Uskup Agung Ignatius Suharyo: Kekuasaan yang tidak mendengarkan kritik akan tumbang

Uskup Agung Ignatius Suharyo: Kekuasaan yang tidak mendengarkan kritik akan tumbang
Uskup Agung Ignatius Suharyo



JAKARTA – “Dalam sejarah juga jelas ketika kekuasaan tidak mendengarkan kritik-kritik bahayanya adalah tumbang itu selalu terjadi seperti itu bukan hanya di Indonesia tetapi di di mana pun akan terjadi. Oleh karena itu kekuasaan dan kritik itu dua hal yang mesti berjalan bersama-sama,” kata Uskup Agung Ignatius Suharyo, dalam channel Youtube Hersubeno Point.

Jadi kalau para akademisi itu menyerukan seruan moral, katanya, itu tanggung jawab mereka dan ditujukan jelas kepada institusi yang memegang kekuasaan.

“Dinamika seperti itu dalam sejarah selalu ada, moga-moga seruan-seruan seperti itu didengarkan, harapannya itu,” jelas Uskup.

Sikap dari Uskup Agung Jakarta itu sesungguhnya sudah bisa kita deteksi dari pernyataan resmi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik yang mengeluarkan pernyataan bersama di Surabaya tanggal 3 Februari 2024. Tetapi kita tidak menduga kalau kemudian sampai ada ucapan resmi dari Uskup Agung ini.

Pernyataan sikap Rektor/ketua perguruan tinggi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia tentang dinamika politik menjelang Pemilu 2024 diantaranya menyatakan, sangat resah dengan kondisi di tanah air atas rusaknya tatanan hukum dan demokrasi Indonesia menjelang Pemilu 2024.

Praktik penyalahgunaan kekuasaan Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) serta penegakan hukum yang semakin menyimpang dari semangat Reformasi dan konstitusi negara telah mengoyak hati nurani dan rasa keadilan bangsa Indonesia, katanya.

“Untuk itu kami menyerukan kepada seluruh pihak yang berkepentingan terhadap terselenggaranya Pemilu 2024 yang berkualitas bermartabat jujur dan adi,” tegas Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia yang mewadahi 24 Perguruan Tinggi tersebar disleuruh Indonesia.

Sebelumnya, Rektor Universitas Katolik Sugio Pranoto Semarang Ferdinand Hindarto sempat didatangi oleh seorang petugas kepolisian dari Polrestabes Semarang untuk membuat sebuah video yang berisi testimoni sanjungan atau pujian terhadap kinerja pemerintahnya Presiden Jokowi. 

Petugas kepolisian Itu mengirim video-video contoh testimoni yang dibuat oleh Rektor dari perguruan tinggi yang lain, seperti Rektor  Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, Universitas Diponegoro Semarang dari UIN Semarang dan juga dari kampus swasta lainnya.

Namun Rektor Ferdinand Hindarto tetap menolak untuk membuat testimoni semacam itu.

“Begini saya tahu panjenengan menjalankan tugas tetapi harus menghormati pilihan saya. Tolong hormati pilihan kami,” jawab rektor kepada polisi.

EDITOR: REYNA

 




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=