Menguak Misteri, Mengapa Bendera Israel Populer Di Papua?

Menguak Misteri, Mengapa Bendera Israel Populer Di Papua?
Kios di Tolikara Papaua berhias bendera Israel (bintang daud)




Zonasatu News — Muncul kehebohan saat terjadi pembantaian warga pendatang di Wamena, Papua. Tim medis yang menolong korban melihat adanya mobil bertuliskan “Israel Police” beada disana. Tidak ada penjelasan tentang keberadaan mobil Toyota itu.Tidak itu saja, bendera Israel, yang juga disebut bendera Bintang Daud/David, sering ditampilkan dalam berbagai acara oleh masyarakat Papua.




Tidak hanya bendera, simbul Bintang Daud juga dilukis ditubuh mereka. Sementara mereka memakai pakaian adat Papua

 

TOLIKARA

Tolikara ini kota kecil namun ternyata bintang daud sangat populer disana. Pantauan hidayatullah.com (22/7/2015) mudah dijumpai kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.

Tolikara Kota Kecil, Tapi Bendera Israel PopulerSeorang relawan dengan back-round bendera Israel di sebuah kios di Tolikara

Kabupaten Tolikara merupakan bagian dari Provinsi Papua dengan luas sekitar 5.234 KM2.

Tolikara yang diapit Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jawawijaya Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Jayawijaya merupakan kabupaten baru hasil pemekaran pasca hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.

Kabupaten Tolikara yang beribukota di Karubaga terbagi dalam 514 Desa dan 35 Kecamatan. Meski demikian, jangan bayangkan desa di daerah layaknya di Jawa. Sebab, satu desa kadang hanya puluhan rumah.

Komoditi unggulan Kabupaten Tolikara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sub sektor Pertanian komoditi yang diunggulkan berupa Jagung dan Ubi Kayu.

Yang menarik, meski merupakan tempat terpencil dan akses masih sulit, beberapa pihak mengatakan, pesawat milik orang asing bisa datang dan pergi seenaknya.

Kios di Tolikara

Banyak kios di Tolikara dicat bendera Israel 

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di wilayah ini tersedia 1 bandar udara, yaitu Bandara Bokondini, namun beberapa saksi yang ditemui hidayatullah.com, menyebut banyak orang asing yang hilir mudik tidak bisa terpantau.

“Di sini banyak pesawat asing datang dan pergi tidak terpantau. Karena aparat di sini sedikit,” demikian ujar salah seorang aparat yang tak mau disebutkan namanya kepada hidayatullah.com.

Yang tidak kalah menarik, banyak bendera-bendera Israel jadi pajangan warga. Pantauan hidayatullah.com,mudah dijumpai kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.

Kebetulan, saat beberapa jam menginjakkan kaki di Tolikara pertama kali hari Senin (21/07/2015) media ini bisa menyaksikan ramainya masyarakat luar Tolikara mengikuti arak-arakan penutupan kegiatan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional yang diselenggarakan sejak tanggal 13 Juli 2015.

Diperkirakan sekitar 7000 orang mengikuti arak-arakan, dan sebagian banyak mengibarkan bendera Israel.

Sementara itu, banyak warga lokal sendiri masih kurang memahami arti bendera-bendera Israel tersebut.

ADA PERINTAH DARI WAMENA

Seorang warga Karubaga, Tolikara, berfoto di depan rumahnya yang bercat corak bendera Israel. (Foto: ROL)

Pada 30 Juli 2015 Ketua DPRD Kabupaten Tolikara, Ikiles R. Kogoya mengatakan, hasil penulusuran timnnya di lapangan menemukan, ada perintah dari Wamena untuk melakukan pengecatan bendera Israel di rumah-rumah.

Relawan lembaga medis kemanusiaan MER-C di Karubaga, Tolikara, pada Selasa (28/7/2815) mengunjungi para tokoh agama, keamanan dan pejabat pemerintah untuk mengkonfirmasi berbagai isu yang diberitakan sejak terjadinya penyerangan terhadap ibadah Muslim di sana dua pekan lalu.

