi Mega Persada dan lainnya.

Ridwan Hisjam anggota Komisi VII DPR Fraksi Golkar Daerah Pemilihan Jawa Timur (Jatim) V yang melingkupi Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu, menyampaikan “Hengkangnya Shell dari proyek abadi Masela adalah hal yang biasa dalam sebuah korporasi. Sebagai international oil company (IOC) dengan portofolio investasi di berbagai negara, maka ditengah harga minyak dunia yang masih rendah dan wabah Covid-19 yang memukul sektor ekonomi, Shell melakukan penataan ulang investasi dan akan fokus pada proyek-proyek yang segera menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek”.

Berdasarkan data dari Rystad Energy Research and Analysis yang dipublikasikan pada April 2020, harga minyak dunia sampai tahun 2021 tidak akan melebihi US$ 50 per barrel. Akibatnya perusahaan minyak kelas dunia mengurangi investasi dan menunda penyelesaian proyek hulu migas dan bahkan menghentikannya. Untuk Shell, melakukan pemotongan proyek di 2020 yang telah berjalan dari awalnya US$ 18 milyar menjadi US$ 15 milyar. Proyek besar Shell yang ditunda antara lain Whale USA senilai US$ 4,5 miliar dan Crux Australia senilai US$ 2,0 miliar.

 

Ridwan Hisjam, Anggota Komisi VII DPR RI




“Jadi, hengkangya Shell dari proyek Masela lebih pada pertimbangan perusahaan dalam mengatur dan menyeimbangkan portofolio ditengah harga minyak dunia yang turun karena permintaan dunia juga turun”, kata Ridwan.

“POD Revisi Masela sudah disetujui di tahun 2019, lokasi lahan dan segala perijinan juga sudah diselesaikan, bahkan Pemerintah Provinsi Maluku memberikan dukungan yang luar biasa pada proyek ini. Maka dapat dikatakan hambatan birokrasi dan perijinan sudah tidak ada. Saya optimis akan ada investor baru yang akan masuk atau mungkin malah INPEX akan 100% mengambil alih dengan membeli saham Shell”, kata Ridwan.

“Dalam konteks membangun ketahanan energi, maka saya melihat ini peluang bagi Pertamina dan perusahaan swasta lainnya untuk masuk ke proyek Abadi Masela. Dengan nilai proyek sekitar US$ 19 milyar, dengan saham 35% akan membutuhkan sekitar US$ 6 miliar. Salah satu cara adalah membuat konsorsium nasional dengan Pertamina menjadi pemimpin konsorsium. Saya rasa Visi Pemerintah untuk merealisasikan produksi 1 juta BOPD akan banyak dikontribusikan dari proyek Masela. Karena itu, proyek ini penting dan butuh dukungan yang serius dari Pemerinta”, ujar Ridwan.

“Saya rasa inilah kesempatan bagi Pertamina untuk membuktikan diri sebagai perusahaan berskala global berani masuk ke proyek Masela. SDM Pertamina akan dipacu untuk belajar teknologi yang baru, dan masa depan Indonesia untuk hulu migas kedepannya adalah di laut dalam. Jadi Proyek Masela adalah strategis bagi membangun daya saing, sangat berbeda dibandingkan dengan Pertamina yang mengelola blok terminasi. Pemerintah harus mendorong Pertamina dan swasta nasional lainnya membentuk konsorsium dan masuk ke proyek Masela”, ungkap Ridwan.

Sebelum menutup pembicaraan, Ridwan berpesan bahwa, “Saat ini kita hanya memiliki cadangan operasional yang dimiliki oleh BUMN energi yakni Pertamina sebesar 18 (delapan belas) hari operasional. Seharusnya negara memiliki cadangan strategis energi nasional minimal 6 (enam) bulan atau 180 (seratus delapan puluh) hari. Cadangan strategis ini merupakan tanggung jawab negara, yang harusnya teralokasi dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional yang tentu akan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu, saya senantiasa mengingatkan agar segera dilakukan upaya penyediaan cadangan strategis energi nasional”.

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: , , ,
banner 468x60