Melawan Lupa : 70 Tahun Pembunuhan Gubernur Soeryo Oleh Keganasan PKI Dalam Rentetan Kudeta Madiun 1948

Melawan Lupa : 70 Tahun Pembunuhan Gubernur Soeryo Oleh Keganasan PKI Dalam Rentetan Kudeta Madiun 1948
Monumen Soeryo Di Ngawi

loading…


Penulis : Budi Puryanto, Ngawi

Ngawi, Zonasatu News–18 September 1948, 70 tahun yang lalu merupakan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.Ketika itu Partai Komunis Indonesia pimpinan Muso melakukan kudeta. PKI mendiirkan negara Republik Soviet Indonesia dengan Presiden Amir Syarifudin dan Perdana Menteri Muso. Negara itu beribukota di Madiun, Jawa Timur.

Delapan hari sebelumnya, tepatnya 10 September 1948, Gubernur Pertama Jawa Timur yang saat itu masih aktif,  Raden Mas Tumenggung Arya (RMTA) Soeryo dibunuh oleh PKI. Pembunuhan yang didahului penganiayaan secara sadis itu dilakukan di tengah hutan jati, di Ngawi. Dua ajudannya masing-masing Kombes M Doeryat dan Kompol Tk I Soeroko, turut dibunuh.

Untuk mengenang “peristiwa kelam” tersebut saat ini telah didirkan tugu peringatan dengan nama Monumen Soeryo. Monumen itu dibangun di Ngawi, tepatnya di Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar. Kuranglebih 20 KM dari kota Ngawi kearah Solo. Monumen ini dibangun tahun 1975, dan diresmikan oleh Pangdam VIII Brawijaya Mayjend TNI AD Witarmin.

Prasasti peresmian Monumen Soeryo oleh Pangdam VIII Brawijaya Mayjend Wutarmin

Bagaimana kisah kelam keganasan PKI itu terjadi? Hari Senin (10/9) kemarin tepat 70 tahun  pembunuhan itu, penulis menelusuri langsung di lokasi monumen, meneliti prasasti, relief, menggali cerita tutur masyarakat sekitar, dan menelusuri titik-titik lokasi kejadian. Laporan selengkapnya kami susun dibawah ini.

Pagi itu sekitar pukul 09.00 WIB, penulis tiba di Monumen Soeryo. Bertemu dengan Mujiono, pegawai penjaga kebersihan Monumen Soeryo yang mulai bekerja sejak 2011. Menurut pengakuannya statusnya pegawai honorer yang digaji Pemkab Ngawi. Mujiono tinggal di dusun Tambakselo, desa Pelanglor, tidak jauh dari lokasi, sekitar 2 kilometer kearah selatan.

Peristiwa pembunuhan Gubernur Soeryo digambarkan secara sederhana melalui 4 relief di dinding monumen. Tidak ada penjelasan tertulis di monumen itu, sehingga pengunjung kesulitan mendapatkan informasi peristiwa sejarah ini. Hal ini diakui oleh Mujiono.

Pihaknya sering mendapatkan pertanyaan dari pengunjung, terutama anak-anak sekolah tentang sejarah pembunuhan Gubernur Soeryo. Tetapi karena tidak ada bahan tertulis, Mujiono menjelaskan secara lisan, sesuai dengan cerita tutur yang telah diperolehnya dari para sesepuh terdahulu.

“Yang banyak tahu peristiwa itu namanya Mbah Pelok. Tokoh desa Pelanggarem saat itu. Tapi sekarang sudah meninggal mas. Sayangnya belum ada yang menuliskan cerita mbah Pelok itu. Ya diceritakan turun-temurun saja”, kata Mujiono. Pelanggarem, adalah dusun di sebelah utara Monumen Soeryo. Termasuk dalam wilayah Desa Pelanglor.

Mujiono, petugas penjaga Monumen Soeryo

loading…


loading…



banner 468x60