Katanya Anies Nomor Tiga, Kok Masih Difitnah, Takut Kalah Ya ?

Katanya Anies Nomor Tiga, Kok Masih Difitnah, Takut Kalah Ya ?
Isa Ansori



Oleh: Isa Ansori
Kolumnis dan Akademisi

Dalam sebuah pertandingan atau sebuah kontestasi, biasanya berlaku hukum bahwa siapapun yang berpotensi menang, dialah yang akan dimusuhi dengan calon – calon yang tidak percaya diri atau calon yang takut kalah.

Tapi dalam kontestasi pilpres 2024, terjadi keanehan, capres Koalisi Perubahan Untuk Persatuan, Anies Baswedan yang oleh beberapa lembaga survey selalu ditempatkan pada posisi nomor tiga selalu diserang dengan fitnah dan berita hoax.

Bahkan tak tanggung – tanggung Anies dikeroyok oleh pendukung calon yang katanya nomor satu dan dua. Tidak hanya para pendukunngnya yang menyerang, istana pun ikut – ikutan berusaha menggagalkan upaya pencalonannya. Aneh tapi nyata.

Tindakan machiavellis, menghalalkan segala cara, menjadi tontonan yang memalukan setiap hari, bahkan tak lagi memiliki etika dalam berdemokrasi. Presiden yang seharusnya netral, terang – terangan mengatakan bahwa dia tidak akan netral dan akan cawe – cawe mengatasnamakan kepentingan negara.

Kalau itu dibolehkan dan tak melanggar etika demokrasi, niscaya sikap itu akan dilakukan oleh presiden – presiden sebelumnya di era reformasi. Perilaku itu hanya pernah terjadi di era orde baru dan orde lama ketika PKI diberi kuasa.

Perilaku presiden yang nir etika itulah penyebab dari rusaknaya tatanan bangunan demokrasi. Akibatnya banyak diantara masyarakat terprovokasi untuk memfitnah Anies dan memusuhinya. Padahal Anies ini jelas – jelas keturunan dari orang tua dan kakek nenek yang berjasa pada Indonesia.

Kakek Anies, AR Baswedan, adalah pahlawan nasional. Katanya mereka pecinta NKRI, tapi kerjanya memecah belah, katanya mereka penganut ajaran Bung Karno, Bangsa yang besar selalu menghargai jasa para pahlawannya, tapi terhadap Anies dan kakeknya mereka tega teganya memfitnah.

Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini diserahkan kepada perilaku manusia seperti ini ? Bagaimana keadilan bisa dihadirkan, kalau terhadap dirinya sendiri, mereka tak bisa adil ? Bagaimana persatuan bisa diwujudkan, kalau hati dan otaknya dipenuhi kebencian ? Dan bagaimana kesejahteraan bisa diwujudkan kepada seluruh rakyat Indonesia, kalau perilakunya menjilat pada mereka yang membayar?

Gak mempan dengan fitnah dan berita bohong, dosis ketakutan semakin meningkat, lalu digunakan instrumen hukum, pembegalan partai demokrat, dengan menggunakan Moeldoko sebagai panglima perangnya, menariknya meski Moeldoko ini purnawirawan jendral, tapi mau saja kehilangan rasa malunya, sebuah tradisi yang tak pernah terjadi dalam dunia militer.

Bayangkan PK yang sudah 16 kali diajukan dan kalah di pengadilan, tapi masih saja dilakukan, tujuannya bisa diduga, menggagalkan Anies. Kalau dulu sebelum pencapresan, KLB Moeldoko bertujuan mengambil alih demokrat agar menjadi barisan pendukung pemerintahan Jokowi, kini tujuannya tak hanya sekedar itu, tapi juga akan menggagalkan Anies sebagai capres.

Formula E yang ternyata diulang kembali pada zamannya Budi, Plt gubernur DKI, masih saja di cari cari kesalahannya, padahal jelas – jelas berdasarkan laporan BPK, clear tidak ada masalah. Bayangkan betapa kehilangan rasa malunya, dulu dihujat hujat, kini ketika merasa menikmati, lupa akan perbuatan menghujat yang dilakukan.

Partai Nasdem, partai pendukung pemerintahan, hanya karena beda pilihan sebagai konsekwensi demokrasi, mendapatkan perlakuan yang tak kalah brutalnya.