Bupati Tolikara Usman Wanembo mengatakan, ada pihak yang memprovokasi, sesaat setelah kejadian pembakaran pukul tujuh pagi pada 17 Juli, tiba-tiba warga mengecat bendera di pintu rumah mereka.

Namun sebelumnya, wartawan Hidayatullah.com yang datang pada 21 Juli 2015 melaporkan ada banyak bendera-bendera Israel jadi pajangan warga.

Menurut pantauannya, mudah dijumpai kios-kios warga dihias cat bergambar bendera Israel biru-putih dengan Bintang David.

Di hari yang sama, dia menyaksikan ramainya masyarakat luar Tolikara mengikuti arak-arakan penutupan kegiatan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional yang diselenggarakan sejak tanggal 13 Juli 2015.

Diperkirakan sekitar 7.000 orang mengikuti arak-arakan, dan banyak orang mengibarkan bendera Israel.

Mobil bertulisan Israel Police

Sementara itu, GIDI mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat kediamannya dengan bendera Israel.

“Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), saat ditemui Republika.co.id di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7/2015).

Melihat kejadian tersebut Bupati, Ketua DPRD dan Ketua Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial di Tolikara, Dr. Edy Range Tasak, segera berkeliling kota untuk mengatasi masalah itu.

Dari atas kendaraan bak terbuka, pemerintah menghimbau warga dengan toa untuk menghapus bendera Israel di pintu-pintu rumah dan kiosnya.

Menurut Edy, tulisan serta bendera Israel kini sudah dihapus. 

BERKIBAR DI JAYAPURA
ARAK arakan itu riuh rendah. Berlangsung di Jayapura tanggal 14 Mei 2018.Sejumlah pengendara sepeda motor sendiri dan berboncengan tampak di jajaran depan. Di belakangnya berderet beberapa bus, truk dan mobil mini bus hingga sedan pribadi. Hampir semuanya berpenumpang penuh. Mereka bergerak konvoi menyusuri jalan- jalan raya. Ditingkahi suara pengeras suara dan deru mesin kendaraan, para penumpang bus, mobil dan sepeda motor itu tampak mengibar-ngibarkan bendera putih dengan dua garis horisontal bewarna biru, di tengahnya  tertancap dua segitiga saling terbalik membentuk bintang. Itulah ”Bintang Daud”. Bendera resmi pemerintah Israel.

Dalam bentuk rekaman video, arak-arakan meriah itu viral di media sosial. Ada teks narasi menyertainya: konvoi warga Papua mengibar ngibarkan bendera Israel keliling kota.

Mantan redaktur senior koran Jawa Pos itu mengatakan dia tak bisa menahan kegeramannya. Ia merasa seperti ada pembiaran aparat keamanan dan intelijen sehingga acara itu bisa berlangsung. “Media arus utama juga. Kok bisa diam. Tak menulis sama sekali,” katanya.

Kepada wartawan ceknricek.com Ketua DPR Bambang Soesatyo juga menyesalkan kejadian itu. “Secara aturan itu tidak boleh. Mestinya aparat keamanan bisa lebih tegas melarangnya,” ujar Bamsoet, begitu politisi Golkar itu biasa dipanggil

Bamsoet patut kesal. Sebab, dalam kaitan dengan Israel, ia baru saja mengeluarkan rilis mengutuk dan mengecam keras pemerintah AS yang tetap meresmikan pemindahan kedutaannya ke Jerusalem. Hari peresmian pemindahan itu sama dengan hari arak-arakan pengibaran bendera Israel di Jayapura.

Aparat keaman kecolongan atau melakukan pembiaran? Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar menyangkal.

“Itu kegiatan bakti budaya. Tidak ada kaitannya dengan Israel,” ujar Boy Rafly. Kegiatan itu dilakukan suatu yayasan. Namanya Sion Kids Center of Papua.

“Mereka melakukan kegiatan tahunan. Semacam kegiatan bakti budaya masyarakat Papua,” jelas Boy Rafly.

