Kasus Pembunuhan Warga PSHT Di Madiun : Sadis, Dibunuh Didepan Anaknya, Ibu Korban Tuntut Pelaku Dihukum Mati

Kasus Pembunuhan Warga PSHT Di Madiun : Sadis, Dibunuh Didepan Anaknya, Ibu Korban Tuntut Pelaku Dihukum Mati




ZONASATU NEWS, MADIUN–Heru Susilo alias Heru Banjarejo, warga Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, yang juga warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun, tewas setelah ditusuk dengan pisau oleh Heri Cahyono, di depan pintu rumahnya, (1/9), lalu.

Pembunuhan ini menghebohkan warga Madiun. Heru yang dibunuh dirumahnya sendiri itu menyisakan trauma bagi anak dan isteri yang turut menyaksikan pembunuhan sadis itu. Menurut kesaksian istri korban, Heru suaminya dibunuh didepan anaknya yang masih berusia enam tahun.

Motif pembunuhan hingga kini masih misteri. Meskipun pelaku menyatakan dendam pribadi, namun pihak keluarga dan saksi menolaknya. 

Keluarga dan kerabat korban merasa tidak tenang kalau kasus pembunuhan terhadap Heru Susilo belum diusut dengan tuntas. Sarmi, orang tua korban menginginkan pelaku pembunuhan terhadap anaknya agar dihukum mati.

Benarkah kasus pembunuhan Heru hanya dilatar belakangi dendam pribadi, ataukah ada motif lain?

Meski Pengadilan Negeri Kota Madiun telah memeriksa beberapa saksi terkait kasus pembunuhan Heru Susilo warga Banjar Rejo dalam gelar sidang perkara pada hari Senen 9 Desember 2019 dengan terdakwa Heri Cahyono alias Gundul, hal tersebut masih menimbulkan rasa kekawatiran dari pihak keluarga dan kerabat korban.




Pasalnya, selain Jaksa Penuntut Umum masih belum mengajukan tuntutan, pihak keluarga korban juga was was kalau vonis yang akan dijatuhkan kepada pelaku tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebab rumor yang selama ini berkembang kasus pembunuhan Heru bukan dilatar belakangi dendam pribadi.

Sebab menurut keterangan beberapa saksi yang juga masih teman dekat korban, bahwa antara korban dan pelaku tidak pernah saling kenal. Namun menurut pengakuan pelaku, Gundul, dihadapan majelis hakim, dia mengaku dendam kepada korban saat sama sama masih menjadi penghuni Lapas Kelas I Madiun karena saat semasa hidupnya korban dianggap memonopoli judi dadu didalam lapas.

“Saya dendam, saat jadi Bandar dadu di dalam (lapas) tidak mau gentian, ada dua orang musuh saya, selain Heru Banjarejo, satu lagi namanya Agus Hariyanto orang Nambangan Kidul,” pengakuan Gundul dihadapan Majelis Hakim.

Disisi lain, pengakuan pelaku Gundul  bertentangan dengan pernyataan saksi bernama Kamirun 41 tahun warga Banjarejo, dalam surat pernyataannya tertanggal 7 September 2019. Kamirun membantah kalau peristiwa pembunuhan yang dilakukan pelaku Gundul terhadap korban Heru dilatar belakangi dendam. Menurutnya antara korban dan pelaku tidak pernah saling kenal.

Dalam pernyataanya Kamirun membantah keterangan Press Release Kapolres Madiun Kota tertanggal 2 September 2019 yang menyatakan peristiwa pembunuhan tersebut dilatar belakangi oleh dendam pribadi pelaku kepada korban karena pada tahun 2017 pernah terjadi perselisihan antara keduanya di dalam Lapas kelas I Madiun, dan pelaku merasa dipermalukan oleh korban, sehingga pelaku menyimpan dendam kepada korban.

Menurut Kamirun Press Release tersebut tidak benar, dikarenakan korban (Heru dibebaskan dari Lapas kelas I Madiun pada pertengahan bulan Nopember 2016, sehingga pada Tahun 2017 korban sudah tidak berada didalam Lapas.

“Saya juga bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak pernah terjadi perselisihan antara korban dan pelaku selama didalam Lapas kelas I Madiun”, tegas Kamirun dalam surat pernyataannya.

Pernyataan senada juga disampaikan beberapa saksi lainnya diantaranya Joko Susilo 38 tahun warga jalan Pasopati No,45 Josenan Madiun. Saksi dengan inisial Ro warga jalan Sedoro gang 1 Banjarejo Taman Madiun, Ukik Setiawan 40 tahun, alamat jln Genen No.10 Madiun.

