Fakta-fakta pasien meninggal suspect corona di Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang

Fakta-fakta pasien meninggal suspect corona di Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang
Foto ilustrasi. Suasana simulasi penanganan virus corona digelar di Rumah Sakit Kariadi, Semarang beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Damar)




ZONASATUNEWS.COM–Meninggalnya seorang pasien terduga corona di Rumah Sakit Dr Kariadi Semarang masih misterius. Pasalnya, petugas medis disana belum menyatakan penyebab meninggalnya pasien tersebut. Dia hanya menyebut bukan disebabkan oleh Covid-19 (penyakit disebaban oleh virus corona).Lalu disebabkan oleh penyakit apa? 

Inilah beberapa fakta terkait pasien tersebut :

1. Pasien yang tidak disebut identitasnya itu berusia 37 tahun, tinggal di Semarang.Mertuanya orang Pati.

2. Berprofesi sebagai kapten kapal

3. Sebelumnya melakukan perjalanan dari Spanyol dan Dubai.

4. Sempat dirawat di kapal hingga ke Dubai. Karena mengalami masalah dalam pernafasan, akhirnya dia dipulangkan ke Indonesia menggunakan pesawat.

5.Masuk di Indonesia pada 12 Febuari 2020. Kemudian pada 17 Februari pasien tersebut dirawat di salah satu rumah sakit daerah di Jawa Tengah. Tim medis tidak menyebutkan rumah sakit mana dia dirawat saat itu. Juga tidak ada keterangan sakit apa si pasien itu, apakah sudah ada gejala Covid-19, atau gejala panyakit lain.

6. Akhirnya dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang pada 19 Febuari 2020. Tidak ada keterangan resmi alasan dia dirujuk. Tetapi biasanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas atau tenaga medis yang menangani. 

7.Saat itu ia datang ke RSUP Kariadi dengan keluhan sesak nafas dan demam. Ini gejala sakit yang mirip gejala inveksi corona.

8. Dirawat diruang isolasi. Tim medis mungkin menduga, atau khawatir pasien terkena inveksi corona, karena itu dimasukkan ruang isolasi.

9.Lima hari diruang isolasi akhirnya pada Minggu (23/2) dia meninggal.

10.Saat memandikan jenazah pasien, petugas memakai alat pelindung diri, masker, kacamata, topi sesuai prosedur. Area jalan ke kamar mayat juga kita bebaskan. Lalu, jenazahnya diberi penutup terbungkus plastik untuk memastikan agar tidak menular ke keluarga

11. Pihak keluarga dilarang membuka peti jenasah, dilarang memandikan. Diminta langsung menguburkan.

12.Hasil penelitian laboratorium Kementerian Kesehatan, pasien tersebut dinyatakan meninggal bukan karena virus corona.

13. Hasil tes diketahui setelah 2 hari pasien meninggal.




Benarkah pasien terkena virus corona?

1. Gejalan sesak nafas berat (pneumonia) mirip dengan pasien yang terinveksi virus corona. Kematian pasien Corona disebabkan pneumonia, atau sesak nafas akut, karena virus menyerang paru-paru.

2. Riwayat kontak pasien sebelumnya yang berkunjung ke Spanyol dan Dubai, karena dia seorang kapten kapal, bisa juga terjadi kontak dengan orang lain dalam kapal, memungkinkan dia tertular virus Corona.

3. Diduga dia telah terinveksi virus corona di kapal (perjalanan dari Spanyol ke Dubai), dia sudah sakit dan dirawat dalam kapal menuju Dubai, sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

4. Sejak masuk RS Dr Kariadi, sebelumnya di RS Daerah (tidak disebutkan dimana), pasien langsung masuk ruang isolasi. Tim medis berhati-hati, karena dari gejalanya mirip pasien terinfeksi corona. Diberlakukan standart operasi penanganan pasien suspect corona.

5. Saat meninggal, penanganan korban mirip pasien corona. Jenasah dibungkas plastik. Keluarga dilarang membuka, langsung dikuburkan. Khawatir menularkan virus.

Rmah Sakit Dr Kariadi Semarang

Hasil tes negatif

Meskipun fakta-fakta seperti tergambar diatas mengarah kepada dugaan kuat pasien terinveksi virus corona, tetapi kita tetap harus berpegangan kepada sumber resmi pemerintah.

Tim medis mengatakan hasil tes negatif corona. Pasien meninggal bukan karena covid19. Pasien meninggal karena penyakit yang dirahasiakan.Pasien meninggal oleh penyakit yang tidak diketahui atau mungkin diketahui tetapi tidak diumumkan. 

Petugas dengan pakaian pelindung menyemprotkan disinfektan di kawasan kota Daegu, Korsel (Kim Jun-beom/Yonhap via AP)

Waspada tinggi

Untuk kewaspadaan sebaiknya dilakukan langkah-langkah pencegahan. Virus corona memiliki masa inkubasi panjang (24 hari). Dalam masa inkubasi, beberapa fakta menunjukkan, bahwa virus ini tidak menunjukkan gejala apapun terhadap pasien. 

Kontak-kontak yang dilakukan oleh si pasien diatas sebaiknya dipantau. Tanggal 12-17 Februari 2020, dia sudah berada di Indonesia. Mungkin sudah ada di rumah keluarganya. Anggota keluarganya sebaiknya diperiksa kesehatannya, untuk memastikan dia tidak tertular.

lustrasi pasien terinfeksi virus corona di China (Chinatopix via AP)

Tanggal 17-19 Februari 2020, pasien masuk rumah sakit daerah. Selama berada dirumah sakit daerah itu, bagaimana dia ditangani. Apakah sudah dimasukkan ruang isolasi atau belum. Apakah sudah diterapkan standar operasi untuk virus corona atau belum. Tenaga medis dan keluarga yang menjaga harus dipantau dan diperiksa kesehatannya.

Ini semua perlu dilakukan untuk lebih waspada. Mencegah kemungkinan penyebaran virus corona lebih lanjut.

Penulis : Budi Puryanto

Editor : Setyanegara







Tags: , ,
banner 468x60