Jatilan : Menguak Tabir Misteri dibalik Kesurupan Penari Seni Jatilan

Jatilan : Menguak Tabir Misteri dibalik Kesurupan Penari Seni Jatilan




Mendengar istilah jatilan sesorang pasti terobsesi dengan lenggak lenggok gemulai paran penari yang tengah mengalami kesurupan, pertunjukan seni tradisional jenis ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Yogya pada umumnya. Tebaran wangi aroma kembang, kepulan asap kemenyan dan bau menyengat dupa senantiasa melekat erat, sehingga membuat suasana mistis semakin tampak jelas”

Penulis : Bambang Widodo

ZONASATUNEWS.COM, YOGYAKARTA– Apa yang saya tulis ini kemungkinan berdampak pro kontra dikalangan masyarakat, khususnya dilingkup seniman dan para pelaku seni jatilan. Penulis tidak bermaksud untuk menjudge atau mendiskreditkan tentang pertunjukan seni jatilan. Tulisan ini berdasarkan pemahaman, dan pengalaman penulis ketika melakukan penelitian dilapangan.

Diakui atau tidak seni tradisional ini semakin mendapat hati dari masyarakat dari pemerintah terkait, sehingga memicu pesatnya perkembangan seni jatilan di wilayah Yogyakarta. Penulis mencoba mengambil sample di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Ada banyak jumlah kelompok pelaku jatilan yang semuanya identik dengan dengan pertunjukan yang berbau mistis. Bisa dikatakan, pertunjukan jatilan kalau tidak ada unsur mistisnya, meski tariannya begitu indah bisa dipastikan sepi penonton, karena unsur mistis disini sudah terlanjur mendominasi permainan jatilan itu sendiri.

Benarkah Pawang Jatilan Mampu Memasukkan Jin kedalam Raga Seseorang?

Dalam upaya untuk menjadikan seorang penari jatilan kesurupan (ndadi istilah warga lokal Gunungkidul), sang pawang dengan mulut komat kamit melakukan ritual khusus seolah sedang memasukkan sesuatu keraga pana penari, terlepas ritual tersebut, para penari jatilan semburat dengan tatapan mata tajam, dan menunjukkan tingkah aneh. Ada yang makan kembang, menari nari sekehendak hati. Ada yang melompar lompat, bahakan ada yang meronta, mengamuk tidak karuan, kondisi itulah yang sangat dinanti dan diharapkan penonton.

Tebaran aura mistis yang diciptakan sang pawang berhasil memikat hati para penonton. Lantas, benarkah para penari yang bersikap aneh atau tampak kesurupan tesebut lantaran kemasukan khodam atau Jin dari sang Pawang ?.

Pertanyaan inilah selama ini masih menghantui pikiran sebagian besar masyarakat penikmat seni jatilan. Dibalik rasa penasarannya tentang jin atau mahkluk halus yang merasuki para pemain jatilan, para penikmat yang terlanjur jatuh hati seni jatilan menunggu kepastian jawaban dari pertanyaan ini.

Mitologi tentang kesurupan didunia seni jatilan yang berkembang sangatlah mendominasi paradigma masyarakat pelaku dan penikmat jatil pada umumnya. Mitologi kesurupan selalu dikaitkan dengan sosok mahluk halus, jin, hantu, atau sejenisnya. Dari mitologi tesebut muncullah beragam gambaran sosok sosok mahluk astral, yang dipropagandakan akan mengganggu manusia apabila keinginannya tidak dipenuhi.

Karena munculnya beragam presepsi masyarakat tentang mitologi jin, atau hantu yang bisa merasuki para penari jatilan, maka mendororong pemahaman bahwa bentuk dan sosok jin atau hantu tersebut juga berbeda beda sesuai dengan budaya dan kerifan lokal masing masing daerah. Menurut penulis, wujud dari sosok jin atau hantu sebenarnya dipengaruhi oleh keyakinan dan halusinasi masing masing orang, dan hal itu ditunjang oleh mitos dan budaya dimana seseorang tersebut berada.

Penulis katakan, bahwa seorang Pawang sejatinya tidak bisa memasukkan jin, hantu, bahkan arwah orang yang sudah mati ke raga orang lain untuk dibuatnya kesurupan. Penari jatil tampak seperti orang kerasukan atau kesurupan sebenarnya hanya dipengaruhi oleh mainset dalam pikirannya sendiri. Sebab dirinya sudah begitu meyakin bahwa ritual yang dilakukan sang pawang dengan beragam sesaji mampu mengundangkan mahluk astral, sehingga percaya ditempat tersebut banyak dihuni mahluk mahluk ghaib, dan fenonemena itulah berhasil mengendelikan pikranya kekonsep otak bawah sadar.

