Kenapa Reuni Bela Taujid 212 Tahun Ini Lebih Besar Dari Aksi Bela Islam 212 Tahun 2016?

Kenapa Reuni Bela Taujid 212 Tahun Ini Lebih Besar Dari Aksi Bela Islam 212 Tahun 2016?
Jamaah di Monas membludak (foto capture livestreaming pagi ini 07.00)

loading…


Oleh: Nasrudin Joha

Siapapun yang hadir dalam aksi bela Islam 212 tahun 2016, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk hadir dalam aksi bela tauhid 212 tahun 2018, pastilah semuanya mendapat kesimpulan yang sama : PESERTA AKSI BELA TAUHID 212 TAHUN 2018 LEBIH BANYAK DARI PESERTA 212 TAHUN 2016.

Beberapa analis mengungkap kalkulasi jumla peserta, ada yang menyebut 8 juta hingga sepuluh juta peserta. Sedangkan aksi bela Islam tahun 2016 yang lalu dihadiri sekitar tujuh juta peserta.

Aksi Kali ini memang unik, selain mengulang heroisme aksi bela Islam 212 tahun 2016, aksi bela tauhid kali ini semakin mengokohkan ide ‘persatuan umat Islam dibawah naungan bendera tauhid‘, mulai menampakkan keyakinan baru ditengah benak umat. Persatuan Umat Islam bukanlah mitos, sebagaimana hadirnya puluhan juta umat menyemut ke Jakarta. Padahal, sebelum aksi semua corong kekuasaan telah dikerahkan untuk menebar teror secara massif dan terbuka, menakut-nakuti Peserta reuni agar urung hadir.

Adapun beberapa sebab meluapnya peserta reuni bela tauhid 212, meskipun mendapat berbagai tantangan dan hambatan, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, aura persatuan umat Islam telah masuk ke sanubari umat, sehingga siapapun yang pernah hadir dalam aksi bela Islam 212 tahun 2016, pastilah hatinya akan saling terpaut dengan semangat dan ikatan persatuan umat Islam. Semangat inilah, yang mendorong alumni 212 tahun 2016 tergerak hatinya untuk hadir kembali pada tahun ini, kecuali mereka benar-benar mendapat udzur.

Kedua, kisah heroik aksi bela Islam 212 tahun 2016 membuat umat Islam yang tidak sempat mencicipi lezatnya nikmat persatuan, kesatuan hati dan pikiran, merasa perlu dan wajib hadir pada gelaran aksi bela tauhid tahun ini. Ini merupakan tambahan peserta yang membuat jumlah peserta reuni semakin berlimpah.

Ketiga, momentum pembelaan bendera tauhid (dan inilah latar belakang utamanya) yang sebelumnya dihina oleh putusan pengadilan lucu-lucuan, penjara 10 hari dan denda 2000 perak menjadi pembakar semangat untuk hadir, setelah saluran aspirasi pembelaan melalui jalur hukum ditutup rapat oleh rezim zalim.

Keempat, meningkatnya penzaliman rezim berupa kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh umat, membuat umat mengajukan perlawanan secara politik terhadap rezim melalui aksi bela tauhid, berhimpun dengan umat Islam lainnya. Apalagi, menjelang aksi bela tauhid rezim menggunakan hukum untuk menjalankan visi kekuasaan mengkriminalisasi kader ormas Islam yang besar, yang hal ini memicu perlawanan persyarikatan terhadap rezim.

Kelima, kegagalan pilar politik rezim untuk mengkanalisasi umat melalui kubangan lumpur rezim. Partai penopang rezim baik yang jelas-jelas nasionalis sosialis atau menisbatkan diri sebagai partai Islam, ternyata tidak memiliki akar legitimasi ditengah umat. Partai penopang rezim, telah gagal menjajakan fungsi sebagai penyambung lidah rakyat untuk mengkanalisasi peserta.

Keenam, kontestasi politik menimbulkan aspirasi koor ditengah umat bahwa apapun keadaan yang melingkupinya, meskipun umat berbeda pada beberapa hal, tetapi umat ijma’ ingin mengganti rezim yang represif dan anti Islam, mendongkelnya secara konstitusional dari tampuk kekuasaan.

Lebih jauh, agenda reuni 212 ini menjadi ajang konsolidasi alamiah antara umat, bahkan antara umat dengan militer yang hadir digerakkan rezim untuk mengamankan aksi dengan misi ‘show of force’.

Konsolidasi alamiah ini juga akan menebar keseluruh pelosok negeri, seiring kepulangan peserta bela tauhid 212 ke daerah asal. Dalam konsolidasi alamiah ini, pematangan pilar dan arah perubahan sangat mungkin untuk menghimpun dan mengumpulkan umat Islam untuk bersatu secara penuh, dibawah naungan kalimat tauhid, dengan komitmen menegakkan hukum tauhid, dan menjadikan Islam sebagai pilar kedaulatan negara.

Akan ada pergumulan pemikiran secara alamiah untuk mencari penjelasan rinci tentang konsepsi perubahan yang idiil, dimana Islam menjadi asas sekaligus sentral perubahan. Perubahan rezim sekaligus sistem yang akan menggusur kapitalisme demokrasi dari kancah politik peradaban dunia, yang bertolak dan dimulai dari negeri ini. [].

loading…


http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2018/12/pie-mbak-mia-e1544801707569.jpg

loading…



Tags:
banner 468x60