Indonesia Darurat Dua Pandemi: Corona Dan Buzzer Istana

Indonesia Darurat Dua Pandemi: Corona Dan Buzzer Istana




Penulis : Ahmad Bustami, Netizen

Adalah sebuah kenyataan jika penanganan Covid-19 di Indonesia disebut yang terburuk di Asia Tenggara boleh jadi di dunia. Ini semua diakibatkan oleh kegagalan pemerintahan Presiden Jokowi yang amat sangat gagap menghadapi wabah ini sejak awal.

Langkah perdana pemerintah malah menggelontorkan anggaran Rp 72 Miliar untuk membayar influencer alias Buzzer untuk memveto informasi tentang Corona yang tengah merebak di Wuhan dan mulai memasuki Korea Selatan. Dengan dalih agar publik dapat informasi yang sejuk agar ekonomi khususnya sektor wisata justeru mendapat cipratan wisatawan mancanegara.

Bagai sinterklas Jokowi membagi insentif bagi pariwisata untuk menarik turis, agar masuk ke Indonesia ketika negara-negara Asia Timur mulai menutup akses wisatawan. Kebijakan lucu dan unik.

“Untuk destinasi wisata ke mana, termasuk di dalamnya juga diskon untuk wisatawan domestik atau wisnus yang bisa nanti kita berikan juga minus 30 persen dan mungkin bisa saja untuk travel bironya diberi diskon yang lebih misalnya 50 persen, sehingga betul-betul menggairahkan dunia wisata kita karena memang sekarang baru ada masalah karena virus Corona,” kata Jokowi di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2020).

Para menterinya juga hanya menjadikan Corona bahan guyon.

Menkopolhukam Mahfud MD misalnya menyebut perizinan di Indonesia berbelit sehingga virus Corona takut masuk.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan malah akan mendatangkan kembali TKA China ke Indonesia. Dia juga membela para TKA ilegal asal China masuk ke Kendari.

Lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi -menteri Indonesia pertama yang positif Corona- pun sebelumnya membuat guyon “Kita kebal Corona karena doyan makan nasi kucing.”

Sekarang sudah lewat tiga bulan sejak Presiden mengumumkan Indonesia telah terjangkit Corona pada 2 maret 2020. Tapi Indonesia termasuk yang terburuk di dunia dan kawasan dalam menghadapi wabah Covid-19.

BACA JUGA :

Indikasinya adalah tingkat kematian yang berada di kisaran 7 persen, tertinggi di antara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, yang sebagian besar sekitar 0-3 persen.

Parahnya, bukan hanya akibat gaya kepemimpinan Presiden Jokowi yang lambat merespons dan kurangnya pemikiran strategis, Kegagalan Indonesia juga disebabkan keengganan Jokowi untuk memberikan jaminan sosial kepada mereka yang membutuhkan ia memilih pembatasan sosial yang pelaksanannya hanya himbauan tanpa arah yang jelas di lapangan.

Selain itu adanya dugaan penggunaan dana bantuan Covid-19 yang tidak tepat sasaran, dan sedikit akuntabilitas dalam kaitannya dengan penggunaan anggaran terkait Covid-19 terkait kartu prakerja –yang menyulut amarah masyarakat karena staf khususnya ikut berbisnis dalam situasi krisis pandemi dengan menjadi salah satu vendor pelatihan dalam program tersebut– yang sarat KKN.

Namun anehnya, kini kegagalan Jokowi dalam menghadapi wabah Covid-19 malah dibela dan dipuja oleh para Buzzer penjilat.

Sangat terlihat bahwa salah satu taktik Jokowi membungkam orang yang dianggap lawan dengan bersikap tetap santun dan seolah tidak terganggu dengan kritikan. Tetapi tanpa harus dikomando para buzzer akan bekerja menyajikan bantahan dengan mematikan karakter mereka yang mengkritik Jokowi, mereka akan menyajikan kisah sukses Jokowi dan kehebatannya sebagai orang nomor satu!

Contohnya ketika cucu mantan Presiden SBY Almira yang mengusulkan untuk diadakannya Lockdown, Dedengkot Buzzer Jokowi yakni Denny Siregar langsung reaktif menyerang gadis cilik yang masih anak-anak itu.

Bahkan Kepala Sub Divisi Digial at Risks SAFEnet, Ellen Kusuma menyoroti cuitan Denny bisa mengundang atau memicu berbagai pihak untuk merundung Almira.

Kini kondisi Indonesia kian memprihatinkan sejak Presiden Jokowi mengajak seluruh masyarakat untuk hidup berdamai dengan virus Covid-19. Ini sungguh di luar nalar karena jumlah penderita positif Corona meningkat setiap hari. Melonggarkan ketika grafik positif Covid-19 sedang menanjak merah. Lagi lagi kebijakan lucu dan aneh yang patut jadi bahan tertawaan dunia seperti ketika Indonesia digiring meningkatkan arus wisatawan di saat negara lain telah melakukan Lockdown.

