Konggres Pancasila XI Kembali Digelar di Yogyakarta

Konggres Pancasila XI Kembali Digelar di Yogyakarta
Livi Zheng, saat menjadi pembicara dalam Kongres Pancasila X di balai Senat UGM, Jumat (24/8/2018)

Zonasatu News — KONGRES PANCASILA XI kembali akan digelar Balai Senat UGM Yogyakarta 15-16 Agustus 2019. Tahun lalu acara serupa juga digelar ditempat ini.

Hasil konfirmasi zonasatunews.com kepada panitia konggres, Diasma S Swandaru, Konggres yang mengambil tema  “Aktualisasi Pancasila dalam Merajut Kembali Persatuan Bangsa” ini akan menghadirkan banyak narasumber. Diamtaranya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A- Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed- Alissa Wahid- Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE.- Prof. Hariyono, M.Pd- Prof. Dr. M. Amin Abdullah- Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A- H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D

Seperti yang tersiar di website panitia, konggres ini digelar karena tantangan berbangsa dan bernegara seakan tidak pernah surut dalam mengiringi perjalanan bangsa Indonesia. Dalam perspektif Pancasila sebagai Dasar Negara, berbagai tantangan tersebut perlu dicari solusi pemecahannya secara mendasar, salah satunya dengan meletakkan kembali Pancasila sebagai bagian dari pembelajaran kebangsaan.

“Oleh karena itu, perlu kembali mengaktualisasikan Pancasila sebagai dasar negara sebagai wujud hasil pemikiran para pendiri negara untuk menemukan landasan yang kokoh bagi berpijaknya Negara Indonesia. Keberadaan Pancasila sudah seharusnya mampu kita refleksikan secara kritis sebagai pedoman hidup dan falsafah kehidupan Bangsa Indonesia dalam upaya proses merajut kembali persatuan berbangsa,” tulis panitia dalam website http://www.kongrespancasila.com

Terpisah, Sekretaris Rumah Pancasila, Bagus Taruno Legowo menyatakan, memang setiap tahun diselenggarakan Kongres Pancasila, cuman semenjak pertama kali diselenggarakan, tema-tema yang diusung tidak banyak perkembangan yang berarti. Muter-muter, singkat katanya.

“Satu hal lagi, Kongres Pancasila hanya muter-muter di seputar soal-soal negara dan kenegaraan.Di luar itu belum tersentuh, padahal Pancasila selain ideologi negara, juga adalah falsafah. Sisi Pancasila sebagai falsafah masih kurang digali lebih dalam,” kata Bagus via pesan singkat WA kepada zonasatunews.com, Kamis (1/8/2019).

Saat ditanyakan, apakah ini berarti konggres selama ini hanya formalisme?

“Kesan itu tidak bisa dihindari,” jawab  Bagus

Masih menurut Bagus, secara umum, Pancasila sebagai ideologi sebenarnya sudah terimplementasi, meskipun masih ada plus minusnya. Itu bisa kita lihat pada konstitusi UUD 1945. Ini sudah berjalan dan akan mengalami penyempurnaan-penyempurnaan dalam tataran implementasinya.

“Sebagai falsafah, Pancasila belum berkembang secara signifikan. Ini yang kita mengalami kemunduran, sehingga sering dalam konteks pemikiran, kita sering ketinggalan dan tergagap dalam merespon perkembangan. Kita menjadi reaktif, tidak proaktif.Padahal lahirnya Pancasila itu dilatari oleh kreativisme,” jelas dia.

Mengapa ada kreativisme pada lahirnya PancasIla?Pancasila diciptakan adalah sebagai antithesa terhadap ideologi-ideologi yang mainstream pada saat itu.

“Pancasila adalah antithesa dari liberalisme dan individualisme. Pancasila juga mengoreksi kelemahan dari sosialisme dan komunisme,” tegas Bagus.

Penulisnya laporan : Bambang W

Editor : Setyanegara

 

 

 

 

Tags: ,
banner 468x60