Dalam Surat Pernyataannya mereka menegaskan bahwa dari keterangan Press Release Polres Madiun tentang kasus pembunuhan yang dilator belakangi dendam pribadi lantaran pernah terjadi perselisihan antara korban dan pelaku itu tidak benar. Kontroversi antara Press Release dengan pernyataan saksi justru menimbulkan beragam asumsi dan rumor yang berkembang ditengah masyarakat Madiun.

Sidang Ditunda 6 Januari 2020

Pengadilan Negeri Kota Madiun, Jawa Timur, telah selesai memeriksa belasan saksi kasus pembunuhan terhadap Heru Susilo alias Heru Banjarejo yang juga warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun, dengan terdakwa masing masing Heri Cahyono alias Gundul bin Budi (berkas sendiri), Irwan Yudo Hartanto alias Kentir bin Munadi dan Hari Prasetyo alias Ateng bin Bejo (berkas jadi satu), Senin 9 Desember 2019.

Atas permintaan JPU, majelis hakim menunda sidang pada tahun depan, Senin 6 Januari 2020.

Dibunuh didepan anaknya 

Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), menghadirkan saksi orang tua korban, Sarmi, istri korban, Hermin serta dua tetangga korban masing masing Katirah dan Upik Rahayu. Selain itu, JPU juga memeriksa saksi ‘mahkota’ (terdakwa menjadi saksi untuk terdakwa lain dalam rangkaian satu perkara). Mereka yang diperiksa sebagai saksi mahkota, yakni Irwan Yudo Hartanto alias Kentir dan Hari Prasetyo alias Ateng. Keduanya diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Heri Cahyono alias Gundul. Pun begitu sebaliknya, Heri Cahyono juga diperiksa sebagai saksi dengan terdakwa kedua rekannya. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa.

Kepada majelis hakim, ibu korban, Sarmi, selain memberikan kesaksian, dengan histeris dan berurai air mata, ia meminta kepada majelis majelis agar terdakwa dijatuhi hukuman mati. Permintaan ibu kandung korban ini, diikuti isak tangis rekan rekan korban yang duduk di kursi pengunjung.

Sedangkan istri korban, Hermin, memberikan kesaksian, suaminya dibunuh oleh Gundul di depan mata anaknya yang masih berumur enam tahun. Pasalnya, saat kejadiang, anaknya berada di luar.

Setelah ditusuk oleh terdakwa Gundul, korban sempat menemuinya. “Mah, aku ditusuk ki piye (Ma, aku ditusuk ini gimana?),” terang istri korban, Hermin.

Gundul dkk minum sebelum beraksi 

Sedangkan kesaksian Erwan dan Hari Prasetyo untuk terdakwa Gundul, sebelum kejadian mereka bersama sembilan orang rekannya, termasuk Gundul, minum minuman keras di bekas gedung bioskop Arjuna.

“Kemudian kami diminta mengantar mencari rumah Heru Banjarejo. Saya dibonceng Bambang. Namun Bambang tidak jadi ikut,” kata Ateng.

Sedangkan keterangan Gundul di hadapan majelis hakim, ia mengaku dendam dengan korban karena saat sama sama berada Lapas Klas I Madiun, korban dianggap memonopoli sebagai bandar dadu di dalam Lapas.

“Saya dendam! Dia (korban) saat jadi bandar dadu di dalam (Lapas) tidak mau gantian. Ada dua orang musuh saya. Selain Heru Banjarejo, satu lagi namanya Agus Hariyanto, orang Nambangan Kidul,” terang Gundul, di hadapan majelis hakim.

Karena itu, kemudian ia membeli pisau gunung di depan Carefure seharga Rp.80 ribu untuk menusuk korban. Pisau itu dibelinya selang 17 hari setelah ia keluar dari Lapas atau lima hari sebelum kejadian penusukan. Dengan mengajak mengajak Irwan, Hari dan Bcmbang (nama terakhir tidak jadi ikut karena turun di Bundaran Taman), ia mencari rumah korban dan terjadilah penusukan.

JPU tidak percaya begitu saja atas alibi Gundul menusuk korban hingga tewas. “Masak cuma karena bandar dadu, saudara sampai menusuk korban. Mungkin ada hal lain antara saudara dengan korban sehingga membuat saudara dendam,” tanya JPU.

Namun Gundul tetap kokoh pada jawabannya. “Iya, karena dia tidak mau gantian menjadi bandar dadu,” jawabnya dengan menunduk.

Usai pemeriksaan saksi mahkota, sidang ditunda Senin 6 Januari 2020, dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU.

Sementara itu ratusan teman korban dari PSHT Pusat Madiun, tak bisa masuk ke halaman pengadilan karena dibarikade oleh petugas keamanan.

Editor : Setyanegara 

 

 







Tags: , , ,
banner 468x60