Tekanan dan rayuan untuk mencabut dukungan terhadap Anies, dilakukan bertubi tubi, bahkan yang baru saja terjadi, tak mempan menekan Surya Paloh sebagai pimpinan Nasdem, Sekjend partai Jhoni G Plate, yang juga Menkominfo di tangkap akibat dugaan korupsi BTS. SP pun terguncang, sedih dan bahkan merasakan tekanan yang sangat dalam, sampai sampai dia mengatakan terlalu mahal untuk diborgol.

Taklukkan SP? Ternyata tidak, sebagai politisi yang sudah kenyang makan asam garam, ditambah lagi dengan darah Aceh nya, yang tak gentar melawan penjajahan dan teguh terhadap sebuah pilihan yang dilakukan, SP pun mengobarkan perlawanan, pantang surut mundur ke belakang, ketika layar sudah dikembangkan.

SP pun menantang kasus yang menimpa Jhoni G Palte harus dibuka seterang terangnya kemana aliran dananya. Tantangan SP inipun membuat gentar dan panik Jokowi, mengapa? Karena ternyata aliran dana diduga mengalir ke parpol dan orang orang terdekat Jokowi. Ini seolah menjadi bumerang.

Untuk menutupi ketakutan dan kelemahannya, akibat mulai meredup pengaruh kekuasaannya, kini yang dilakukan adalah cawe cawe pilpres atas nama bangsa dan negara. Sebuah sikap lucu, kehilangan etika dan kehilangan sikap kenegarawanan.

Belakangan sikap Jokowi diketahui hanya dilandasi ketakutan kalau proyek – proyek mercusuarnya takut tidak dijalankan Anies bila Anies terpilih sebagai presiden, sebuah sikap berlebihan dan tidak masuk akal. Jangan – jangan ada sesuatu di balik ambisi yang menghancurkan harga dirinya itu.

Mestinya Jokowi tak perlu kuatir terhadap Anies, apalagi sampai menyebarkan energi ketakutan terhadap pendukungnya. Jokowi tinggal mendatangi Anies, kalau merasa malu, ajak duduk SP mencari jalan tengah yang elegan, agar perjalanan bangsa ini tidak diwarnai kegaduhan dan perpecahan.

“Sudahlah Pak Jokowi, hentikan itu, berpikirlah sebagai negarawan, jangan sibuk cawe cawe pilpres sampai sampai harus mengendorse orang tertentu, kasihanilah diri dan keluarga, zaman akan terus berubah, alangkah baiknya kalau menanam kebaikan, biar bisa memetik kebaikan lagi”.

Nggak ada kekuasaan yang abadi, apalagi kekuasaan yang dibangun dengan cara cara yang tak baik dan tak bermartabat, tak ada kebohongan yang tak terungkap, sebaik baik anda menyimpan bangkai, pasti akan bau juga. Dihari baik ini, Kamis, 1 Juni, bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, bertekad lah menjadi diri yang memahami Pancasila yang utuh, bukan Pancasila yang sudah diperas peras.

Pancasila yang menjalankan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pancasila yang bisa diwujudkan dengan cara bergotong royong, saling melengkapi dan merangkul. Sebagaimana jargon anda, Saya Indonesia, Saya Pancasila.

Masih ada waktu sebelum kekuasaan berakhir, jadikan akhir kekuasaan sebagai akhir yang husnul khotimah.

Sudahlah Pak Jokowi, nggak usah lagi takut sama Anies, Anies itu orang baik, taat konstitusi dan amanah pegang janji, rekam jejak memimpin Jakarta terbukti bagus dan berprestasi, sekali lagi nggak usah takut kepada Anies, apalagi sampai memfitnah dan menyebarkan berita bohong, cawe cawe dan mengendorse capres tertentu, toh Anies kan hanya nomor urut tiga menurut lembaga surveimu, kenapa harus ditakuti?

Lebih santailah kayak Gibran di Solo, meski dia kader PDIP, dia bisa menerima siapapun, karena dia bisa menempatkan dirinya, ketika menjadi walikota Solo bukan hanya milik partai, tapi sudah menjadi milik warga, sehingga dia bisa merdeka menemui siapapun, dia bisa ketemu Prabowo, Ganjar bahkan juga Anies Baswedan. Sikap Gibran yang seperti ini dikarenakan Gibran memang sekolah beneran!

Surabaya, 1 Juni 2023

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=