Catatan Dari Sidang MK(3): Rela Jual Kerbau Untuk Beli Tiket Ke Jakarta

Catatan Dari Sidang MK(3): Rela Jual Kerbau Untuk Beli Tiket Ke Jakarta

Oleh : Budi Puryanto, Pemimpin Redaksi zonasatunews.com 

Bang Abdullah Hehamuhua memberikan catatan atas artikel saya sebelumnya (Catatan Dari Sidang MK(2): Abdullah Hehamuhua, Keteguhan Moral Dan Simbul Perjuangan Tanpa Henti)

“Masya Allah, mas Budi, luar biasa artikelnya. Cuma ada dua catatan saya. Pertama, Rasulullah saw melarang kita memuji seseorang yang berlebihan. Saya khawatir, pujian yang berlebihan itu memengaruhi keikhlasan saya dan kawan-kawan,”katanya.

“Bayangkan, ada peserta dari NTB yang bersedia menjual kerbaunya hanya untuk membeli tiket pesawat guna menghadiri aksi damai di MK tersebut,” lanjutnya.

“Demi Allah, saya tidak dapat menahan air mata ketika menyaksikan ada ibu-ibu yang menangis, bahkan histeris ketika saya umumkan agar semua peserta aksi damai bubar dan pulang dengan tertib ke rumah masing-masing,” kata Ketua Umum PB HMI 1979-1981 itu.

Menurutnya, mereka tidak bersedia pulang karena tahu MK akan menolak tuntutan lawyer 02.

Kedua, perdebatan azas tunggal tidak terjadi dalam kongres HMI di Padang. Pasalnya, dia tidak hadir saat itu karena sudah berada dalam status buronan Jenderal Beni Murdani yang telah mengeluarkan perintah tembak di tempat karena dia menolak asas tunggal.

“Mungkin perdebatan itu terjadi di forum lain, apakah di kongres medan (1983) atau di forum lain,” jelasnya.

Dalam artikel sebelumnya saya tulis perdebatan keras antara Bang Abdullah Hehamuhua dengan Mas Agus Mualif terkait rezim saat itu yang memaksa menerapkan azas tunggal di HMI, dan juga seluruh ormas di Indonesia.

Meskipun kami berdebat keras di forum konggres, terapi tetap tidur satu kamar,” kata Mas Agus Mualif.

Kembali ke sidang MK. Puncak harapan rakyat akan munculnya keadilan dari ruang MK ternyata tidak terjadi. Kekecewaan dan kepedihan dirasakan oleh jutaan rakyat Indonesia. Bukan saja yang hadir di gedung MK, tetapi rasa sesak dada itu menyusup ke ulu hati, disegenap penjuru negeri.

Seorang guru honorer di Ngawi-Jawa Timur, mengaku lemas mendengar putusan itu.Harapannya agar bisa diangkat menjadi PNS secara bertahap, seperti dijanjikan Sandiaga Uno, lenyap seketika.

Barisan guru honorer ini salah satu kelompok anak bangsa yang diterpa ketidakadilan. Mereka telah mengabdi bertahun-tahun, ada yang puluhan tahun, tetapi nasib mereka tak kunjung berubah. Hanya pasrah mendapatkan honor dari yayasan sekolahnya yang jumlahnya tidak memadai.

Tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Putusan 9 hakim MK itu tidak boleh menghancurkan semangat rakyat.Republik ini tegak bukan digantungkan kepada sekelompok elite bangsa yang hanya peduli untuk bertahan berkuasa. Sejauh semangat dan keikhlasan rakyat untuk berjuang masih menggelora, bangsa ini masih punya masa depan. (end) 

BACA JUGA :

Catatan Dari Sidang MK(1): 3 Trisula Demokrasi Dari ITS

 

 

loading…

Tags: ,
banner 468x60