Seni Reog Asal Bunder Patuk Warnai Grebeg Suro Gunungkidul.

Seni Reog Asal Bunder Patuk Warnai Grebeg Suro Gunungkidul.

loading…


Yogyakarta, Zonasatu news. Tradisi menyambut Tahun Baru Hijriyah atau oleh masyarakat jawa dikenal dengan istilah Suro Agung atau Grebeg Suro, sepertinya tidak akan pernah lekang oleh waktu. Bulan Suro menurut tradisi dan kepercayaan masyarakat jawa, merupakan bulan yang sangat sakral, dan ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar. Dipercaya , dibulan Suro seseorang tidak diperkenankan untuk melakukan pernikahan, mendirikan atau membangun rumah, dan hajat besar lainnya, Apabila pantangan itu dilanggar diyakini akan mendatangkan balak atau bencana.

Bulan Suro konon hanya bisa digunakan hal-hal yang bersifat spiritual dan magis, seperti jamasan pusaka, arak arakan pusaka, juga keterkaitan dengan olah ilmu bathin, serta kegiatan kegiatan seni budaya klasik.

Di Pengkol Gunungkidul (12/9) lalu, untuk menyambut datang bulan Suro kelompok seni reog asal Bunder Patuk Gunungkidul dipercaya mendampingi arak arakan pusaka yang dilakukan oleh kerabat atau abdi dalem Keraton Yogyakarta di Desa Pengkol Nglipar.

Dikatakan ketua seni reog Bunder Suparyoto, reog adalah seni yang menggambarkan tentang perjalanan hidup manusia, mulai dari kasta terendah hingga kasta brahmana. Reog juga tidak lepas dengan unsur magis, dimana pelaku reog bisa mengalami kesurupan.

Di acara grebeg suro ini reog klasik asal Bunder dipercaya untuk mengiring arak arakan pusaka peninggalan leluhur.

“Terima kasih kelompok reog sudah di percaya turut berpartisipasi dalam acara grebeg suro di Pengkol.Ini sebagai bukti bahwa masyarakat kita masih peduli dengan seni budaya pribumi”, ungkap Suparyoto,(12/9).

Gelar Grebeg Suro dihadiri beberapa pejabat diantaranya Immawan Wahyudi Wakil bupati Gunungkidul, dan Slamet Anggota DPR Provinsi Yogyakarta. Dalam sambutanya Wakil Bupati mengaskan, kegiatan upacara tradisi arak pusaka perlu dilestarikan sebagai bentuk melestarikan budaya warisan nenek moyang.

” Sebagai masyarakat Jawa kita tidak pernah lepas dengan budaya, dan sudah menjadi tanggung jawab masyarakat untuk melestarikanya.”, kata Immawan Wahyudi.(beng).

loading…


loading…



banner 468x60