Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-143)

Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-143)
Penulis, Agus Mualif Rohadi berfoto ditengah-tengah Masjid Kubah Batu dan Masjid Qibli, Yerusalem




Oleh : Agus Mualif Rohadi

VIII. Nabi Zakariya, Yahya, ‘Iysaa, Kehancuran Haekal Sulaiman (masjidil aqsha) yang Kedua dan Kemunculan Nashara, Kristen dan Katolik

Di Al – Qur’an diinformasikan sebutan tentang nashara atau anshar bagi para Hawariyyun yang dapat dibagi dalam tiga jaman, yaitu :

a. Qs Ali – Imran 52, adanya sebutan nashara bagi para Hawiriyyun yang ketika di tanya nabi ‘Iysaa tentang siapa yang akan menjadi penolong (anshar) nya (‘Iysaa) untuk menegakkan agama Allah. Para Hawariyyun sanggup menjadi kaum anshar. Jadi pada ayat ini, sebutan anshar untuk para hawariyun berada dalam masa Yesus dan sesudah kepergian Yesus, para Hawariyyun masih disebut sebagai kaum anshar.

b. Qs At – Taubah 30 – 31, yaitu menyebutkan terdapat orang – orang diantara kaum nashara yang menyebut Al – Masih putra Maryam sebagai Al – Masih putra Allah, dimana ucapan seperti ucapan orang orang yahudi kafir yang menyebut Uzair putra Allah. Qs At – Taubah 30 – 31 di perkuat dengan Qs Al – Maidah 72 – 73 yang menyatakan bahwa telah menjadi kafir orang orang diantara mereka yang menyebut Al – masih putra Maryam adalah Allah dan menyebut Al – Masih putra Maryam adalah putra Allah. Dengan demikian al – Qur’an menginformasikan terdapat suatu masa dimana terdapat sebagian dari kaum nashara yang merubah atau menyimpangkan ajaran Hawariyyun karena mulai menyebut Al – Masih Putra Maryam menjadi Al – Masih Putra Allah atau Allah itu sendiri.

c. Qs Al – Baqarah 120, yaitu mengkisahkan perilaku kaum nashara bersama sama kaum yahudi pada masa nabi Muhammad yang tidak rela atas kenabian dan kerasulan Muhammad, dan mereka akan berusaha menjadikan Muhammad (dan pengikutnya) mengikuti agama mereka. Qs Al – Baqarah 120 diawali dengan kata kata “ Lan “, yang mempunyai makna “ dahulu ya (mengakui) namun sekarang dan untuk selamanya tidak “. Jadi maksut dari kata kata “ Lan “ dalam konteks ayat tersebut adalah dahulu kaum yahudi berdasarkan kitabnya “ mengakui “ akan muncul nabi terakhir dari keturunan Ismael bin Ibrahim, namun ketika nabi terakhir telah datang kemudian mereka mengatakan “ sekarang tidak mengakui dan untuk selamanya tidak mengakui“.

Dari ayat ayat tersebut menunjukkan adanya perkembangan dari kaum nashara yaitu yang awalnya mengikuti ajaran Yesus dimana mengakui Yesus sebagai Rasul Allah namun kemudian dalam perjalanan waktu terdapat orang orang diantara kaum nashara yang menjadi kafir karena menjadikan Al – Masih putra Maryam sebagai Al – Masih Putra Allah dan Al – Masih putra Maryam adalah Allah, kemudian pada masa nabi Muhammad terdapat kaum nashara yang tidak mengakui nabi Muhammad adalah Rasul Allah sedangkan sebelumnya mereka mengakui berdasarkan kitabnya bahwa akan muncul rasul terakhir yaitu Ahmad atau Muhammad.

Oleh karena itu, untuk memudahkan penyebutan maka akan digunakan istilah NASHARA AWAL ATAU YAHUDI SEKTE YESUS bagi Hawariyyun dan kaum pengikutnya yang masih menjadikan Yesus sebagai rasul, yang mempedomani Injil hawariyyun sebagai kitabnya dan menggunakan kitab Taurat untuk melakukan peribadatan sebagaimana kaum yahudi melakukan peribadatan.

Bani Israel tidak mengenal istilah nashara atau nasrani, karena istilah tersebut hanya di kenalkan oleh Al – Qur’an kepada kaum muslim sebagai penyebutan suatu kelompok tertentu dalam agama yahudi yang meyakini nabi ‘Iysaa sebagai rasul mereka dan injil yang ditulis Hawariyyun sebagai kitab mereka.

Terdapat kesulitan mengkategorikan Nashara Awal dalam peta agama saat ini, karena pada dasarnya mereka adalah pemeluk agama yahudi namun tidak diakui oleh bani Israel sebagai bagian agama yahudi karena agama yahudi tidak menganggap Yesus sebagai nabi atau Rasul atau Tuhan dan oleh karena itu agama yahudi juga tidak mengakui injil.

Namun keberadaan kelompok religius baru dari agama yahudi ini tidak dipersoalkan oleh imperium roma maupun Herodes, sehingga para imam dan pejabat agama yahudi (Sanhedrin) sepeninggal nabi ‘Iysaa, lambat laun melonggarkan sikapnya terhadap kelompok religius baru ini. Mereka menganggap para Hawariyyun dan pengikut nabi ‘Iysaa bukan merupakan kelompok yang akan membahayakan kedudukan mereka karena para imamnya tidak bisa diangkat sebagai pejabat Sanhedrin. Sedang Herodes Antipas juga menganggap bahwa sepeninggal nabi ‘Iysaa tidak ada lagi orang yang dapat mengganggu kedudukannya sebagai raja. Messiah yang mereka takutkan sudah tidak ada lagi.

