Mantan Dubes Haz Pohan: Membaca Pertemuan Informal Summit Prabowo-Jokowi Di MRT

Mantan Dubes Haz Pohan: Membaca Pertemuan Informal Summit Prabowo-Jokowi Di MRT




Oleh:: Haz Pohan,
Mantan Dubes RI untuk Polandia

1. Saya ingin berbagi catatan, sebagai pengamat, fenomena baru: pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT.
Di awal saya ingin menyimpulkan:

REKONSILIASI ??? MASIH JAUH.
Ini judul kul twit. Rujukan analisis saya adalah praktik diplomasi:
SUMMIT .

2. Dalam dunia diplomasi ada yang ditakutkan oleh para diplomat:

itulah ‘INFORMAL-SUMMIT’,
(yakni) ketika kedua pemimpin negara bertemu. Tanpa didampingi delegasi masing masing.Tanpa didampingi penasehat.
Tanpa agenda, dan hanya mereka yang tahu mau bicara apa.

3. Terutama ketika terjadi kegentingan hubungan antar-negara, dalam state of preparadness menuju konflik, bahkan perang dengan taruhan yang besar.
ATAU ada isu isu krusial yang berpotensi bahaya bagi kepentingan negara.

4.Dalam ‘informal summit’ atau juga disebut dalam format ‘tete-a-tete’.
Agenda begitu bebas, apa saja bisa diperbincangkan oleh kedua kepala negara, dan memutuskan apa yang mereka sepakati. Atau setuju untuk tidak sepakat: agree to disagree. Atau simbolik.

5. Banyak terjadi terobosan via ‘informal summit’, bahkan isu isu terpenting sekalipun yang selama ini ‘deadlock’.
Ketika negosiasi panjang tidak berbuah, ayo ketemu ngomong langsung.
Deadlock membuat frustrasi “dianggap ulah para negosiator’, maka kepala negara bertemu dalam ‘informal-summit’.

6. Dalam ‘informal-summit: venue, format, agenda tidak diatur secara protokoler. Kedua pemimpin bersalaman dan ngomong langsung satu demi satu. Apa saja yang ingin dibahas dan apa usulan.
Apa pula keputusan yang ditawarkan.jika disetujui lahirlah keputusan.

7. Karena ada ‘kejutan’ keputusan terhadap hal hal yang diperjuangkan mati matian di arena Negosiasi yang sebelumnya telah dipertimbangkan seluruh aspeknya, dan tiba tiba dengan keputusan ‘informal summit’ semua berubah: ada yang menyenangkan dan sering tidak menyenangkan.

8. Berbeda dengan halnya ‘FORMAL-SUMMIT’ semua dipersiapkan dengan terperinci: Agenda, posisi, bahkan pengaturan keprotokolan semua harus disusun berbasarkan posisi negara.
Bahkan ‘gengsi negara’.
Soal soal posisi duduk dan posisi bendera saja para diplomat rela berdarah-darah.

9. Bagaimana kalau kita membuat perumpamaan dunia diplomasi dan dunia politik berkaitan dengan pertemuan informal Jokowi-Prabowo di kereta MRT.
Ini masuk kategori mana? Apa dampaknya? Apa komen abang? tanya seorang teman.

10. Saya hanya memantau video rekaman dan proses terjadinya pertemuan.
Saya sebut berkarakter ‘informal summit’. Prabowo bertemua Jokowi, bersalaman, photo photo, lalu duduk berdua dan ngomong. Tanpa pendamping. Belum ada penjelasan substansi yang dibahas.
Atau memang tidak ada?

11. Baiklah. Pertama, pertemuan ini sangat di inginkan oleh 01. Maksudnya untuk ‘mendinginkan suhu politik’ menjelang pelantikan presiden di bulan Oktober.

Tampak sekali 01 desperate banget. Karena penolakan dari pendukung 02 begitu sangat keras, termasuk emak2. Intinya, mereka MENOLAK REKONSILIASI. Titik !

12. “ Bukan kah sudah menang, kenapa lagi harus perlu pertemuan dengan Paslon 02?” Pakar berpendapat: Pertemuan itu untuk pengakuan dan legitimasi kemenangan 01.

Mengapa PERLU LEGITIMASI? Karena menentukan stabilitas pemerintahan u tuk 5 tahun ke depan.

Klaim pakar atau negarawan.
Saya sama sekaki tidak yakin.

13. Apa memang legitimasi itu diperlukan dari Prabowo ?

Apakah berarti Prabowo secara de-facto pemenang ?

Ah itu menjadi ulasan pembuat opini saja.
Saya tidak mau masuk ke opini politik.

14. Kedua, mari kita lihat karakter pertemuan MRT itu.

Fakta, tempatnya di MRT menunjukkan suasana yang tidak formal. Santai.
Kenapa tidak di Istana atau di tempat terhormat lain ????

Kita semua sudah tahu itu tidak mungkin, karena penolakan sekuruh para pendukung 02 begitu besar.

15. Jadi, pertemuan di MRT itu berkarakter sangat informal. Tanpa didampingi penasehat: FREE WHEEL DISCUSSIONS.

Agendanya sudah dapat ditebak: Jokowi mengajak Prabowo berbaik baik ke depan, mungkin menawarkan sesuatu? Quid pro quo?

