Saatnya Transisi Energi, Soni: Jangan Bebankan Permasalahanmu Kepada Generasi Mendatang

Saatnya Transisi Energi, Soni: Jangan Bebankan Permasalahanmu Kepada Generasi Mendatang
Soni Fahruri, Founder CENITS




ZONASATUNEWS.COM, JAKARTA – Founder CENITS (Center For Energi and Inovation Technology Studies) Soni Fahruri, ST, MT mengatakan perlunya transisi energi di Indonesia dari energy yang banyak menghasilkan pencemaran (energi hitam) menuju energi yang bersih (energi hijau/green energy).

“Saatnya melakukan transisi energi, dari energi fosil menuju energi terbarukan,” kata Staf Ahli Komisi VII DPR RI itu.




Soni mengemukakan hal itu saat menjadi narasumber dalam diskusi Indonesian Leadership of Business and Energy Forum (ILBEF) bertema “Tata Kelola Energy Menuju Net Zero Emissions”, Senin (17/10/2022).

Kegiatan tersebut diadakan oleh PB HMI Bidang Kemitraan Strategis BUMN & Industri Nasional serta Bidang Pembangunan Energi, Migas dan Minerba.

Selain Soni Fahruri, hadir sebagai narasumber Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc, Dr. Ir. Musri, M.T, Erika Retnowati, A.K., M.Si.

Menurut Soni, Penggunaan energi secara besar-besaran dimulai sejak lahirnya Revolusi Industri di Inggris yang terjadi pada periode antara tahun 1760-1850.

Sumber: Presentasi Soni Fahruri (CENITS)

“Akibatnya terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia,” ungkap Soni.

Awalnya bermunculan industri mekanik dan tenaga uap yang menggunakan bahan bakar batubara dan energi fosil lainnya. Masa ini dikenal sebagai Industri 1.0

Pada gelombang berikutnya memasuki Industri 2.0 dengan ditandai oleh Produksi Massal peralatan energi listrik.

Gelombang Industri 3.0 ditandai oleh industri berbasis Otomatisasi, Komputer dan Elektronik.

“Kita sekarang memasuki gelombang Industri 4.0 yang ditandai oleh Sistem Fisik Maya, Internet dan Jaringan. Pada era ini industri diharapan berbasis Green Product yakni mensyaratkan proses penggunaan energi bersih (terbarukan),” jelas Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Alumni ITS Surabaya tersebut.

Penggunaan energi fosil yang berlebihan dimasa lalu telah menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global, serta krisis energi. Karena itu menurut Soni, transisi energi merupakan keharusan, bukan alternatif lagi.

“Diperlukan transisi energi menuju energi terbarukan demi pembangunan berkelanjutan,” ungkap Soni.

Sumber: Presentasi Soni Fahruri (CENITS)

Kebijakan transisi energi mengharuskan terjadinya perubahan penggunaan energi dari semual berbasis pada minyak bumi,gas bumi dan batubara, menuju energi baru seperti bio-energi, angin, air, surya, samudra, panas bumi, dan uranium.

Oleh karena itu, menurut Dewan Pengawas Ikatan Aumni Jerman (IAJ) itu, target kebijakan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) harus dilakukan sesau dengan tergetnya.

Indonesia telah menetapkan Kebijakan Energi nasional dalam memanfaatkan EBT. Pada tahun 2025 penggunaan EBT harus mencapai minimal 23% dari yang sekarang baru 11,7%. Pada tahun 2050 EBT ditargetkan mencapai 31%.

“Tuntaskan yang menjadi tanggung jawab generasi saat ini, sugguh ironi apabila engkau bebankan permasalahanmu kepada generasi yang akan mendatang,” tegas Soni.

EDITOR: REYNA







banner 468x60