Dan muncullah dalam otaknya kondisi halusinasi. Perlu dipahami juga, manusia mempunyai 4 konsep otak, alpha, beta, delta dan teta, masing masing konsep otak mempunyai peran yang berbeda. Salah satunya ada yang berperan untuk membawa pikiran seseorang ke alam bawah sadar, dan alam halusinasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keyakinan dan pikiran manusia itu sendiri.

Penulis tegaskan, dalam peristiwa kerasukan, kesurupan atau ndadi (istilah jawa lokal) tidak ada unsur jin, hantu, bahkan arwah sama sekali. Peristiwa kesurupan lebih cenderung merujuk ke kasus psikologi, hal hal ghaib yang dikaitkan dengan peristiwa kesurupan hanyalah berperan sebagai penguat psikis yang dialami korban kesurupan. Keyakinan sesorang yang begitu kuat tentang hal hal mistis atau ghaib, cenderung mendongkrak halusinasi dalam pikiran, sehingga berhasil menekan jiwanya, dan menyeretnya ke konsep otak tertentu.

Hantu sejatinya bagian dari materi cahaya

Cerita tentang penampakan wujud hantu atau mahluk astral seperti pocong, kuntilanak, genderowo, dan sejenisnya yang selama berkembang dan diyakini oleh sebagian besar masyarakat kita, sebenarnya hanyalah mitos. Meski diakuinya cerita itu sudah menjadi konsumsi menarik sebagian besar masyarakat kita. Apalagi dibumbui dengan cerita cerita mnyeramkan merujuk pada tempat tempat yang diyakini angker dan disakralkan.




Tangkapan kamera ditempat angker, penulis seringkali menemui hal seperti itu.Membuktikan bahwa mahkluk astral itu sebenernya bola cahaya,lah berwujud sosok karena didorong oleh pikiran manusia itu sendiri

Penulis menyimpulkan, bahwa cerita misteri berbagai penampakan wujud ditempat tempat terentu yang dipercayai keangkerannya, kurang atau bahkan tidak diyakini kebenarannya. Selama bertahun tahun penulis menjelajahi berbagai tempat yang konon diyakini tentang keangkerannya, sama sekali tidak pernah menjumpai penampakan wujud sosok ghaib jenis apapun.

Ada sebagian masyarakat menyatakan., wujud sosok ghaib seperti hantu wanita cantik, hantu berwajah seram, dan sejenisnya itu dapat ditangkap kamera bahkan bisa dirakam video. Sekali lagi penulis katakana bahwa cerita atau propaganda tentang wujud penampakan mahluk astral itu sama sekali tidak benar.

Penulis justru menggunakan pendekatan dengan teori materi cahaya, bahwa sebenarnya hantu tersebut merupakan bagian dari materi cahaya. Hal ini bisa dibuktikann dengan pengalaman penulis diberbagai wilayah. Dimana. disatu wilayah tersebut ada tempat yang diyakini angker dan dipercayai sering terjadi penampakan mahluk halus, disitu pulalah penulis mendatangi dan membuktikan kebenaranynya, ternyata apa yang didapat penulis? Penulis sama sekali tidak menemukan wujud sosok ghaib yang selama ini diceritakan masyarakat luas.

Dari hasil jepretan kamera, penulis hanya bisa menangkap bulatan bola bola cahaya beraneka warna. Dan hal itu terjadi diberbgai tempat angker yang berhasil didatangi penulis. Bola bola cahaya itu senantiasa terus bergerak, sedangkan yang membedakan dengan partikel lain, bahwa bola bola cahaya itu gerakanya cenderung bebas, sama sekali tidak terpengaruh oleh arah angin, dan tidak tabrakan dengan lainnya.

Bola-bola cahaya tersebut juga menghindari tabrakan dengan apapun dan siapapun termasuk dengan tubuh manusia. Jadi hantu tersebut bisa dipastikan tidak mau masuk atau dimasukkan ke raga manusia, apalagi menyerupai.

Hantu merupakan materi cahaya yang hanya bisa ditangkap kamera dalam kondisi tertentu ketika gelap malam.

Penulis Adalah : Guru Besar Beladiri Klasik Cakra Kembang Karta Bumi Gunungkidul







banner 468x60