16. Apa yang dibahas?
Hanya berdua yang ngomong dan tahu.

Mereka berdua bisa dengan mudah ‘ngeles’, Dengan sengaja atau tidak, anak buah tidak tahu deal-nya. Dalam diplomasi bisa disebut ‘pertemuan rahasia’.Waktu ke depan akan membuktikan apa substansi yang diperbincangkan.

Sekarang kita hanya menduga-duga saja.

17. Ketiga, pertemuan itu substantif atau simbolik? Kedua bentuk ini dikenal dalam diplomasi.

Adakalanya ketika substansi macet para pemimpin membuat pertemuan simbolik, seperti diplomasi pingpong AS dengan RRT di masa lampau. Setelah simbolik, maka pembahasan substansi mencair.

18. Jadi, setelah pertemuan informal di MRT, sekiranya hanya simbolik.
Maka akan ada pertemuan substantif, misalnya pengisian menteri di kabinet atau deal deal lain?

Belum tentu, masih perlu kita pantau ke depan baik di antara kedua Paslon maupun di antara partai pendukung.

19. Saya melihat pertemuan MRT itu simbolik belaka. Meskipun masih jauh dari substantif, tetapi kubu 01 sudah senang sekali. Berharap suasana di bawah akan mencari. Akankah ?

20. Yang saya pantau terjadi kemarahan besar pendukung 02.

Meskipun karakter pertemuan MRT itu simbolik. Mereka sangat khawatir posisi keras 02 ‘akan tergadai’ dan Prabowo telah mengalah atas tekanan lingkaran Jokowi.
Apa sudah ada keputusan? Kita tunggu penjelasan kedua pihak.

21. Di lapangan para pendukung 02 semakin sangat mengeras.
MENJAGA JARAK dengan Prabowo Bahwa apapun keputusan Prabowo dalam kaitan 02 tidak mengikat mereka.
Namanya rakyat. SIAPA yang bisa mengendalikan? Emotions running high.

22. Para pendukung 02 itu DIE HARDS minimal militan, menyarankan seyogianya 02 menolak walaupun hanya ketemu.

Mereka tetap kuat dengan agenda: kecurangan dan ketidakadilan ini tidak akan diterima rakyat.

23. Mereka akan membuat perhitungan.
Waktu masih panjang, menjelang pelantikan presiden Oktober. PEOPLE POWER ?

SANGAT MUNGKI SEKALI !!!

Atau gaya Hongkong memblok para anggota MPR sidang pelantikan? Ini Sangat Mungkin sekali.

24. Keempat, apakah tujuan pertemuan tercapai ?

Tergantung dari sudut mana dilihat dan apakah ada keputusan besar yang diambil.

Kedua pihak memiliki tujuan berbeda.

Jokowi:
Untuk rekonsiliasi.

Prabowo:
Sekadar silaturahmi.

25. Rekonsiliasi tercapai ketika ‘Summit MRT’ berhasil menyejukkan iklim politik.

Yang saya lihat, malah semakin menajam.
Para Pendukung 02 begitu DIE HARDS menentang semangat rekonsiliasi setelah menuduh pihak sebelah lawannya telah melakukan kecurangan TSMB dalam pilpres 2019.
Tiada maaf lagi bagimu !

26. Prabowo untuk silaturahmi ? Ada yang berpendapat:

PRABOWO BISA BERKERAS MENOLAK PERTEMUAN DENGAN JOKOWI, sebagai sesama Paslon.
Berbeda jika Presiden dengan jalur resmi meminta pertemuan dengan Prabowo dalam kedudukan sebagai warganegara.

Dia negarawan dan warganegara yang baik, kata yang lain.

27. Itu karakter negarawan Prabowo, seperti itu, kata mereka. Sekadar silaturahmi okelah.
Untuk membuat deal politik ?

Masih spekulatif. Prabowo sadar kok atas tindakannya, apa dampak terhadap dirinya, partainya, maupun para pendukung yang sudah ‘berdarah darah ’ di lapangan..

28. Kelima, bagaimana situasi politik ke depan setelah ‘Summit MRT?

Bola tetap ada di lapangan,
Di tangan rakyat penentang kecurangan.

Apakah mereka telah puas dan menerima hasil ‘informal summit’ dan Jokowi akan melenggang menuju pelantikan Oktober?

Tampaknya belum sampai ke sini.

29. Kesimpulan saya:
PENCAIRAN SUASANA itu penting, tetapi ‘deal politik’ sangat tidak mungkin diterima rakyat pendukung yang saat ini sedang sangat marah sekali.

Akankah Prabowo ditinggalkan rakyat pendukungnya?

Belum tentu. Sekarang mereka marah bahkan memaki dan menghujat habis habisan.

30. Namun, perkembangan ke depan lebih penting untuk dipantau,
Apakah akhirnya Prabowo menyerah. Whatever, rakyat di lapangan tampaknya tidak tinggal diam.

Mereka tetap tidak puas.
Rekonsiliasi ??

Masih jauh. END. !!







Tags: ,
banner 468x60