Kata Koran-koran Kuno Belanda : Orang-orang Islamlah Yang Menyebabkan Indonesia Memberontak

Kata Koran-koran Kuno Belanda : Orang-orang Islamlah Yang Menyebabkan Indonesia Memberontak
SNOUCK HURGRONJE




ZONASATUNEWS.COM–Bertentangan dengan apa yang diklaim oleh buku-buku sejarah hari ini, Belanda menghadapi perlawanan secara terus-menerus selama periode 1850 – 1930.

Mengenai kenyataan perlawanan ini, buku-buku sejarah ini mengklaim bahwa perlawanan di Indonesia disebabkan oleh nasionalisme. Dikatakan bahwa beberapa orang Indonesia menginginkan negara mereka sendiri dan karenanya memberontak melawan Belanda. (Ini kebohongan sekaligus bukti sekularisasi sejarah Nusantara/Indonesia).

Namun klaim tersebut di bantah oleh apa orang Indonesia memberontak. Misalnya surat kabar Algemeen Handelsblad mengatakan pada tahun 1859 mengenai pemberontakan di Bandjarmasin yang telah disebutkan diatas: “Kami ingin mempertimbangkan kembali penyebab kejadian di Bandjarmasin, berkaitan dengan kejadian pemberontakan lainnya di wilayah lain. Kami telah melihat bahwa, menurut laporan yang diterima oleh mister Van Twist dr sumber yang sangat andal, pemberontakan di bagian tenggara Kalimantan dapat ditandai sebagai Mohammedan (baca: Islam), atau anti-Eropa”.

Dengan kata lain, menurut surat kabar Algemeen Handelsblad, kesamaan antara pemberontakan di Bandjarmasin, pemberontakan di Kalimantan, dan pemberontakan di bagian lain Indonesia, adalah bahwa semuanya disebabkan oleh keIslaman orang Indonesia.

Ketika melihat kasus-kasus perlawanan Indonesia melawan penguasa kolonial Belanda, surat kabar Belanda juga menuduh Islam sebagai akar permasalahannya. Misalnya pada tahun 1864 surat kabar Algemeen Handelsblad menulis tentang pemberontakan di Tegal: “Troeno mencoba untuk membuat orang-orang Tegal memberontak melawan peraturan Eropa.Ternyata dia menggunakan fanatisme sebagai alat untuk ini”. Kata fanatisme dalam surat kabar pada waktu itu berarti Islam.

Pd tahun 1885 surat kabar Het Nieuws van den Dag bahkan mengatakan bahwa orang Indonesia memandang perlawanan mereka sendiri sebagai Jihad, sebuah motivasi yang murni Islam. Jihad di terjemahkan menjadi perang sabil dalam bahasa Indonesia:

Di Sukabumi, masyarakat sekrang memiliki 5 tempat dimana kelompok-kelompok agama bisa berkumpul. Orang-orang yang menjadi anggota kelompok ini, para fanatik, tetap bersama setelah sholat Jumat untuk membahas prang sabil, Perang Suci Lihat apa yang sedang terjadi di Sukabumi. Apakah ini tidak cukup berbahaya? Sulit dibayangkan sebuah bukti yang lebih jelas yang menunjukkan bahwa perlawanan Indonesia melawan penjajahan Belanda dimotivasi oleh Islam.

Pada tahun 1894 surat kabar Algemeen Handelsblad bahkan menyatakan bahwa tidak ada penjelasan lain selain Islam yang bisa menjelaskan perlawanan terhadap Belanda: “Ras yang berkuasa sangat toleran terhadap org lain, pemberontakan di Pulau Lombok kemungkinan besar, menurut mereka yang akrab dengan mereka seperti Mr. Willemsen, disebabkan oleh fanatisme Muhammad (baca: Islam).”

Dan ketika surat kabar tersebut Het Nieuws van den Dag menulis adanya hubungan antara perlawanan orang Indonesia dan bulan Ramadhan, maka ini hanya bisa dipahami bahwa perlawanan umat Islam Indonesia di motivasi oleh Islam mereka: “Kemarin di dekat Anak-Guleng terjadi penembakan yang signifikan.Puasa telah dimulai dan seorang jahat yang meninggal selama masa ini di perang sabil pasti akan masuk surga.” Belanda menggunakan istilah “jahat” (evil person) untuk Muslim yang mati syahid .

Selama ber tahun2, surat kabar Belanda terus menyalahkan Islam sebagai motivator perlawanan di Indonesia. Misalnya pada tahun 1904, surat kabar Het Nieuws van den Dag menulis :
“Pd saat itu, seseorg memberi tahu dia bhw benturan kekerasan telah terjadi di Sukabumi, yang menunjukkan kemiripan dengan pemberontakan di Sumedang dan Sidoarjo. Dia menganggap bahwa sumber dari pemberontakan ini adalah fanatisme. (baca: Islam)”

Dan di tahun yang sama surat kabar ini menulis tentang pemberontakan di tempat lain: Kekuatan disertai dengan fanatisme adalah sesuatu yang harus benar-benar kita per timbangkan. Akhir-akhir ini, kekuatan ini begitu besar, seperti yang bisa dilihat di Jambi, Korintji, Kep. Gaju. Tragedi di Tjilegon, seruan fanatisme (baca: Islam) di tempat lain, dan pemberontakan di Gedangan, semuanya menjadi bukti. Keributan di Sidoarjo kekuasaan kita, menyebabkan bahaya yang terus-menerus terhadapnya. Perang Suci melawan “kuffar” terus didakwahkan, dan hampir sama sekali tak terduga sebelumnya, pada pertengahan bulan ini lagi, sebuah perlawanan yang sangat serius meletus.”

Pada tahun 1910 surat kabar Sumatra Post menyalahkan Islam atas pemberontakan di Padang: Sejak hari-hari itu, tanda-tanda fanatisme mulai banyak muncul, dan betapa banyak di daerah Priaman, di Negara Bagian Bawah Tanah Padang, yang menjadi tempat berkembang biaknya orang-orang fanatik Mohammed (baca: Islam) dari sekte Satria, yg menurut laporan resmi, juga bertanggung jawab atas perlawanan bersenjata pd th 1908.”

Komentar-komentar di surat kabar Belanda mengenai kasus perlawanan di Indonesia memperjelas tentang adanya konsensus di Belanda bahwa keIslaman orang Indonesia adalah penyebab semua ini. Islam dipandang Belanda sebagai akar permasalahan. Mereka bahkan tidak menyebutkan tentang nasionalisme (sama sekali).

Ini berarti bahwa buku sejarah hari ini di Belanda tidak hanya meremehkan perlawanan, ketika mereka mengatakan, bahwa perlawanan hanya terjadi secara sporadis, tapi mereka juga menggambarkannya dengan tidak tepat saat mereka mengatakan bahwa sumber utama perlawanan adalah karena aspirasi nasionalistik. Dan hal yang sama dapat di katakan mengenai buku
sejarah Indonesia saat ini: mereka menggambarkan perlawanan Indonesia melawan kolonialisme Belanda secara tidak benar ketika mereka mengatakan ini berasal dari aspirasi nasionalistik. (Ini contoh bukti sekularisasisejarah, yang identik dengan kebohongan.)







Tags: , ,
banner 468x60