Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-241)

Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-241)
Penulis, Agus Mualif Rohadi berfoto ditengah-tengah Masjid Kubah Batu dan Masjid Qibli, Yerusalem




Oleh : Agus Mualif Rohadi

IX. Nabi Muhammad

Abu al-Ash bin Ar-Rabi’ kemudian pulang ke Makkah. Setelah sampai disana, dia mengembalikan semua harta kaumnya yang dititipkan kepadanya. Tidak ada satu orangpun yang tidak menerima hartanya. Abu al-ash dikenal sebagai seorang yang amanah dan menepati janji terhadap segala hal yang dipercayakan kepadanya. Setelah semuanya menerima, kemudian Abu al-Ash mengumumkan dirinya pada kaumnya bahwa dirinya memeluk Islam, dan di depan kaumnya dia membaca kalimat syahadat. Dia berkata pada kaumnya: “ Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam di tempat Muhammad, kecuali rasa takutku bahwa kalian akan mengira aku akan memakan harta kalian. Setelah Allah mengembalikan harta kalian kepada kalian, dan aku telah membagi bagikannya, maka kini aku nyatakan diriku masuk Islam“. Setelah berkata seperti itu, Abu al-ash kemudian pulang, mengemasi barang-barangnya dan kemudian pergi keluar dari Makkah. Tidak ada yang mencoba menghalangi maksud kepergiannya, hingga akhirnya dia tiba di Madinah. Setiba di Madinah, Rasulullah SAW kemudian menyatukan kembali Abu al-Ash dengan istri dan anaknya setelah berpisah sekitar lima atau enam tahun.

Tidak adanya halangan bagi Abu al-Ash menyatakan ke – Islam – annya dan kepergiannya ke Madinah, hal itu juga menunjukan bahwa kaum Qurays Makkah tidak ingin membuat persoalan dengan kaum muslim. Mereka mengetahui bahwa nabi Muhammad dan kaum muslim telah menjadi semakin kuat dan sudah sulit untuk dikalahkan oleh mereka.

Sedang tawanan Qurays, kemudian di bebaskan setelah dilakukan pembayaran tebusan. Namun ada diantara mereka yang dibebaskan tanpa tebusan karena miskin dengan perjanjian bahwa mereka tidak akan memerangi kaum muslim.

Kaum Qurays Makkah sedang kesulitan mencari jalur perdagangan, sehingga sangat berpengaruh pada perekonomian penduduk dan kota Makkah. Kabilah dagang Makkah telah tidak lagi mempunyai kemampuan untuk bersekutu dengan orang Madinah, Khaybar, Ghatafan, Najd, dan lain lain. Fungsi perdagangan kota Makkah yang menghubungkan barang dagangan dari selatan dan timur ke utara dan sebaliknya bisa terputus. Dalam jangka panjang, jika tidak ada perbaikan hubungan dengan Madinah, maka Kota Makkah akan terancam sebagai kota mati karena ditinggal oleh penduduknya.

39. Bani Musthaliq.

Bani Musthaliq yang merupakan bagian dari suku Khuza’ah bertempat tinggal di dekat kota Makkah dan sekutu kaum Qurays. Mungkin disebabkan oleh semakin sulitnya perdagangan ke wilayah Syam, kemudian pemimpin bani Musthaliq yaitu Al-Harits bin Abu Dhirar mengumpulkan beberapa bani dan suku Arab lainnya. Hasil pertemuannya adalah mereka bersepakat untuk menyerang kaum muslim di Madinah, karena merasa tidak ada jalan lain lagi agar perekonomian mereka dapat hidup kembali. Namun mereka tidak berhasil mengajak kaum Qurays untuk ikut perang.

aburedza-wordpress.com Letak wilayah bani Musthaliq hanyasekitar 80 km – 100 km dari Makkah. Posisi strategis untukmenjangkau Makkah

Tidak diketahui bagaimana kejadiannya, namu nabi Muhammad mendengar berita tersebut. Hal itu kemudian dijadikan alasan bagi nabi Muhammad untuk melakukan serangan ke wilayah bani Musthaliq. Tempat tersebut sangat strategis untuk ditaklukkan mengingat letaknya di dekat kota Makkah.

