TPFN Sumenep Desak Penegak Hukum Periksa Kades Aeng Merah Terkait Ambruknya Jembatan Program DD

TPFN Sumenep Desak Penegak Hukum Periksa Kades Aeng Merah Terkait Ambruknya Jembatan Program DD
BARU SETAHUN: Jembatan ambruk program DD tahun 2018 dan ambruk pada akhir Februari 2020 lalu di Dusun Jabbur, Desa Aeng Merah, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jatim layak diselidiki penegak hukum mengenai penyebab ambrolnya fasilitas umum tersebut./ Foto warga for zonasatunews.com




ZONASATUNEWS.COM, SUMENEP–Ambruknya jembatan di Dusun Jabbur, Desa Aeng Merah, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jatim berbuntut panjang. Pasalnya, jembatan yang ambruk akhir Februari 2020 lalu itu, diduga karena faktor material proyek menyalahi spek.

Hal itu, menurut Abdur rahman, aktivis lembaga Tim Pencari Fakta Nusantara (TPF-N) Cabang Sumenep. Menurutnya, jembatan yang dibangun akhir 2018 dan tuntas awal 2019 itu merupakan program Dana Desa (DD). Hasil investigasi lembaganya, sambung Rahman, bangunan yang baru setahun itu, patut ditelusuri.

“Terutama oleh penegak hukum seperti polisi dan kejaksaan. Terutama, kemungkinaan dugaan adanya unsur korupsi,”tegas Rahman dengan nada tinggi.

Selain itu, tim monitoring dari Inspektorat Sumenep layak dipertanyakan. Apakah benar-benar turun kebawah cek kondisi fisik proyek. Misalnya turun, apakah pemeriksaan dilakukan menyeluruh kualitas fisik proyek.

Jembatan yang ambruk dengan panjang retakan satu meter lebih itu, membuat kendaraan tak bisa melintas. Badan jalan diatas jembatan ambrol. Kini, warga gotong royong bangun jembatan dengan alat seadanya. Seperti merakit pohon bambu.




Untuk menguak sisi permainan proyek senilai Rp 50 juta lebih ini, penegak hukum sangat penting melakukan investigasi. Misalnya pengumpulan keterangan (Pulbaket) dan Pengumpulan Data (Puldata).

“Hasil investigasi tim kami, diduga kuat jembatan ambruk karena faktor kualitas material tak sesuai spek. Misal campuran semen lemah, kemudian diduga tidak ada pasir hitam. Selain itu, kawat cornya minim. Untuk itu, penegak hukum penting melakukan uji laboratorium untuk memastikan kelayakan fisik proyek,”ujarnya menjelaskan.

Karena bangunan dekat aliran air, mestinya kualitas diperhatikan. Jadi, masih menurut aktifis TPF-N Cabang Sumenep ini, dalam waktu dekat, pihaknya akan bersuratan. Mulai ke Bupati Sumenep, Inspektorat, Kapolda Jatim, Kajati Jatim. Yakni, agar instansi tersebut turun melakukan penyelidikan. Tujuan utama, mengungkap fakta sebenarnya penyebab jembatan penghubung ke lintas dusun itu ambruk.

“Kami sedang susun surat laporan dan bukti-bukti yang kami punya siap disertakan,”bebernya.

Terutama, penegak hukum harus memeriksa Kepala Desa (Kades) Aeng Merah Asnawi selaku Pengguna Anggaran (PA). Misalnya karena faktor alam atau bencana, tak semudah itu berkesimpulan. Instansi terkait harus menyelidiki dulu memastikan penyebab ambruknya. Baru berkesimpulan faktor bencana atau faktor tak sesuai spesifikasi.

Kejanggalan lain, kok bisa langsung ditetapkan faktor bencana alam, apakah sudah diuji lab tentang kelayakan material proyek tersebut. Terutama sesuai tidaknya dengan spek atau RAB. Klo bangunan fisik misal tak sesuai RAB, mestinya ambruknya bukan karena bencana alam. Tapi murni karena faktor kesengajaan oleh pelaksana proyek.

Atas hal itu, mestinya penegak hukum ngusut tuntas dugaan korupsi pembangunan ini.

Sebelumnya, seperti disampaikan ke media Online Madurapost.id, Kades Aeng Merah Asnawi menyebut, penyebab ambruknya jembatan di desanya itu karena faktor bencana alam. Untuk kembali dibangun seperti semula, sudah dianggarkan di program tahun 2020. (Rif)

Editor : Setyanegara







Tags: ,
banner 468x60