Imam Nahrawi Divonis Salah, Hendri Asfan : KPK Perlu Dalami Dugaan Keterlibatan Ahsanul Qosasih Dan Adi Toegarisman

Imam Nahrawi Divonis Salah, Hendri Asfan : KPK Perlu Dalami Dugaan Keterlibatan Ahsanul Qosasih Dan Adi Toegarisman
Imam Nahrawi




ZONASATUNEWS.COM, JAKARTA–Keterlibatan eks Jampidsus Kejagung Adi Toegarisman dan anggota BPK Achsanul Qosasi kian terlihat setelah mantan Menpora Imam Nahrawi turut serta bersama Asisten pribadinya Miftahul Ulum diputus bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana putusan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Dalam putusan tersebut, Miftahul Ulum yang telah mengatur semuanya dalam perkara korupsi dana hibah KONI yang merugikan negara milyaran rupiah.

Pegiat Antikorupsi yang tergabung dalam Forum Masyarakat Mandiri Hendri Asfan mengatakan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus mengusut keterlibatan Adi Toegarisman dan Achsanul Qosasi dalam kasus dana hibah KONI.

Hal tersebut berdasarkan saran dan masukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK.

Lebih lanjut Hendri menilai kasus suap KONI masih menjadi teka-teki yang belum terungkap sepenuhnya. Pasalnya, Miftahul Ulum sebagai mantan Aspri Imam Nahrawi telah menyebutkan sejumlah nama-nama yang diduga menerima suap agar tidak memproses kasusnya ketika ditangani oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam hal ini Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus).

BACA JUGA :

Vonis bersalah Imam Nahrawi dan Miftahul Ulum hanya sebagian kecil dari banyak nama yang terduga kuat ikut kecipratan uang haram tersebut.

Namun sampai saat ini belum tersentuh sama sekali, dan itu menunjukkan ketidakseriusan KPK dalam menindaklanjuti nama-nama yang terlibat sesuai dengan fakta persidangan dan keterangan para saksi.

“Kasus ini masih menjadi misteri dan menyisahkan banyak tanya. Sebab banyak nama yang terduga kuat terlibat namun belum tersentuh. KPK tidak serius dan lalai dengan fakta persidangan, padahal nama-nama yang muncul di persidangan seperti Adi Toegarisman dan Achsanul Qosasi serta Taufik Hidayat itu sesuai dengan keterangan para saksi dan terdakwa itu harus segera ditindaklanjuti,” kata Hendri dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Menurut Hendri, kemunculan nama Adi Toegarisman dan Ahsanul Qosasih dalam kesaksian Miftahul Ulum dan Taufik Hidayat dalam pledoi Imam Nahrawi seharusnya menjadi atensi khusus KPK untuk mencari keterangan lebih jauh, sehingga siapa saja yang terlibat bisa segera terungkap.

“KPK harus segera memanggil Adi Toegarisman dan Ahsanul Qosasih yang disebut oleh Miftahul Ulum menerima uang, dan Taufik Hidayat dalam pledoi Imam Nahrawi yang disebut mengetahui banyak hal terkait kasus ini sekaligus juga ikut menikmati uang haram itu,” ucapnya.

Selain itu, putusan hakim memvonis 7 tahuh penjara Imam Nahrawi sangat disesalkan karena terlalu ringan apabila dibandingkan dengan 10 tahun tuntutan jaksa KPK.

“Putusan hakim itu tidak bisa diganggu gugat dan membuktikan secara sah dan meyakinkan bahwa Imam Nahrawi bersalah. Namun 7 tahun penjara sebenarnya terlalu ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa KPK yang menuntut 10 tahun. ” jelasnya.

Ia juga menambahkan, hakim telah mengabaikan peran Imam Nahrawi dalam kasus ini sebagai pemeran utama apalagi kedudukannya sebagai pejabat nomor satu di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

“Imam Nahrawi adalah aktor utama karena dia yang punya kebijakan di Kemenpora. Hakim telah mengabaikan status Imam Nahrawi ini dan hakim juga tahu kalau Imam Nahrawi selalu berusaha berdrama untuk tidak mengakui perbuatannya,” tuturnya.

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: ,
banner 468x60