Senyum Anak-anak Papua, Membuatnya Tidak Tega Meninggalkan Mereka

Senyum Anak-anak Papua, Membuatnya Tidak Tega Meninggalkan Mereka
Anak-anak di Papua ingin bersekolah dengan layak seperti anak-anak di Jawa | Foto: Dok. Hendro




Oleh : Ahmad Cholis Hamzah

Ketika hampir semua media massa baik nasional maupun internasional memberitakan soal kejadian-kejadian demonstrasi di Papua dan pengiriman TNI dan Polri untuk meredamnya, serta berita release pemerintah yang sudah mengetahui siapa dalang di balik kerusuhan di Papua; tapi tidak ada yang mengabarkan bagaimana baiknya hubungan di antara anak bangsa di Papua, terutama bagaimana para “pahlawan tanpa tanda jasa” bangsa ini berusaha mengangkat harkat dan martabat anak-anak Papua lewat pendidikan.

Saya secara subyektif menyebut junior saya dalam tulisan ini sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” karena begitu semangatnya dia mengorbankan waktu dan tenaganya untuk ikut membangun Papua dengan ikhlas tanpa pencitraan; dan kebetulan saya kenal dia.

Tentu selain dia, masih banyak para “pahlawan” seperti dia ini yang lepas dari perhatian kita atau media di tengah-tengah gencarnya berita-berita politik di atas.

Adalah Hendro Yudi, alumni Fakultas Ekonomi Unair angkatan 1999 (selisih 26 tahun dengan saya yang angkatan 1973) yang saya sebut sebagai “pahlawan” ini. Sejak tahun 2013 Hendro bekerja di Papua, bekerja dengan UNICEF sebagai konsultan membantu pemerintah menyusun RPJMD.




Hendro (kanan) dan anak-anak Papua | Foto: Dok. Hendro

Sebelum masuk Papua, dik Hendro ini sudah membayangkan betapa beratnya situasi dan kondisi medan di Papua, beratnya adaptasi budaya, penyakit malaria, dan meninggalkan istri yang lagi hamil muda. Setelah membantu Bappeda Propinsi Papua, dik Hendro -begitu saya memanggilnya- diminta membantu sektor pendidikan dengan menyusun Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan dan membantu menyusun Renstra Pendidikan untuk Kabupaten Timika, Biak, Manokwari, Jayawijaya.

Itu dilakukan sampai tahun 2015. Selain itu dia diminta Bappeda menyusun roadmap pendidikan dan kesehatan sekaligus mendampingi membuat juknis kegiatan yang didanai dari dana Otsus.

Menurut Hendro, yang paling mengesankan selama tiga tahun terakhir atau 2016-2019 di Papua adalah ketika dia turun lngsung mendampingi sekolah-sekolah di wilayah yang terkenal dengan sebutan 3T (Terluar, Terpencil, dan Terisolir) di mana semua muridnya adalah anak-anak Papua asli di 6 kabupaten yaitu Jayawijaya, Biak, Jayapura, Mimika, Sorong, dan Manokwari.

Kegiatan rutin Hendro: kalau pagi melatih guru-guru lokal cara mengajar yang menyenangkan, sorenya memberikan les pada murid-murid yang tidak bisa membaca dan menulis, dan malam harinya dia menyempatkan waktunya untuk berkumpul dengan bapak-bapak kepala kampung, para tokoh adat, dan gereja untuk mendorong kepedulian mereka terhadap pendidikan.

Dik Hendro menceritakan kepada saya tentang kondisi yang memprihatinkan di daerah 3T ini, misalnya prasarana pendidikan yang kurang memadai -satu ruang untuk kelas 1 dan 2 yang disebut kelas rangkap, jumlah guru yang sangat terbatas, serta alat-alat pembelajaran yang hampir tidak ada.

Rata-rata guru tidak mau mengajar di desa tapi di kota. Selain itu para murid sulit menuju sekolah, karena harus berjalan kaki atau naik perahu, sedikit sekali yang naik sepeda motor karena memang kebanyakan berjalan kaki, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

“Melihat senyum mereka rasanya tidak tega saya meninggalkan mereka, kanda. Anak-anak ingin banget sekolah, ingin seperti anak-anak yang di Jawa,” Kata Hendro kepada saya.

Sebenarnya para orang tua di wilayah tersebut sangat senang jika anak-anaknya bisa sekolah tapi keterbatasan yang membuat mereka tidak bisa ke sekolah. Misalnya orang tuanya harus ke hutan, yang bisa lebih dari 2 minggu, hingga terpaksa anak-anaknya diajak sekalian ke hutan, atau yang berada di pantai ketika musim ikan, terpaksa anak-anaknya tidak bisa sekolah.

Foto di bawah ini menunjukkan seorang murid membawa adiknya di kelas karena Bapa dan Mamanya lagi di kebun.

Anak-anak di Papua ingin bersekolah dengan layak seperti anak-anak di Jawa | Foto: Dok. Hendro

Mendengar carita dik Hendro berjuang untuk meningkatkan harkat martabat anak-anak Papua lewat pendidikan, saya membayangkan tidak semua di antara kita yang sudah terbiasa hidup di kota-kota besar yang keluar masuk mal, nonton film di bioskop dan makan di resto-resto yang modern dengan tertawa-tertawa di bawah sinar lampu yang terang, mau terjun langsung ke desa-desa gelap terpencil dan terbatas sarana serta prasarana yang memadai di Papua, seperti yang dilakukan dik Hendro ini.

Dia bekerja tanpa pamrih untuk mendidik anak-anak bangsa di Papua tanpa mempedulikan latar belakang suku dan agama, yang penting anak-anak republik ini pintar-pintar. Bagi Hendro yang muslim taat ini, kehangatan anak-anak Papua, para ketua adat dan gereja, para kepala desa merupakan sesuatu yang sangat berharga dan berkesan dibanding kehidupan perkotaan yang penuh glamor itu, dan bagi Hendro, mereka itu adalah keluarga besar sebangsa dan setanah air.

Tentu Hendro tidak sendirian, masih banyak orang-orang muda Indonesia seperti dia yang punya dedikasi tinggi berkarya di Papua, ada prajurit-prajurit muda TNI, anggota Polri, dokter, perawat, dosen, guru, pegiat sosial, dan lain-lainnya yang tanpa berteriak “Aku NKRI” dan mau meninggalkan kemewahan kota, tapi lebih banyak bekerja tanpa pamrih dan tidak demi pencitraan.

Mereka ini terlewat dari perhatian media dan perhatian kita semua, yang merasa lebih NKRI. Semoga dengan karya mereka-mereka para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” ini, membuat Damai di bumi Papua.

Editor : Setyanegara

Artikel ini pernah dimuat di “good news from indonesia”

 







Tags: , ,
banner 468x60