LaNyalla Peduli Kerajaan Nusantara (4) : Festival Keraton Nusantara, Upaya Membangun Ketahanan Budaya, Kebhinekaan, dan Persatuan

LaNyalla Peduli Kerajaan Nusantara (4) : Festival Keraton Nusantara, Upaya Membangun Ketahanan Budaya, Kebhinekaan, dan Persatuan
Ketua DPD, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendapat gelar kehormatan Napufunu (Pelindung Besar) serta diangkat sebagai anggota kehormatan Dewan Adat, saat mengunjungi Uma Batu Kerajaan (Nusak) Termanu di Rote Ndao, NTT. (Foto: Istimewa)




ZONASATUENWS.COM–Kepedulian Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti terhadap keberadaan kerajaan nusantara, tidak terbantah lagi. Sebagai Ketua Lembaga Tinggi Negara kepedulian semacam itu tentu sangat menggembirakan dan perlu mendapatkan apresiasi sangat tinggi.

Pandangan LaNyalla terhadap eksistensi kerajaan nusantara dan sumbangsihnya terhadap pertumbuhan NKRI perlu direnungkan secara mendalam. Sebab, noktah-boktah pikirannya mencerahkan, dan dapat dijadikan rujukan untuk menemuan kembali nilai-nilai kebijaksanaan (wisdom) dari masa lalu guna merumuskan dan menjawab tantangan bangsa di masa depan.

BACA ARTIKEL TERKAIT :

Terkait rencana digelarnya Festival Keraton Nusantara (FKN) pada tahun ini (2021), LaNyalla sangat mendukung. Karena menurutnya kegiatan tersebut sangat penting untuk membangun ketahanan budaya.

Disamping itu FKN juga akan menjadi sarana efektif merawat kebhinekaan dan memperkuat persatuan bangsa.

“Saya berharap momentum Festival tersebut dapat menjadi tonggak untuk membangun kesadaran bersama pentingnya menjaga ketahanan budaya kita sebagai bangsa. Sekaligus membangun Kebinekaan dalam bingkai Persatuan Bangsa,” ungkapnya.

   BACA ARTIKELTERKAIT :

Hal itu disampaikan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitt dalam kunjungan ke Keraton Sumedang Larang, Sabtu (21/8/2021),

Apa yang disampaikan Ketua DPD RI diatas sungguh bernas. Pada era digitalisasi dan “googlelisasi” saat ini, banjir budaya asing tak terelakkan lagi. Sebagian besar generasi muda lebih mengenal budaya K-Pop Korea daripada gamelan Jawa, Angklung Sunda, atau Ukulele Maluku.

Kita kekurangan media, kreatifitas, dan semangat untuk menampilkan budaya, nilai tradisi, dan karya seni adiluhung warisan leluhur kepada generasi “gaul-instan” saat ini.

   BACA ARTIKEL TERKAIT :

Maka Festival Kerajaan Nusantara (FKN) akan menemukan makna penting untuk mencapai tujuan seperti yang disampaikan Ketua DPD RI diatas.

Apalagi, bila dapat melibatkan tokoh-tokoh budaya, sejarawan, seniman, musisi, koreografer, pekerja film, dan ahli-ahli terkait. Maka FKN dapat dikemas menjadi tampilan produk bernilai tinggi dan unik. Itu bisa menjadi mercusuar budaya yang hebat.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60