Terlihat Sulit, DIKST Ajarkan Strategi Gaet Investor Bagi Startup

Terlihat Sulit, DIKST Ajarkan Strategi Gaet Investor Bagi Startup




Oleh: Riris Septi Arimbi
(Tim INSTAIN & Entrepreneur di bidang Art Maker)

Sebagian besar pelaku startup seringkali menggaet investor melalui ajang perlombaan maupun pitching dihadapan investor. Kendati terlihat lumrah, rupanya masih ada cara lain untuk memperoleh suntikan dana investasi. Hal ini dikupas dari sudut pandang investor, dalam webinar INSTAIN (Inkubasi Startup Inovatif) ke-10 yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) – ITS dan bertajuk, “Investasi Bagi Startup”, Kamis (4/12) malam.

Berinvestasi dalam startup adalah sebuah tantangan. Selain berisiko tinggi, juga dibarengi dengan pengembalian yang tinggi pula. “Startup yang perlu dihindari adalah perusahaan yang overhyped dan overpromising, serta industri berisiko,” terang Made Suryadana.

Selain itu, Made juga menyayangkan banyaknya pelaku startup yang justru gagal setelah memperoleh investasi. “Banyak sekali anak-anak yang mengajukan proposal, dana sudah diajukan, lalu gagal. Mereka biasanya punya mainan baru, mainan lama tidak digubris lagi, atau diberikan ke orang lain. Dan tidak jelas visi-misinya,” tutur Direktur Utama PT Wirani Sons tersebut.




Hal ini juga yang mempengaruhi pertimbangan investor dalam menanam modal. Menurutnya, investor lebih suka mengenal terlebih dahulu profil founder startup secara personal.

“Kalau tertarik dan sudah bergaul, akan membuat investor lebih percaya,” ungkapnya.

Menurutnya, sangat penting untuk bergaul dengan orang-orang dengan level yang lebih tinggi. “Jika bergaul bergaul dengan yang lebih rendah, susah mencari sebuah bahasa yang sama,” jelasnya.

Selain itu, jangan lupa mencari testimoni pelanggan. Jika sudah memiliki produk, akan sangat memudahkan untuk mencari investasi. Terakhir, Made juga mengingatkan bagi para pelaku startup untuk tak lupa membangun chemistry dengan investor dan pelanggan.

“Aliran Nongkrong”, Gaet Investor Tanpa Ikut Lomba
Selain Made, ada juga Mochamad Tibiyani yang akrab disapa Cak Tibi, turut mambagikan pengalamannya dalam dunia investasi. Ia menjelaskan mulai dari Start with Why, Business Model Canvas (BMS), bagaimana mencari investor bagi pemula, hingga tipe-tipe investor. “Startup tidak gagal dikarenakan kekurangan produk. Mereka gagal karena kekurangan konsumen dan model bisnis yang tidak menghasilkan profit,” ujar Cak Tibi mengutip perkataan Steve Blank.

Cara umum mencari investor bagi pemula di awali dengan mengajukan proposal. Dilanjutkan dengan presentasi yang menarik, menjelaskan risiko usaha, membuat strategi usaha, hingga mengikuti pameran dan kompetisi, membuat list calon investor, membuat laporan keuangan, dan sebagainya. Kepercayaan perusahaan juga menjadi kunci.
Tipe-tipe investor pun ada beragam. Mulai dari pra-investor, investor pasif, dan investor aktif.

“Tipe yang kedua (pasif investor) diperkirakan ada 80 persen di Indonesia. Investor di Indonesia yang paling umum saya temui. Kalau aktif investor di Indonesia, lima tahun ini sudah mulai tumbuh banyak,” terang CEO IPOS tersebut.

Mulailah dengan Kenapa, Why? Jika membangun Startup karena butuh uang, investor tidak akan ada yang tertarik. Sebaliknya, buatlah kebermanfaatan untuk sekitar. Yang kedua adalah bagaimana mencari investor. Apakah melalui event atau nongkrong, serta apa yang akan ditawarkan kepada para investor.

“Setiap jenis investor umpannya berbeda. Pendekatan tiap investor berbeda. Yang tetap adalah value proportion-nya,” tutur Cak Tibi.
Ada banyak startup terpuruk dan gagal karena salah memilih target investor. Cara mencari investor bagi pemula adalah dengan memahami kamu siapa, dan investor seperti apa yang dibutuhkan.

Tak jauh berbeda dengan Made, Cak Tibi juga menekankan pentingnya pergaulan. Lima orang terdekat Anda, lanjutnya akan mempengaruhi hidup Anda.

“Saya bukan penganut aliran ikut lomba. Saya dulu aliran nongkrong, ngopi, tapi di negara sebelah (baca: Singapura). Di negara sebelah enaknya suku bunga rendah untuk menabung,” ujar pria berkacamata tersebut.

Menurutnya, CFO (Chief Financial Officer) harus suka nongkrong. “Dan nongkrongnya harus di luar orbitnya dia. Lebih baik mencari investor ke negara sebelah, karena arsitektur finansialnya jauh beda sama kita,” tandasnya.

Jika bisnis sudah berjalan, maka proses mencari investor akan lebih mudah. Juga perlunya mencari partner strategis, yang memiliki produk yang beririsan dengan kita, sehingga yang menjadi capaian adalah ke jaringan yang lebih luas.

Kontak Person Tim INSTAIN (Inkubasi Startup Inovatif):
1. Riris Septi Arimbi (+62 822-3636-1611)
2. Baroto Tavif Indrojarwo (+62 813-3152-2595)
3. Machsus (+62 812-3215-364)

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60