Dulu Dikejutkan Ternak Anjing di Solo, Kini Ternak Babi Di Sragen

Dulu Dikejutkan Ternak Anjing di Solo, Kini Ternak Babi Di Sragen




Sragen, Zonasatu News –Saat ini lagi viral terkait penutupan kandang babi di rumah Ketua RT 001 Dukuh Babad Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen, Kamis (5/9/2019). 

Pemerintah Desa Ngarum, Kecamatan Ngrampal, Sragen, menggelar mediasi untuk mencari solusi terbaik ihwal polemik kandang babi di Dukuh Babad RT 001 dan RT 002, Desa Ngarum, Ngrampal, Kamis (5/9/2019).

Mediasi yang diadakan di rumah Ketua RW 001 Dukuh Babad, Semin, pada Kamis siang itu dihadiri sekitar 20 warga perwakilan dari dua RT terdampak. Hadir pula kakak beradik pengusaha pemilik ternak babi, Dewi Widoreto dan Dian Palupi

Dalam kesempatan itu Dewi Widoretno menyampaikan kronologi pembangunan kandang babi yang dimulai Januari 2018 lalu. Dia menyiapkan kandang itu dalam waktu tiga bulan.

Tujuan investasi di wilayah Ngarum, kata Dewi, hanya ingin berbagi dan membantu warga agar mendapatkan lapangan pekerjaan. Lokasi yang digunakan Dewi dan Dian untuk beternak babi itu milik warga Babad yang disewa.




Sebelum membuat kandang, Dewi sempat meminta persetujuan warga setempat. Dewi mengaku memiliki bukti persetujuan 14 orang warga yang disaksikan ketua RT setempat sehingga kandang bisa dibangun.

Setelah berjalan, tiba-tiba Dewi dipanggil Satpol PP Sragen dan diberi tahu ada keluhan warga terkait dengan bau tidak sedap. Dewi pun diundang DPMPTSP Sragen untuk meminta kejelasan terkait izin kandang babi itu.

Belakangan terjadi demonstrasi warga yang menolak kandang babi itu. “Berdasarkan bukti yang ada, saya bisa saja membawa ke ranah hukum. Tetapi bukan itu yang saya inginkan. Kami ingin ada solusi yang terbaik agar kandang tetap jalan dan warga bisa menerima,” katanya.

Dian menambahkan kandang itu sudah hampir dua tahun ada. Dian mengatakan siap mengurus perizinan sesuai ketentuan pemerintah. Dia pun siap memperbaiki sarana dan prasarana kandang untuk mengatasi dampak lingkungan.

“Modal yang kami keluarkan sekitar Rp1 miliaran dan kami belum memetik hasilnya. Sekarang populasinya 240 ekor. Kami akan ikuti keputusan Pemkab Sragen untuk pengosongan secara bertahap. Kami juga tetap mengurus perizinan,” katanya saat ditemui Solopos.com seusai mediasi.

“Kalau dari investor mau menuntut ke jalur hukum silakan karena hal itu hak yang bersangkutan. Kalau mau mencari celah perizinan lainnya juga dipersilakan,” ujarnya.

Belum diperoleh informasi hasil dari proses mediasi tersebut.

Sebelum ini di Solo, tidak jauh dari Sragen juga dikejutkan maraknya penjualan daging anjing diwarung -warung umum.

Hasil investigasi dari komunitas Dog Meat Free Indonesia (DMFI) menunjukkan Kota Solo menjadi pusat dari perdagangan daging anjing di Pulau Jawa. Investagi tersebut menyebut ada 82 warung yang terang-terangan menjual daging anjing di Solo. DMFI juga mendapatkan angka 13.700 anjing yang dikonsumsi di Solo setiap bulan.

Namun, dari sisi kebijakan, Pemkot tidak bisa melarang peredaran dan konsumsi daging anjing. Sebab, secara regulasi tidak ada aturan yang mengatur mengenai hal tersebut.

 







Tags: , , ,
banner 468x60