Sejak 2019, Hampir Tiap Malam Diperkosa Kakak Iparnya, Gadis Ini Akhirnya Kabur Dari Rumah

Sejak 2019, Hampir Tiap Malam Diperkosa Kakak Iparnya, Gadis Ini Akhirnya Kabur Dari Rumah
Korban bersama orangtua angkatnya, didampingi aktivis Kediri sedang melapor




ZONASATUNEWSCOM, KOTA KEDIRI — Setelah dikabarkan hilang di berbagai media massa, DM (19) warga Kampung Cireundeu Rt/Rw : 06/02, Desa Girijaya Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, kini dilaporkan berada di Kota Kediri, Jawa Timur

Sebelumnya DM telah dilaporkan hilang oleh keluarganya ke Polsek Nagrak, Sukabumi, Kamis (18/11/21).

Usut punya usut ternyata DM bukan hilang, namun sengaja melarikan diri dari rumah. DM merasa tidak kuat lagi menanggung beban akibat perbuatan biadab kakak iparnya.

Diperkosa sejak kelas 2 SMA 

Dia mengaku telah menjadi korban nafsu bejat JMD, kakak iparnya sejak kelas 2 SMA Hingga saat ini, perbuatan kakaknya terus berlanjut. Karena diancam, dia tak kuasa menolak.

Di Sukabumi DM ikut kakak kandungnya, karena ibunya sudah meninggal. Sedang bapaknya sendiri tidak diketahui tinggalnya.

Korban bersama orangtua angkatnya, didampingi aktivis Kediri sedang melapor




 

Puncaknya, karena sudah tidak kuat lagi, dia nekad melarikan diri dari rumah menuju ke Kediri. Yang dituju adalah rumah orangtua angkatnya, Setiyono.

Ayah angkatnya inilah yang selama ini selalu membiayai biaya hidupnya, setelah ditinggal ibunya untuk selamanya.

Dengan Ayah angkatnya inilah DM berani menceritakan sejujurnya perihal nasib tragis yang menimpanya.

Diperkosa sejak 2019, diancam siram air panas 

Saat ditemui media ini, Selasa (23/11/21) di “tempat aman” yang menjadi rumah tinggal sementara, DM bercerita kelakuan bejat kakak iparnya (suami kakaknya).

“Awal mulanya saya diperkosa saat awal bulan Oktober 2019, untuk tanggal dan jam nya saya lupa. Saat itu tengah malam kakak ipar (JMD) memasuki kamar lewat jendela yang didorong. Saat tidur saya kaget ada yang meremas-remas organ vital. Sempat kaget dan langsung terbangun tapi rambut ditarik dan mulut saya langsung dibungkam, sambil diancam bila tidak menuruti nafsu bejatnya saya dan keluarga disuruh keluar rumah dan muka saya diancam disiram air panas,” kata DM.

Setelah kejadian itu, lanjutnya, hampir tiap malam pelaku selalu masuk kamar secara diam-diam untuk memperkosanya.

Bila menolak akan diusir 

“Saya hanya bisa pasrah karena saya masih sekolah kelas dua SMA, kalau saya melawan selalu diancam disuruh pergi dari rumahnya. Serta selalu juga bilang kalau gak mau menuruti nafsu binatangnya nanti kakak kandung dan keponakan saya yang masih kecil-kecil akan diusir semua pergi dari rumahnya, ” lanjut DM.

Pernah saat diperkosa, korban nangis karena takut hamil, sementara dia masih sekolah.

“Jangan perkosa nanti saya masih sekolah nanti kalau hamil gimana? Lalu kakak ipar mengatakan pada saya, tak jamin gak akan hamil kan saya keluarkan di luar, sambil rambut saya ditarik keras. Saya sudah gak kuat sering diperkosa paling sedikit dua kali dalam setiap minggu,” terang DM, sambil mengusap air matanya.

Korban juga mengaku pernah menceritakan pada kakak perempuannya apa yang dilakukan suaminya. Namun kakaknya tidak mau mengantar laporan pada Kepolisan. Alasannya, suaminya membantah tidak melakukan pemerkosaan itu.

Putus asa lalu nekad kabur

“Seolah keluarga tidak peduli pada nasib saya, merasa putus asa, saya memutuskan pergi tanpa pamit dan menuju Kota Kediri menemui Ayah angkat saya yang selama ini peduli membiaya sekolah, meskipun bukan ayah kandung tapi beliau sudah saya anggap seperti Ayah kandung sendiri,” ujar DM.

Aktivis Kediri peduli 

Kejadian memilukan itu akhirnya tercium aktifis perlindungan perempuan dan anak yang juga Ketua Ormas PEKAT IB Kota Kediri, Roy Kurnia Irawan.

“Setelah mendapat informasi dari sahabat terkait anak gadis tersebut telah dilaporkan hilang oleh keluarganya, maka saya selanjutnya mengajak korban dan Ayah angkatnya untuk terlebih dahulu laporan di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ( DP3AP2KB ) Kota Kediri, agar nantinya secepatnya dilaporkan ke pihak Kepolisian,” kata Roy 

Selanjutnya Roy mengaku juga akan menghubungi jaringan rekan-rekan aktifis perlindungan anak di Jawa Barat agar membantu proses pendampingan korban disana,” ungkap Roy.

Tim pendamping korban dari DP3AP2KB Kota Kediri, Ebi Yantoro melangkah cepat. Korban segera dibawa ke Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( P2TP2A ) dengan diantar orang tua angkatnya beserta para  aktifis dari salah satu Ormas di Kota Kediri.

Roy juga telah membuat laporan terkait psikologis kesehatan dan juga sediakan advokasinya.

Selanjutnya karena lokasi TKP nya diluar propinsi tentunya kami juga akan koordinasi dengan Kepolisan dan juga tentunya melibatkan DP3AP2KB Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian rekan-rekan aktifis dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak, karena itu semua menjadi tanggung jawab kita semua.” jelas Eby.(Red)

EDITOR : REYNA 

 

 

 

 







banner 468x60