Jogja Kota Kopi, Jogja Dulu Ngopi Kemudian

Jogja Kota Kopi, Jogja Dulu Ngopi Kemudian




Jogjakarta, Zonasatu News –Bagi penggemar kopi Jogja adalah tempatnya. Anda bisa minum kopi sungguhan, atau sambil beli “suasana” Jogja.

Ada yang jual hanya 4 jam. Anda bisa datang di Klinik Kopi. Buka jam 4 sore, tutup jam 8 malam. Disini bagi penggemar kopi “sejati” akan menemukan seleranya. Ada berbagai macam kopi. Sekitar 7 jenis. Tapi jangan anda tanyakan gula.Disini semua kopi tanpa gula. Satu lagi, gelas harus anda kembalikan ditempatnya.

Klinic Kopi ini hanya jual kopi saja.

Saya sebelumnya ngopi selalu plus gula. Tapi di Klinik Kopi saya coba tanpa gula.Heem ternyata enak juga. Kopi Wamena Papua misalnya, ada rasa manisnya meski tanpa gula. Ya pahitnya tetap ada. Tapi Enak.

Ada yang buka 24 jam, seperti Silol Kafe. Dan rame. Rame banget. Ada life musik. Agak berisik.Jargonnya menggelitik : “kulo dodol kopi, mboten dodol racun”. Jargon ini pasti dibuat setelah kasus “Kopi Mirna” di Jakarta. Kalau anda bawa mobil, jam 11 malam harus dipindah. Mulai jam 11 semua tempat parkir hanya untuk motor. Aneh? Inilah Jogja.

Kalau ingin agak tenang anda bisa ngopi di Legend Cafe. Deretan rumah tempo dulu disulap menjadi cafe. Ada sekitar 4-5 rumah tua. Bangunan lama semua. Tapi disulap menjadi bernuansa muda, segar oleh daun- daun hijau.




Ada life musik tapi tidak berisik. Ngopi sambil dengarkan musik sungguh nikmat.Bila anda ingin menikmati selain kopi, juga tersedia. 

Sama seperti di Silol, di Legend ini rane banget. Hampir semuanya yang datang anak-anak muda. Kalau di Silol dalam indor tingkat 3. Di Legend ini tidak. Deretan sekitar 5 rumah di permak jadi warung kopi “milenial”. Cuma ngopi di Legend hanya sampai jam 11 malam.

Ada yang baru dibuka beberapa minggu yang lalu. Eskala namanya. Ramenya minta ampun. Saya kesana sudah tidak dapat tempat. Karena belum pesan sebelumnya. Musiknya dentam dentum seperti diskotik. Secara refleks saya nyeletuk ini “kopi kostik”. Kopi nuansa diakotik. Masih banyak “warung” kopi milenial di Jogja. Tidak bisa saya tulis semua.

Tapi ini yang perlu dicatat.Hampir semua kedai kopi milenial di Jogja ramai. Hampir semua pengunjungnya anak muda. Jogja memang unik. Ke Jogja nggak ngopi akan menyesal.

Penulis laporan : Budi Puryanto

Editor : Setyanegara

 

 

 

 

 

 







Tags: ,
banner 468x60