Sebut Ustad Adi Hidayat Bukan Ahlussunah, Cara Ketua PWNU Jatim Dinilai Berbahaya

Sebut Ustad Adi Hidayat Bukan Ahlussunah, Cara Ketua PWNU Jatim Dinilai Berbahaya
H Tjetjep Muhammad Yasin, Ketua PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah)




ZONASATUNEWS.COM, SURABAYA – Sejumlah tokoh NU mengaku prihatin menyaksikan cara Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar (KH MM) dalam menyanggah ceramah Ustad Adi Hidayat (UAH) perihal doa iftitah ‘Inni Wajjahtu’.

Cara KH MM ini, dinilai jauh dari kultur NU. Dan bisa mengoyak persatuan antarumat Islam. “Pertama, pakai sebut-sebut Ormas lain, Muhammadiyah. Kedua, mengatakan UAH (ustad di luar NU) itu bukan ahlussunnah waljamaah. Ini berbahaya. Bukan ajaran NU Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan para masyayikh lain,” demikian Ketua Harian Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN), H Cecep Muhammad Yasin seperti dikutip duta.co, Senin (13/9/21).

Menurut Alumni PP Tebuireng, Jombang ini, apa yang disampaikan KH MM harus menjadi koreksi serius. Jangan sampai itu menjadi wajah NU. Karenanya, ia sangat setuju dengan penjelasan Ustad M Fahim, sebagaimana dalam video youtube bertajuk ‘MAUNYA JATUHKAN UAH?, K MARJUKI MUTAMAR BERMODAL GAGAL PAHAM…!’ yang beredar di medsos nahdliyin.

“Hari ini, video tersebut viral di medsos warga NU. Penjelasan Ustad Fahim melalui channel Benteng Aqidah perlu menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai warga NU terus ‘dikileni’ (dipanasi-panasi) untuk membenci Muhamamdiyah, membenci ustad di luar NU. Jadi, kiai jangan provokatif,” urainya.

Masih menurut Gus Yasin, panggilan akrabnya, amalan warga nahdliyin itu, sangat argumentatif, sebagaimana penjelasan Ustad Fahim. Karena itu, tidak perlu provokatif, apalagi merasa paling pintar. “Lihatlah, bagaimana Ustad Idrus Romli (pendekar Aswajah yang dikenal NU Garis Lurus red.) menjelaskan hujjah amalan nahdliyin. Tidak perlu menjelek-jelekkan Ormas lain,” tegasnya.

Sebagaimana kita lihat, Ustad M Fahim, dalam videonya, juga menyesalkan cara KH MM membantah UAH. Ini, katanya, membuat tidak nyaman hubungan antarsemasa muslim. Apalagi soal furuiyah. Sangat tidak layak mempertentangkan masalah furuiyah ke permukaan.

“MasyaAllah! Saya, memang, sejak kecil taashub (fanatik red) kepada Nahdlatul Ulama. Saya memang lahir dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. Bayangkan, saking taashubnya, ketika makan tidak pakai songkok, kata ayah saya, kayak Muhammadiyah. Tetapi, setelah dewasa, saya memahami bahwa NU adalah Aswaja, Muhammadiyah adalah Aswaja, Persis adalah Aswaja, Nahdlatul Wathon adalah Aswaja, FPI adalah Aswaja,” tegasnya.

Ketua Harian Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN), H Cecep Muhammad Yasin.




Masih menurut Ust Fahim, tugas kita adalah bagaimana umat Islam bersatu, dengan begitu kita bisa paham terhadap alur keislaman kita. Jangan karena beda politik, lalu jadi musuh. “Saya sudah menanggapi berkali-kali kesalahan Kiai Juki Mustamar ini. Di sini saya tidak melihat apa latar belakang politiknya, sama sekali, tidak. Tetapi dia harus kita luruskan. Saya ingin sampaikan bahwa anda (KH MM soal UAH) gagal paham,” jelasnya.

“Silakan Anda tidak setuju dengan UAH. Maaf, saya tidak sedang membela UAH. Dan saya tidak suka membela orang, saya lebih suka membela apakah materinya itu benar atau tidak. Jangan tiba-tiba Anda (KH MM) bicara: Jangan percaya ustad di luar NU, kemudian UAH itu ustad di luar Awaja. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. UAH masih dalam bingkai Aswaja. Mestinya klarifikasi dan tabayun dulu,” sarannya sambil menjelaskan secara rinci masalahnya.

EDITOR : REYNA







banner 468x60