Pilkada Gunungkidul : Idealisme Pelaku Politik Tergadaikan, Demi Ambisi Sesaat

Pilkada Gunungkidul : Idealisme Pelaku Politik Tergadaikan, Demi Ambisi Sesaat
Ketua DPC Partai Demokrat Gunungkidul, Supriyani Astuti, saat menerima pendaftaran bakal calon Bupati Gunungkidul




Oleh : Bambang Widodo, SH

ZONASATUNEWS.COM, JOGJAKARTA–Geliat Pilkada Gunungkidul mulai memanas.Beberapa partai politik harus kehilangan muka dihadapan para simpatisannya. Pasalnya, perilaku para pelaku politik diinternal partai tidak menunjukkan konsistensi dan miltansinya sebagai kader partai, yang notabene sebagai penampung aspirasi dan penyambung lidah rakyat.

Garis partai sudah terabaikan.Idialisme sebagai insan politik luntur oleh ambisi dan pemenuhan kepentingan personal dan kelompok.

Perpecahan ditubuh partai politik kembali terjadi, kepengurusan ambyar karena saling mempertahankan ambisi pribadi. Fenomena politik di Gunungkidul saat ini mungkin menjadi catatan sejarah dikancah pilkada 2020. Para pengurus distruktural bawah nekat mbalelo tidak tunduk dengan instruksi pimpinan pusat.

Garis dan aturan partai yang mengharuskan struktural dibawahnya harus tunduk dan patuh dengan kebijakan dan aturan struktural diatasnya, sengaja diabaikan. Padahal aturan tersebut tertuang dalam anggaran dasar anggaran rumah tangga partai. 

Seperti yang terjadi saat ini. Dari 18 PAC Gerindra di Gunungkidul, 13 PAC diantaranya beralih mendeklarasikan diri mendukung pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sunrayanta- Heri Susanto. Mereka tidak mendukung pasangan Sutrisna Wibawa-Mahmud Ardi yang direkomomendasikan oleh DPP Gerindra.

Begitu juga dengan Partai Demokrat, Strukturak PAC nya juga mengalihkan dukungan yang berbeda dengan rekomendasi DPP. Kondisi carut marut dan dinamika di struktural PAC ini, secara otomatis juga akan berdampak pada pergerakan roda organisasi partai di tubuh DPC.

Tanpa disadari, pembelotan para pelaku politik di Gunungkidul, menjadi catatan tersendiri bagi konstituen dan para simpatisan partai politik pada umumnya. Krisis kepercayaan terhadap para pengurus dan pelaku politik tentu saja terjadi. Bisa dipastikan, para konstituen dan simpatisan partai politik lebih memilih figur calon pemimpin dari inisiatif diri sendiri, tanpa harus mengindahkan himbauan para pengurus partai.

Dan mungkin ini juga menjadi catatan bagi para kandidat yang ingin memenangkan pertarungan Pilkada, pandai pandailah untuk mengambil hati para konstituen.

Saya ibaratkan partai politik hanyalah sebagai gerbong kereta, roda dan mesinnya adalah rakyat. Gerbong akan bisa berjalan manakala roda dan mesinnya normal. Jangan manjakan rakyat atau masyarakat dengan janji janji politik, sebab mereka tidak membutuhkan janji.

Masih banyak cara yang elegan untuk bisa mengambil hati masyarakat tanpa harus boros janji. Perlu diingat, masyarakat sekarang lebih cerdik, ketimbang pelaku politik itu sendiri. Fenomena politik yang terjadi selama ini, menjadikan mereka paham dan lebih mengerti apa yang seharusnya dilakukan dalam memilih Sang Pemimpin.

Antusias masyarakat terhadap politik praktis, sudah lama luntur. Bagaimana mau antusias sedangkan para petinggi partai nya saja sudah kehilangan milatansi dan idealisnya.

Contoh kecil yang membuat warga tidak simpatik terhadap pengurus partai. Ada beberapa pihak membuat gambar gambar guyonan dishare lewat whatsshap, sebagai bentuk apresiasi dari kejenuhan terhadap para pelaku politik. Bukan, bermaksud melecehkan atau merendahkan insan partai politik, itu hanya sebagai bukti bahwa mereka tidak lagi peduli dengan duni perpolitikan.

Sudah saatnya, para insan dan pelaku politik kembali untuk berbenah, tidak ada salahnya untuk lebih meningkatkan Sumber Daya Manusianya, pahami tentang mekanisme dan aturan partai.

Tumbuhkan idealisme dan militansi sebagai pelaku politik. Hilangkan wacana ditengah masyarakat bahwa politik itu kejam. Kuburkan anggapan dunia politik itu tidak ada lawan dan teman abadi, adanya hanya kepentingan pribadi.

Dulu, masyarakat meyakini bahwa para insan pelaku politik adalah tokoh-tokoh militan yang cerdik, cerdas bisa diandalkan demi membela kepentingan rakyat.

Dulu para pengurus partai politik selalu menjadi panutan dan tempat untuk konsultasi bagi masyarakat terkait beragam masalah. Itu cerita dahulu, dahulu….sekali.

Penulis Adalah : Perwakilan (Koordinator Liputan) ZONASATUNEWS.COM Wilayah Jogjakarta







Tags: ,
banner 468x60