Ekonom Senior INDEF Faisal Basri pun menyayangkan langkah Jokowi yang terkesan buang handuk alias menyerah.

“Ayo dong, malu sama rakyat. Kuncinya di manapun, pelonggaran baru bisa efektif kalau kasus baru harian dan kematian harian turun secara konsisten setidaknya seminggu. Tapi bagusnya dua minggu turun terus. Tapi kemarin kematian naik lagi kan. Angka kematian dan new cases itu di kita fluktuasinya enggak karu- karuan,” kata Faisal.

BACA JUGA :

Konsep The New Normal, dengan Berdamai dengan Corona a la Jokowi bukan hanya mendapatkan kritikan dari masyarakat. Duetnya terdahulu di pemerintahan, Jusuf Kalla –yang dikenal dengan juru damai ahli menangani situasi krisis seperti bencana– juga tidak tinggal diam.

JK yang terkenal dengan logika tajamnya menyebut kita tidak mungkin berdamai dengan Corona, karena berdamai itu harus dengan kemauan dua pihak. Jika yang dimaksud berdamai dengan Corona, itu tidaklah mungkin karena sifat virus itu yang ganas, cepat menyebar, dan mematikan.

“Kalau berdamai itu kalau dua-duanya ingin berdamai, kalau kita hanya ingin damai tapi virusnya tidak, bagaimana?” tanyanya. Kritik JK juga terkait kata-kata dalam narasi,” kritik sang Ketua PMI.

Lalu ia tak lupa memberikan masukan agar bantuan kepada masyarakat diberikan dalam bentuk tunai. JK menyoroti betapa pandemi corona telah membebani roda perekonomian Indonesia lantaran daya beli masyarakat turun.

Maka itu, adanya BLT bisa menggenjot perekonomian di suatu wilayah karena masyarakat mampu untuk membeli.

“Dalam situasi seperti ini, masalahnya apa yang terjadi, orang daya belinya turun. Maka harus tingkatkan daya belinya, dengan memberikan dia bantuan langsung tunai, cash, supaya dia beli sesuatu. Kalau BLT, maka wilayah bersangkutan bisa hidup,” ungkap JK.

Tapi kritikan JK langsung berbuah serangan dari para Buzzer sampah demokrasi. Para Buzzer tidak segan memfitnah dan merendahkan karakter orang yang berani mengkritisi pemerintah.

Bahkan dalam situs corong abal-abal peliharaan rezim, Seword.com, kontributor Ninanoor dengan tanpa ampun mengejek JK telah menyebar hoaks.

“Eh, JK malah sok mengkritik dan mewanti-wanti agar pemerintah jangan coba-coba melonggarkan PSBB. Maksudnya apa? Menyebarkan hoaks gitu?” Begitu isi fitnah si penulis abal-abal.

Sungguh mengerikan sekarang. Dimana kita bukan saja menghadapi virus Corona yang mematikan, tapi juga fitnah Buzzer yang membinasakan.

Kawanan buzzer ini, mendengar ocehan JK ibarat kawanan hantu yang kepanasan mendengar suara kebenaran.
JK dengan barisan pengeritik pemerintah lainnya seperti Rizal Ramli, Faisal Basri serta kaum intelektual dari berbagai perguruan tinggi serta IDI, kini jadi tumpuan harapan masyarakat agar tetap berani bersuara. Jika tidak khawatir pemerintah akan lepas tangan dengan jargon “berdamai” dengan korona dan membiarkan proses herd immunity bekerja yang mengancam jiwa jutaan rakyat. Ini sama saja dengan pembantaian.

Ary Hermawan dari The Jakarta Post pernah menyebut, saat kondisi awal Indonesia yang sangat lamban menangani Virus ini di awal tahun.

BACA JUGA :




“Inilah yang saya bayangkan Indonesia akan berakhir; tidak dengan ledakan bom atom yang diluncurkan oleh musuh yang tangguh, tetapi dengan “desas-desus” yang diciptakan oleh influencer media sosial – yang secara lokal dikenal sebagai “bel” – yang mencegah kita membuat keputusan berdasarkan informasi saat darurat kesehatan global,” tulis Ary dalam bahasa Inggris.

Beginikah sifat Jokowi seterusnya dalam mengahadapi kritik yang membangun? Mengkapitalisasi kotoran demokrasi yang diciptakan para Buzzer? Menjadikan mereka tameng bagi diri sendiri dan mengubahnya menjadi tombak yang siap menghujam orang-orang yang berani kritis.

Saat ini di Indonesia ada 2 virus sedang mewabah, buzzer dan corona. Ingat berani melawan corona maka tunggulah saudara tuanya kawanan Buzzer melumatmu dengan tulisan tulisan cocok logi yang sarat fitanah.

Editor : Setyanegara

 




banner 468x60