Ibnu Ishaq berkisah, pada akhir tahun ke lima atau awal tahun enam hijriyah atau menjelang akhir tahun 627 M, nabi Muhammad memutuskan untuk memimpin pasukan muslim menyerang bani Musthaliq. Untuk sementara, ditunjuk Abu Dzar al-Ghifari menjadi imam shalat di Madinah.

Bani Musthaliq tidak mengira jika ternyata nabi Muhammad dan pasukannya telah lebih dahulu berangkat mendatangi wilayahnya dan setelah mendengar kabar tersebut dengan tergesa-gesa mempersiapkan pasukannya. Saat itu pasukan kaum muslim sudah sangat dekat dengan posisinya, yaitu berada di dekat sumber air al-Muraisi, dekat Qudaid atau Qadid. Pasukan bani Musthaliq kemudian datang ke tempat tersebut, dan akhirnya terjadi perang yang pendek dan tidak seimbang. Dengan segera bani Musthaliq menyerah karena banyak pasukannya telah tewas. Harta, istri dan anak-anak bani Mustaliq menjadi hak kaum muslim, yang kemudian dibagikan oleh Rasulullah secara adil.

Usai perang, sempat terjadi kesalah pahaman antara kaum muhajirin dengan kaum anshar yang kemudian dimanfaatkan oleh Ubay bin Salul memceah belah kaum muslim. Dia berkata kepada kaum anshar, jika saja kaum anshar tidak mau membagi hartanya dengan kaum muhajirin, mereka dengan sendirinya telah pergi dari Yatsrib sejak lama. Hasutan Ubay bin Salul didengar oleh Zaid bin Arqam dan segera dilaporkannya kepada Rasulullah SAW. Umar bin Khattab yang ikut mendengar laporan Zaid bin Arqam, meminta kepada nabi Muhammad agar memerintahkan Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya. Abdullah bin Ubay bin Salul ketika mendengar laporan Zaid bin Arqam kemudian menghadap pada Rasulullah.

Baca Juga:

Abdullah bin Ubay bin Salul meminta kepada Rasulullah jika ayahnya dihukum mati, agar hal itu diserahkan kepadanya, karena dirinya tidak akan tahan jika ayahnya dibunuh orang lain dan dirinya khawatir akan membunuh orang tersebut karena dendamnya. Hal itu juga akan menyebabkan dirinya masuk neraka. Namun nabi Muhammad mengatakan bahwa tidak menghukum Ubay bin Salul, dan akan bersikap baik dan berteman sebaik baiknya selama Ubay bin Salul bersama sama hidup berdampingan dengan kaum muslim. Namun jika dia melakukan kesalahan lagi, maka kaumnya sendiri yang mengecamnya, menindak dan memarahinya.

Setelah itu, Rasulullah memerintahkan kaum muslim pulang ke Madinah. Diperjalanan ketika sampai di Baq’a, tiba tiba muncul angin kencang dan badai pasir menimpa rombongan nabi Muhammad. Kaum muslim dilanda rasa takut karena mengira turun hukuman Allah kepada mereka karena mereka telah membuat kesalahan. Namun nabi Muhammad menenangkan kaum muslim dan bersabda: “ janganlah kalian takut akan angin kencang ini. Angin bertiup kencang ini karena ada kematian seorang pembesar kaum kafir “. Ternyata ketika mereka sampai di Madinah, terdengar kabar bahwa Rifa’ah bin Zaid bin At-Tabut, tokoh yahudi bani Qainuqa’ sekutu kaum munafiq Madinah meninggal dunia. Setelah itu, muncul wahyu yang menceritakan tentang orang-orang munafiq. Pada saat wahyu tersebut turun, nabi Muhammad sedang memegang telinga Zaid bin Arqam. Nabi Muhammad kemudian berkata: “Inilah orang yang menepati janji kepada Allah dengan telinganya “. Dengan demikian wahyu tersebut sekaligus mengkonfirmasi kebenaran laporan Zaid bin Arqam.

(bersambung …………..

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=