Para pejabat agama saat itu, melihat kaum Hawariyyun mempraktikkan peribadatan berdasar taurat sebagaimana praktik peribadatan kaum yahudi. Selain itu para imam Sanhedrin juga melihat para Hawariyun tidak menjadikan Yesus sebagai Allah atau anak Allah. Dengan kenyataan seperti itu, para Hawariyyun dan para pengikutnya diperbolehkan pula menggunakan Haekal Sulaiman untuk peribadatan mereka. Tidak ada larangan terhadap para hawariyyun untuk menggunakan kitab injilnya atau gospelnya untuk dijadikan kitab suci bagi kaumnya yang menjadi kitab pedomannya disamping kitab Taurat dan nabi nabi bani Israel lainnya.

Dengan demikian telah muncul sekte atau aliran agama yahudi yang baru. Untuk memudahkan penyebutannya digunakan istilah Yahudi Sekte Yesus atau Nashara Awal. Sekte sekte agama yahudi yang ada saat itu menempatkannya sebagai sekte yahudi baru yang mempunyai kitab tambahan tersendiri dari ajaran nabi mereka yaitu nabi ‘Iysaa yang disebut Injil.

Pengikut sekte Yesus, dengan cepat menjadi semakin besar karena Yesus pernah berkhutbah hingga sampai ke wilayah perbatasan Aram dan Libanon dan tidak membatasi asal usul pengikutnya. Pengikut Hawariyyun selain dari bani Israel juga terdapat kaum gentile (orang asing) yang kebanyakan berasal dari Israel diaspora dari yunani. Para da’i dari agama Yahudi sekte Yesus dengan cepatsampai merambah wilayah Aram (Syam) dan Libanon bahkan sampai ke kota Alexandria di Mesir, dan kota pantai laut mediterania yaitu kilikia hingga Tarsus di wilayah Turki saat ini.

BACA JUGA:

Kota Antiokia di Syam menjadi salah satu kota yang menjadi pusat penyebaran ajaran Nashara Awal ini. Perkumpulan atau majelis jemaat Nashara Awal atau Eklesia banyak tumbuh dimana mana. Di dalam Eklesia tidak dibedakan antara Israel dengan gentile. Nasahara Awal menjadi jalan bagi Israel diaspora untuk menjadikan diri mereka selayaknya kaum bani Israel yang beragama yahudi. Pengikut dari kaum gentile menjadi semakin besar jumlahnya bahkan lebih besar dari bani Israel yang menjadi pengikut Nashara Awal. Nashara Awal ternyata mampu menarik pengikut dari kaum gentile pada wilayah yang sangat luas. Perkembangan Nashara Awal bahkan diluar dugaan bani Israel. Sekte baru ini dengan cepat menjadi besar karena banyak diikuti oleh Israel diaspora di banyak negara.

Pada akhirnya hal ini menimbulkan masalah, seperti yang di tuliskan dalam kitab Para Rasul. Bermula dari kendala bahasa karena kebanyakan kaum gentile banyak yang tidak berbahasa Ibrani namun kebanyakan berbahasa Yunani. Untuk mengatasi masalah tersebut, kemudian para imam Nashara Awal meminta kepada pengikut dari gentile itu mengusulkan orang orang salih diantara mereka untuk menjadi imam Nashara Awal. Kemudian terpilih Stevanus yang dibantu beberapa temannya antara lain Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon dan Nikolaus. Kedudukan mereka sebagai Imam Nashara Awal di sahkan oleh para hawariyyun.

Pada suatu saat, tidak diketahui sebabnya, Stevanus mendapat fitnah yang besar. Dia dianggap sebagai merendahkan Taurat dan nabi Musa sehingga kemudian ditangkap oleh tentara Sanhedrin. Sangat mungkin fitnah ini berasal dari kaum yahudi. Ketika diadili, Stevanus justru berkhutbah bahwa dirinya dan kaumnya yaitu para yahudi diaspora yang banyak tersebar dibanyak negara adalah sebagai kaum yang muncul akibat kesalahan nenek moyang mereka yaitu bani Israel pada masa jauh sebelumnya, yang membunuh nabi nabinya sendiri karena mengingatkan agar tetap berpegang pada taurat, dan akhirnya nenek moyangnya di hukum Allah sehingga mereka terusir dan diperbudak di negeri orang lain. Namun ketika mereka dapat kembali ke Yerusalem justru belum memperoleh keadilan dari kaumnya di negeri leluhur Israel diaspora sendiri.

Bani Israel menjadi marah mendengar khutbah Stevanus, kemudian menggelandangnya keluar kota, dihukum dengan dilempari batu beramai ramai hingga menemui kematiannya. Para imam Nashara Awal kemudian mengambil mayat Stefanus dan menguburnya dengan tangis ratapan kesedihan.

Sangsabda.wordpress.com Lukisan Stevanus di hukum dengan dilempari batu (dirajam) sampai mati.




(bersambung)

EDITOR: REYNA







banner 468x60