Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-238)

Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-238)
Penulis, Agus Mualif Rohadi berfoto ditengah-tengah Masjid Kubah Batu dan Masjid Qibli, Yerusalem




Oleh : Agus Mualif Rohadi

IX. Nabi Muhammad

Setelah itu dia menjauh ketika menjelang fajar menyinsing. Ketika matahari mulai nampak, angin tiba-tiba hilang, udara dingin mulai berkurang. Tiba tiba didengarnya suara teriakan Abu Sufyan: “Hai orang-orang Qurays, kuda dan unta kita telah mati. Bani Quraidzah telah meninggalkan kita dan kita diberi tahu bahwa mereka berusaha mengkhianati kita. Dan kini kita menderita karena angin seperti yang kalian lihat. Maka pergilah dari tempat ini, karena akupun akan pergi “.

Setelah itu Abu Sufyan melompat naik kuda hendak pergi, namun di tegur Ikrimah karena dia sebagai pemimpin hendak meninggalkan pasukannya begitu saja tanpa memperhatikan keadaannya. Ikrimah memenintanya menunggu kesiapan pasukan Qurays Makkah untuk pergi. Karena malu, Abu Sufyan kemudian turun lagi dan bersepakat dengan Ikrimah dan Khalid bahwa mereka akan pulang pada barisan paling belakang.

Di belakang barisan Qurays, Khalid berkata: “ Setiap orang yang berakal sehat pasti tahu bahwa Muhammad tidaklah berdusta “. Abu Sufyan menyela perkataannya: “ Engkau sungguh tidak pantas mengatakan itu karena Muhammad telah merendahkan kehormatan ayahmu, dan telah membunuh kepala sukumu, Abu Jahl “.

Hudzaifah dari kejauhan, melihat pasukan Qurays mengemasi barang barangnya, kemudian pergi meninggalkan tempat perkemahan mereka. Sedang pasukan berkuda dan para tokohnya berangkat paling belakang. Setelah barisan besar dan panjang kaum Qurays tidak nampak lagi, Hudzaifah berani berdiri kembali kemudian pergi ke perkemahan suku Ghatafan. Namun ketika sampai di perkemahannya, ternyata orang-orang Ghatafan telah pergi semua. Kemudian dia kembali ke perkemahan kaum muslim. Nabi Muhammad saat itu sedang bersiap mengimami shalat kaum muslim. Ketika dilihatnya Hudzaifah kemudian di panggil dengan bahasa isyarat agar ikut shalat disampingnya. Usai shalat, kemudian Hudzaifah melaporkan semua yang dilakukan, dilihat dan didengarnya.

Sebagian kaum muslim yang juga ikut mendengar laporan Hudzaifah kemudian bergegas bangkit dan bubar tanpa menunggu perintah dan segera bergegas pulang. Perbuatan tersebut kemudian diikuti yang lainnya. Nabi Muhammad ketika melihat perbuatan kaumnya, kemudian memanggil Jabir dan Abdullah bin Umar untuk memanggil kaum muslim yang telah pulang. Namun keduanya kembali dengan melaporkan bahwa orang-orang yang telah pulang tidak mau keluar rumah lagi.

Mendengar laporan tersebut, nabi Muhammad tertawa pertanda memaklumi perbuatan kaum muslim yang baru saja melewati situasi mencekam yang sangat berat dengan menahan suhu dingin sehingga sudah saatnya merasakan kehangatan berkumpul keluarga masing masing untuk melepaskan ketegangan, penat dan lelah. Setelah itu, karena nabi sudah yakin bahwa pasukan sekutu qurays tidak akan kembali lagi untuk melanjutkan perang, Nabi Muhammad mengajak pulang para sahabat dan kaum muslim lainnya yang sudah tinggal sedikit jumlahnya.

37. Hukuman bagi yahudi bani Quraidzah.

Beberapa waktu setelah perang Khandaq berlalu, Ibnu Ishaq berkisah, ketika masih pada waktu dzuhur, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW, dan kemudian bertanya: “Apakah engkau melakukan gencatan senjata? “. Nabi Muhammad kemudian menjawab : “ Ya “. Malaikat Jibril melanjutkan bicaranya: “ Para malaikat tidak melakukan gencatan senjata. Kini mereka sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad sesungguhnya Allah menyuruhmu berangkat ke bani Quraidzah, aku juga akan berangkat kesana untuk memerangi mereka “. Pernyataan malaikat Jibril ini menunjukkan Allah akan menghukum bani Quraidzah.

