Dan Akhirnya Terdakwa Itu Bernama Sengon

Dan Akhirnya Terdakwa Itu Bernama Sengon
Foto : ilustrasi, bukan kejadian sesungguhnya karena penyelidikan masih belum selesai

Penulis : Dicky Edwin Hindarto

(Pengamat kelistrikan dan ketahanan energi)

Nama sengon atau kerennya Albizia Chinensis tiba-tiba saja populer hari ini. Tidak sebagai tanaman peneduh, tidak sebagai tanaman untuk bahan bangunan, tapi kali ini sebagai terdakwa.

Konon berdasar dari berbagai sumber berita, pohon sengon ini adalah penyebab dari padamnya listrik atau black out (yang katanya) salah satu yang terparah di Indonesia.

Sengon, kalau penyelidikan akhirnya membuktikannnya sangat boleh jadi bisa menjadi terdakwa tunggal untuk berbagai macam tuduhan, mulai dari penyebab utama listrik padam, penyebab matinya internet, pembuat gara-gara MRT mogok, penghancur makanan beku di kulkas, pengganggu tidur siang, membuat lampu lalu lintas mati dan menyebabkan kemacetan luar biasa, sampai penyebab tidak ratanya alis para ibu-ibu.

Dan bisa dibayangkan, dengan tuduhan berlapis seperti itu, berapa ratus tahun si sengon harus dipenjara…..

Tapi apakah semuanya karena sengon? Sangat memprihatinkan kalau ternyata ini benar. Satu sistem kelistrikan interkoneksi yang menghubungkan berbagai jenis pembangkit dengan sistem canggih, diatur bebannya dengan menggunakan sistem SCADA, di sebuah negara besar yang akan segera menjadi negara maju 4.0, rontok semuanya gara-gara dahan sengon yang bergoyang-goyang sexy ditiup angin.

Sangat tragis malah, kalau hanya satu titik gangguan menyebabkan lebih dari separoh jaringan tewas. Tapi itulah kenyataannya.

Bisa saja memang PLN berkilah bahwa goyangan sengon itu tepat di titik kelemahan, achilles tendon, dari sistem interkoneksi jamali. Atau goyangan sengon itu memicu domino effect dari seluruh bangunan kelistrikan. Tapi apa iya?

Sesungguhnya ini adalah saat yang paling tepat untuk bukan saja hanya mencari penyebab, tetapi juga melakukan evaluasi ketahanan dan efektivitas seluruh jaringan. Sistem interkoneksi Jamali (Jawa-Madura-Bali) harus dievaluasi dan selanjutnya dibuat infrastruktur yang lebih kuat, aman, hemat, efektif, dan tentu saja juga lebih bersih lingkungan.

Dua tulang punggung utama sistem Jamali di sebelah selatan dan utara dengan pusat pembagi beban di Gandul Cinere harus ditata ulang dan direformasi. Gangguan di satu titik, adanya konslet, harus bisa dilokalisir di titik terjadinya peristiwa, sehingga gangguan tidak meluas.

Artinya PLN juga harus bisa memodernisasi sistem jaringannya. Harus ada pembagian wilayah yang bukan lagi hanya berdasar barat dan timur, tetapi dalam satuan yang lebih kecil lagi.

Sistem island yang merupakan bagian sistem interkoneksi harus diperiksa kembali dan selalu dilakukan pengujian pa periode tertentu. Artinya PLN bisa melokalisir gangguan pada sistem island tersebut sebagai satuan yang lebih kecil.

Ibarat api, apabila terjadi kebakaran hanya dilokalisir di satu area saja.

Peristiwa black out kemarin juga memberi pelajaran bahwa bukan hanya jumlah dan kapasitas pembangkitan saja yang harus dikejar, tetapi juga ketahanan dan ketangguhan infrastruktur transmisi dan distribusi. Kalau hanya membangun pembangkit saja, apalagi pembangkit berbahan bakar fosil, sekarang ini sudah lebih dari cukup.

Daya mampu pembangkitan bahkan sudah lebih dari 30% lebih tinggi dari permintaan tertinggi sistem Jamali, bahkan konon sudah lebih tinggi lagi. Artinya sudah sangat aman.

Dan karena kebanyakan juga pembangkit tenaga fosil, sistem Jamali selain sangat aman juga sangat beremisi.

Justru infrastruktur kelistrikannyalah yang harus diperbaiki. Sistem transmisi 500 KV sampai 20 KV, gardu-gardu induk, sampai ke tiang listrik distribusi. Mulai dari keandalan sistem, bahan, sampai losses harus dievaluasi dan diperbaiki.

Sehingga di masa datang, walau pun ada gangguan sengon dan teman-temannya seperti cemara, beringin, atau apa pun, tidak akan sampai fatal akibatnya.

Pakistan pernah mengalami black out berhari-hari hampir di seluruh negeri, dan ini akibat teroris yang menyabot sistem transmisinya. Di dalam skala yang hampir sama, ternyata teroris di negara kita namanya sengon (sekali lagi dengan asumsi berita-berita tersebut benar).

Dan ini baru sengon yang berulah, kita sudah kalah. Belum lagi kalau….. Ah sudahlah….

Semoga si sengon akhirnya dapat amnesti.

Jabal Golfie, 5 Agustus 2019

#SaatTVTidakMenyala
#SaatTakAdaWifi

Editor : Setyanegara 

 

 

 

 

Tags: , ,
banner 468x60