Dicky Edwin Hindarto: (Hampir) Robohnya Industri Kami

Dicky Edwin Hindarto: (Hampir) Robohnya Industri Kami
Dicky Edwin Hindarto di acara Bangkok Pacific Climate Week, 4 September 2019




Oleh : Dicky Edwin Hindarto 

Salah satu sektor yang menjadi pekerjaan rumah raksasa dari kabinet mendatang adalah sektor industri. Sektor ini boleh dikata dalam tahun-tahun terakhir ini seakan terabaikan karena hiruk pikuk dan meriahnya industri kreatif dan online yang menyita panggung ekonomi dan media nasional.

Industri kreatif ini memang seperti primadona karena menyedot banyak tenaga kerja dan menyetorkan pajak ke negara. Tapi yang dilupakan adalah justru industri dasarnya. Industri yang dulu dan bahkan sampai sekarang memperkerjakan ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia.

Ambil saja contohnya tekstil dan produk tekstil. Industri tekstil menjadi sorotan karena Duniatex, produsen tekstil terbesar yang menguasai 20% pangsa pasar, sudah dua kali gagal bayar kreditnya dan siap-siap bangkrut. Sementara puluhan industri tekstil lain sudah gulung tikar dan akan disusul oleh banyak lagi kemudian.

Tekstil bukan satu-satunya. Industri semen dan baja pun sekarang ini mengalami masa-masa suram. Kalau tidak segera ada kebijakan yang tepat untuk dua industri ini, saat-saat kerobohan akan tiba.

Memang setiap industri berbeda kasus dan hambatannya sehingga mengalami kesulitan, tapi sebenarnya ada benang merah utamanya, yaitu ketidakmampuan industri untuk menghadapi serbuan produk impor dari negara lain.

Produk impor ini, sejalan dengan keterbukaan pasar, seperti kita lihat sendiri memang membanjiri pasar. Industri sendiri menghadapi produk-produk impor ini, yang sebagian besar dari China, kalah dalam hal harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih bagus.




Industri semen mempunyai cerita yang agak berbeda. Maraknya impor semen setengah jadi atau klinker dan turunnya perekonomian nasional menyebabkan terjadinya persaingan hebat bahkan predatory pricing di antara produsen semen dalam negeri. Walau pun marak pembangunan infrastruktur, tapi karena perekonomian melambat maka permintaan domestik turun. Sementara beberapa produsen baru yang mengimpor klinker menjual semen dengan harga yang jauh lebih murah dari produsen lama.

Kesamaan masalah dari industri semen, baja, dan tekstil ini adalah lebih tingginya harga yang diakibatkan oleh tingginya biaya produksi dibandingkan dengan produk impor. Salah satu komponen utamanya adalah biaya energi.

Sepengalaman saya yang telah melakukan berbagai upaya implementasi efisiensi energi di industri tekstil dan semen, maupun kajian di industri baja, industri-industri di Indonesia ini memang cenderung boros energi. Dan untuk ketiga jenis industri lahap energi ini, boros energi artinya tidak bisa bersaing menghadapi produk impor.

Ditambah lagi peralatan industri yang dimiliki industri kita adalah peralatan lama. Saya bahkan masih bisa menemukan mesin yang seumur almarhum ayah saya di industri tekstil kita.

Seberapa boros industri kita? Kami bahkan terbukti berhasil meningkatkan efisiensi energi sampai 25-30% dari kondisi awal dengan melakukan intervensi teknologi baru. Peningkatan efisiensi energi ini bahkan bisa lebih tinggi lagi kalau seluruh industri melakukan implementasi manajemen energi ke seluruh pabrik.

Lalu kesalahannya di mana kok sampai mereka tidak melakukan efisiensi energi? Ada banyak aspek sebenarnya yang menyebabkan. Ketertinggalan di bidang teknologi, kurangnya pendanaan, kurangnya pengetahuan industri untuk melakukan, sampai kurangnya dukungan pemerintah.

Untuk yang terakhir ini, bertahun-tahun industri-industri kita bertarung sendiri dengan produk impor yang didukung dan diproteksi oleh pemerintahnya masing-masing. Ya terang saja kalah.

Dukungan pemerintah untuk peremajaan mesin dan peralatan setahu saya terakhir dilakukan pada sekitar tahun 2013 untuk industri tekstil, setelah itu tidak ada lagi. Hanya energi audit gratis saja, yang bahkan tahun ini dihentikan, yang dilakukan. Lain tidak.

Lalu bagaimana selanjutnya?

Menurut analisis saya akan dibutuhkan kebijakan radikal guna menyelamatkan dunia industri kita. Pemerintah tidak bisa lagi hanya menjadi regulator, tapi harus menyediakan proteksi, membuat skema pendanaan berbunga rendah atau malah tanpa bunga untuk restrukturisasi industri, dan membuat berbagai terobosan untuk implementasi efisiensi energi.

Tidak mudah dan merupakan suatu pekerjaan raksasa untuk memperbaiki ketelanjuran yang parah ini. Kalau masih ada pembiaran, maka keadaan industri akan semakin parah dan benar-benar roboh.

Industri tidak hanya industri kreatif yang perlu didukung, tapi justru industri dasar seperti ini yang perlu diselamatkan!

Kalau tidak, pasar online kita hanya akan berjualan barang impor, antrian calon pengemudi online akan gila-gilaan karena banyaknya PHK, sementara yang akan diantar ke tempat kerja akan berkurang drastis.

Kita hanya akan jadi bangsa importir, dan selanjutnya roboh serta binasa bersama-sama…..

Dicky Edwin Hindarto, penikmat isu perubahan iklim dan energi

Jabal Golfie, 20 September 2019, saat keresahan memuncak







Tags: , ,
banner 468x60