Anorawi Institute Gelar Diskusi Publik Tangkal Isue Hoax Dan Paham Intoleran

Anorawi Institute Gelar Diskusi Publik Tangkal Isue Hoax Dan Paham Intoleran

Mataram, Zonasatu News –Anorawi Institute Gelar diskusi publik  Penguatan budaya literasi masyarakat dalam rangka antisipasi penyebaran hoax dan paham intoleran,  di aula gedung PGRI Mataram, Selasa (30/7).

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam diskusi itu seperti ketua MUI Provinsi NTB,  Prof.  Saiful Muslim,  plt kadiskominfo Provinsi NTB I Gde Putu   Ariadi , Ketua KNPI NTB,  Hamdan Kasim, Kabid Humas Polda NTB AKBP. Purnama, dan sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Mataram

Ketua panitia kegiatan Rahmat Riadi dalam sambutanya mengajak semua pihak untuk menguatkan budaya literasi kepada pemuda di kota Mataram karena pemuda literasinya masih kurang. Sehingga harus ada gerakan penguatan literasi, melalui kegiatan ini dan diharapkan pengetahuan tentang bahaya penyebaran informasi hoax itu meningkat dan sosialisai bahaya ditengah masyarakat masif. Sehingga masyarakat teredukasi sendiri dengan kegiatan ini.

“Melalui kegiatan ini akan mampu meng-edukasi pemuda untuk menangkal penyebaran berita hoax dan paham Intoleran,” tegas Rahmat.

Sementara Wali kota Mataram Akhyar Abduh dalam sambutanya yang disampaikan oleh kadiskominfo Kota Mataram I Nyoman Suandiasa menjelaskan literasi menjadi cara bijak menyikapi berita Hoax baik dikehidupan nyata maupun di dunia maya sehingga budaya literasi perlu ditanamkan dari lingkup terkecil yaitu keluarga.

“Melalui diskusi publik ini kita sama-sama berkomitment menguatkan budaya literasi mulai dari orang dekat kita masing-masing,”terangnya.

Ketua MUI Provinsi NTB,  Prof.  Saiful Muslim mengatakan jika saat ini banyak isue yang beredar tentang adanya kampus yang terpapar  radikalisme dan Paham Intoleran di Kota Mataram, sehingga harus ada gerakan yang mampu membendung paham itu dengan semua lembaga harus hadir seperti MUI juga harus memberikan bimbingan supaya mereka tidak larut dalam paham itu.

“Kita akan bimbing mereka, jika mereka sudah terpapar Radikal dan Intoleran itu,  dengan memberikan bacaan yang benar dan tidak menjurus kepada paham itu,”ungkap Saiful muslim.

Lebih lanjut ia, paparkan tentang media sosial (medsos) harus di gunakan sebagai medium bermuamalah.

“Dengan bermedsos, kita tidak mengembangbiakkan intoleran dengan dalih kebebasan berpendapat. Media sosial harus di gunakan untuk bermuamalah, tentu yang baik-baik untuk di konsumsi,”cetusnya.

Secara terpisah, Ketua KNPI NTB, Hamdan Kasim, mengatakan informasi bohong yang memprovokasi, itu soal cara pandang atau bacaan anak-anak muda yang di nilai minim. Sebab kalau  ditelaah penyebab dari intoleran itu, awalnya tidak terlepas dari informasi yang di terima di awal.

“Saya coba gabungkan antara Hoax dan intoleran, sebenarnya, ini soal cara pandang, artinya apa yang kita lihat itulah yang terjadi dan di anggap sebagai kebenaran. Hal itu di sebabkan oleh minimnya budaya literatus seseorang, sehingga semua situs berita di anggap semua benar,”ungkapnya.

Kegiatan diskusi itu di tutup dengan deklarasi bersama anti  berita Hoax dan paham Intoleran oleh semua peserta dan narasumber.

Penulis laporan : Arman 

Editor : Setyanegara 

 

 

 

Tags:
banner 468x60