Catatan Pilkada Surabaya (2) : PR Besar Penyelesaian Kasus Pasar Turi

Catatan Pilkada Surabaya (2) : PR Besar Penyelesaian Kasus Pasar Turi




ZONASATUNEWS.COM, SURABAYA— Ingat Tanah Abang, ingat Jakarta. Ingat Pasar Turi, ingat Surabaya.

Begitulah posisi Pasar Turi dulu. Kalau Pasar Tanah Abang merupakan pasar grosir wilayah Indonesia bagian barat, Pasar Turi dulu merupakan pasar grosir yang menopang kebutuhan pedagang wilayah Indonesia bagian timur.

Pasar Tanah Abang makin besar, tapi Pasar Turi hancur, remuk. Kebakaran Pasar Turi diikuti kebakaran ekonomi para pedagang Surabaya.

Sudah 2 Walikota tak bisa menyelesaikan dengan tuntas kasus yang menimpa Pasar Turi. Sejak Walikota Bambang DH, hingga Risma yang mimpin 2 periode, kasus Pasar Turi tetap mangkrak.

Dampak buruk kasus Pasar Turi menumpuk-numpuk. Menghancurkan sendi ekonomi ribuan pedagang. Sebagian besar dari mereka adalah para pengusaha kecil.

Tidak hanya ekonomi. Juga korban jiwa. Para pedagang, disebabkan tidak jelas nasibnya, mental dan jiwanya terguncang, banyak yang stres, hingga meninggal.

BACA JUGA :

Saya mengenal beberapa pedagang yang memiiki kios disana. Setelah kebakaran (atau dibakar?) itu, sampai sekarang belum lagi bisa berdagang. Kiosnya tidak ada. Modalnya sudah ludes.

Ada yang mengatakan Pasar Turi sengaja dibakar. Entahlah. Bisa saja ya. Tapi sulit dibuktikan. Itu sudah tidak penting lagi. Yang jelas nasib ribuan pedagang ikut terbakar. Hingga kini, jejak penyelesaaian belum kelihatan.

Presiden SBY pernah datang ke Pasar Turi. Mendengankan keluhan para pedagang. Namun saat itu Walikota Bambang DH tidak mau hadir. Hero!! Walikota tidak mau hadir di acara Presiden. Diwilayahnya pula.

Saat itu orang mafhum. Beda partai politik. SBY Partai Demokrat. Presiden. Penguasa. Bambang DH Walikota, dari PDIP. Oposisi.

Saya berpesan kepada calon Walikota Surabaya mendatang. Tinggalkan cara pandang lama dalam menangani kasus Pasar Turi. Anggap saja Pasar Turi baru saja terbakar. Butuh penyelesaian segera. Dan itu hanya bisa tuntas bila Walikota serius menangani.

Bila tidak serius, ya seperti dulu-sekarang. Pasar Turi tinggal kenangan. Segera buat kebijakan baru. Tutup kasus Pasar Turi. Buat monumen disana untuk mengenang bahwa pernah ada Pasar Turi yang dulu terkenal.

Silakan Walikota meresmikan monumen itu. Potong pita. Tepuk tangan. Lupakan pedagang yang menangis. Menjerit. Anggap saja mereka seperti pahlawan yang berkorban untuk bangsanya.

Saya tidak bisa memperkirakan. Walikota mendatang seperti apa dalam memandang kasus pasar Turi.

Tapi saya tahu satu hal. Para pedagang Pasar Turi dan keluarganya, mereka sangat tertekan, terdolimi, dan teraniaya. Do’a orang-orang teraniaya itu makbul.

Penulis : Budi Puryanto

EDITOR : SETYANEGARA







Tags:
banner 468x60