Setelah itu, nabi Muhammad memerintahkan kaum muslim untuk berkumpul untuk berperang dengan bani Quraidzah. Rasulullah SAW untuk sementara menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai imam masjid Madinah, yang hal itu menunjukan bahwa urusan dengan bani Quraidzah membutuhkan waktu beberapa hari yang tidak ditentukan. Pasukan muslim saat itu jumlahnya sudah lebih besar dari jumlah kaum lelaki bani Quraidzah. Nabi Muhammad menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai panglima perang sekaligus pembawa panji perang.

Kaum muslim yang kondisi fisiknya sudah segar kembali sangat antusias menyambut seruan perang melawan bani Quraidzah, sedang sekutu orang bani Quraidzah menjadi khawatir dengan sekutunya tersebut. Demikian pula kaum munafiq menjadi gelisah dengan keberangkatan kaum muslim ke benteng bani Quraidzah. Mereka tidak berani membantu sekutunya karena khawatir dengan balasan kaum muslim yang semakin kuat, sedang jika kaum muslim memenangkan perangnya dengan bani Quraidzah maka kaum muslim akan menguasai seluruh wilayah kota Madinah. Mereka menunggu dengan cemas.

Baca Juga:

Ketika seluruh kaum muslim telah berkumpul dan perbekalan perang telah siap, Ali bin Abu Thalib meneriakkan aba-aba berangkat. Berita keberangkatan kaum muslim ke benteng tersebut telah mendahului sampai pada bani Quraidzah. Jarak yang pendek untuk di tempuh sampai ke benteng mereka. Ketika sampai di As-Shaurin, nabi Muhammad bertanya pada beberapa sahabat: “Apakah ada seseorang melewati kalian sebelum aku? “. Ada yang menjawab: “ Ya ia adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi “. Rasulullah menyahut: “Bukan! Dia itu Jibril yang dikirim kepada bani Quradzah guna menghunjamkan rasa takut ke hati mereka“.

Ketika sampai di wilayah bani Quraydzah, kaum muslim segera mendirikan perkemahan yang posisinya memblokir pintu-pintu benteng Quraidzah. Sedang nabi Muhammad membuka kemah di salah satu sumur bani Quraidzah yang bernama sumur Una terletak di kebun mereka.

Ibnu Ishaq berkisah, Rasulullah mengepung benteng selama dua puluh lima malam. Hal itu menunjukkan Rasulullah SAW tidak ingin ada bentrok fisik yang dapat menimbulkan kurban nyawa terutama pada kaum muslim. Keinginan tersebut pasti di dukung oleh cuaca yang tidak lagi menyiksa dan kebutuhan logistiK yang dapat terpenuhi dengan mudah. Berbeda dengan situasi yang berada di dalam benteng, yang logistiknya semakin lama semakin menipis.

Kisahteladan354.blogspot.com ilustrasi foto, bani quraydzah di atas bentengnya yang sedang dikepung kaum muslim, ada yang membawa batu dan panah.

Disamping itu, dengan lamanya pengepungan menunjukkan bahwa bani Quraidzah tidak mau menyerah pada Rasul dan kaum muslim. Bahkan dalam pengepungan tersebut terdapat dua orang muslim yang meninggal syahid karena kepalanya pecah kena lemparan batu dari benteng bani Quraidzah, yaitu Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah bin Amr dan Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan dari bani Asad bin Khuzaimah.

Namun pada akhirnya mereka berusaha berunding mencari upaya penyelamatan diri. Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bisa berunding dan selamat hidupnya meskipun harus terusir dari kota Madinah. Sangat mungkin bani Quraidzah ingin menempuh jalan yang sama. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Rasulullah SAW, meminta agar di datangkan pada mereka Abu Lubabah bin Abdul Mundzir bani Amr bin Awf yang mempunyai persekutuan dengan mereka. Permintaan itu tentu seperti memukul Abu Lubabah. Mereka tidak menunjuk juru runding dari kaumnya namun justru menunjuk Abu Lubabah menjadi juru rundingnya. Namun Rasulullah tetap mengirimkan Abu Lubabah kepada mereka.

(bersambung …………….)

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=