Ia membenarkan ada bendera Israel yang dipasang dikibarkan dalam kegiatan tersebut.

“Budaya dan agama masyarakat Papua dekat dengan budaya dan agama pengikut Nabi Daud. Makanya, dalam setiap acara mereka selalu menyertakan bendera Bintang Daud,” tambah Boy.

Tapi bendera itukan bendera resmi Israel?

“Ya, betul. Karena menyangkut budaya dan agama masyarakat, maka kami selalu sangat berhati-hati. Nanti, kita akan coba memberitahu mereka supaya lain kali jangan lagi memakai dan membawa-bawa bendera negara Israel,” tambah Mantan Kepala Divisi Komunikasi Mabes Polri itu.

Ya, siapa di belakang acara itu memang masih misterius. Sebab, orang-orang di kantor Perwakilan Provinsi Papua di Jakarta sama sekali tidak tahu dan tidak pernah terlibat dengan acara seperti itu.

Repotnya, alasan Boy Rafli berkaitan dengan kegiatan arak-arakan mengibarkan bendera Israel itu lemah dan tidak didukung masyarakat, bahkan pemerintah provinsi Papua sendiri. Seorang staf di kantor Perwakilan Papua di Jakarta mengatakan pemerintah provinsi Papua tidak pernah tahu dan terlibat dengan acara tersebut.

Kegiatan konvoi dan arak-arakan sekelompok warga Papua itu berlangsung meriah. Rekaman videonya viral di media sosial. Dilaksanakan tanggal 14 Mei 2018. Pas waktunya dengan hari pemindahan secara resmi kedutaan besar Amerika. Dari sebelumnya di Tel Aviv ke Jerusalem.

NATALIUS PIGAI : Pelik dan sensitif

Aksi arak-arakan warga Papua di Jayapura itu apakah wujud  simpati dan dukungan pada Israel? Natalius Pigai, aktivis kemanusiaan asal Paniai, Papua, mengakui itu hal pelik dan sensisitif.

Natalius Pigai

“Pengibaran bendera Israel di Papua tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang politik terkait konflik Israel dan Palestina. Tetapi juga harus dilihat dari perspektif Kristen yaitu bendera Israel dalam konteks Bintang Daud, “ tulis mantan anggota Komnas HAM 2012-2017 itu.

Dalam sebuah tulisan cukup panjang yang disiapkannya untuk merespon kasus pengibaran bendera Israel itu, Pigai mengatakan, bagi orang Papua pengikut Yesus Kristus,  lambang Bintang Daud adalah simbol Bani Israel. 

Lambang Daud amat penting sebagai panji-panji kebesaran bangsa Israel, bukan negara Israel.

Panji-Panji inilah yang menjadi lambang kebesaran bangsa (Bani) Israel meloloskan diri dari penindasan bangsa Mesir. Musa memimpin menyelamatkan bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Bagi orang Papua yang hari ini hidup dalam penderitaan karena adanya penangkapan, penganiayaan, pembunuhan, kematian, kemiskinan, kebodohan. Ada kemiripan nasib dan kedekatan akidah itu menyebabkan bagi orang gemar Papua mengibar-ngibarkan bendera Bintang Daud. Itu dimaknai sebagai simbol perjuangan mereka untuk membela nasibnya.

Pigai mengakui, apa yang diekspresikan warga Papua itu bertolak belakang dengan sikap politik negara dan rakyat (mayoritas ummat Islam). Ada dilema memang. Antara politik dan agama.

Pigai menegaskan, pemerintah dan kepolisian tidak bisa melarang lambang tauhid umat Kristen  yang tertulis dalam kita suci Alkitab. “Karena itu sama saja dengan melarang ajaran agama yang diyakini.”

Titik temu ihwal ini agaknya terpusat pada perlunya, pemerintah dan kedua belah pihak kembali  menguatkan dan memadukan rasa toleransi antar anak bangsa. Warga Papua dan saudaranya warga masyarakat lain di seantero nusantara.

Editor : Setyanegara 

 







Tags: , , ,
banner 468x60