Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-268)

Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-268)
Penulis, Agus Mualif Rohadi berfoto ditengah-tengah Masjid Kubah Batu dan Masjid Qibli, Yerusalem




Oleh : Agus Mualif Rohadi

IX. Nabi Muhammad

Ibnu Ishaq berkisah, suatu ketika datang anak tokoh kaum munafiq yaitu Abdullah bin Ubay kepada nabi Muhammad mengabarkan kematian bapaknya. Anaknya minta kepada nabi Muhammad untuk menshalatkan bapaknya. Nabi Muhammad kemudian ke rumah Ubay bin Salul. Ketika berdiri hendak menshalatkan, datang Umar bin Khattab yang bertanya mengapa nabi Muhammad menshalatkan Ubay bin Salul. Nabi Muhammad kemudian menjawab: “Sungguh aku diberi pilihan dan aku memilih. Seandainya aku mengetahui bila aku menambah lebih dari tujuh puluh kali permohonan ampunan baginya dia akan diampuni, pasti aku akan tambah (permohonan ampun baginya)“.

Nabi menjawab pertanyaan Umar bin Khattab dengan merujuk pada wahyu sebagaimana Qs at-taubah 80 yaitu: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali kali tidak akan memberi ampun kepada mereka“. Dengan demikian nabi Muhammad memilih memohonkan ampun meskipun beliau tahu permohonannya tersebut akan sia-sia. Namun nabi Muhammad telah menghormati permintaan anak Ubay bin Salul yang telah masuk Islam.

Umar bin Khattab bersakasi bahwa nabi Muhammad kemudian menshalatkan Ubay bin Salul. Namun usai menshalatkan satu kali, tiba-tiba turun wahyu sebagaimana Qs At-Taubah 84: “dan janganlah kamu sekali-kali men-shalat-kan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) dikuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka dalam keadaan fasik“. Dengan adanya wahyu tersebut, nabi Muhammad kemudian langsung pulang, dan sejak itu nabi Muhammad tidak menshalatkan kematian orang munafiq.

50. Tahun Utusan (Sanatul Wufuud) 9 H

Manuver militer Nabi Muhammad ke Tabuk dengan jumlah pasukan yang bagi orang orang Arabiya saat itu adalah manuver militer yang paling besar, dan tidak ada reaksi militer dari Bizantium dan sekutunya terutama dari bani Ghasan yang merupakan salah satu bani Arab yang besar disamping bani Lakhm, tentu dengan cepat menjadi kabar yang menggetarkan bagi suku-suku Arabiya lainnya. Nabi Muhammad telah menjadi kepala negara Arabiya yang disegani oleh negara super besar pada masa itu. Oleh karena itu, manuver perang Tabuk akan mempunyai dampak nyata pada perubahan sikap suku-suku Arabiya atau para penguasa kota-kota di jazeerah Arabiya.

Ketika orang-orang Qurays setelah peristiwa penaklukkan Makkah tidak lagi melakukan perbuatan pembalasan apapun atas kekalahan mereka, maka orang orang Arabiya di seluruh jazeerah Arabiya tidak mempunyai lagi pilihan selain mengikuti perbuatan orang orang qurays yang telah tunduk kepada nabi Muhammad. Dalam pandangan orang orang Arabiya, orang orang Qurays adalah pemimpin mereka, pemilik Baitullah, penduduk tanah haram, anak keturunan nabi Ismail bin Ibrahim a.s. Orang orang Qurays lah yang sejak awal menentang keras dakwah nabi Muhammad SAW, mengusirnya dan memeranginya. Ketika orang-orang Qurays tunduk kepada nabi Muhammad, maka mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menentang dan memusuhinya.

Baca Juga:

Perubahan di Makkah segera menjadi perubahan di seluruh jazeerah Arabiya. Oleh karena itu mereka harus masuk Islam jika mereka masih ingin menjadi orang orang Arabiya dan ingin masuk ke Makkah, masuk ke Baitullah, masuk ke Masjidil Haram. Kondisi seperti itu digambarkan dalam wahyu sebagaimana pada Qs an-Nashr 1-3: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat“.Kaum muslim kemudian menyaksikan datangnya utusan-utusan.

Malik bin Awf bin An-Nashri pemimpin bani Hawazin telah sangat menyulitkan kegiatan perdagangan bani Tsaqif penduduk kota Thaif. Pada akhirnya kota Thaif mengirim utusan perdamaian kepada nabi Muhammad, yaitu Urwab bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Ketika bertemu Rasulullah, utusan ini justru berbai’at masuk Islam, dan kemudian pamit kepada Rasulullah untuk kembali kepada kaumnya. Rasulullah mengingatkannya, jika dia kembali ke Thaif akan dibunuh oleh kaumnya sendiri. Namun Urwah bertekad kembali ke kotanya. Ketika dia kemudiaan mengajak kaumnya agar masuk Islam, dia dibunuh beramai ramai.

Setelah pembunuhan tersebut, penduduk Thaif justru ketakutan bahwa kaum muslim akan memerangi mereka. Peristiwa pembunuhan tersebut justru menjadi jalan bagi penduduk Thaif dalam waktu cepat memeluk Islam. Ketika mulai banyak penduduk Thaif yang masuk Islam, kemudian nabi Muhammad menunjuk seorang muslim penduduk Thaif yang masih muda namun tekun mempelajari Al-Qur’an yaitu Utsman bin Abu Al-Ash menjadi pemimpin mereka.

Dengan adanya pemimpin muslim Thaif ini, semakin banyak penduduk Thaif yang menjadi muslim dan kemudian mereka mengirim utusan kepada nabi Muhammad untuk membuat perjanjian antara kota Thaif dengan Madinah yang mengakui dan menyatakan ketundukan mereka pada Nabi Muhammad. Penduduk Thaif yang telah masuk Islam tersebut dengan sendirinya mengakui kekuasaan dan kepemimpinan nabi Muhammad sebagai pemimpin negara mereka. Setelah itu, nabi Muhammad mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Al- Mughirah bin Syu’bah ke thaif untuk menghancurkan berhala al-Lata, al-Uzza dan al-Manat yang ada di Thaif.

Dengan pengutusan ini, nabi Muhammad sekaligus menguji ke-Islam-an dan kepatuhan Abu Sufyan bin Harb sekaligus membuktikan bahwa penduduk Makkah telah taat kepada nabi Muhammad sebagai pemimpin negara. Abu Sufyan dan Al-Mughirah kemudian pergi ke Thaif dengan misi utama adalah menghancurkan berhala al-Lata, al-Uzzad dan al Manat. Merekan melaksanakannya dan dengan penghancuran berhala tersebut, maka agama pagan di Thaif telah dimusnahkan. Baik Makkah dan kota yang paling dekat dengan Makkah yaitu Thaif telah bersih dari agama pagan.

id.quora.com al-latta (sebelah kiri), al- latta diapit di tengah tengah oleh al-uzza dan al-manat, berhala utama penduduk Thaif yang dihancurkan oleh Abu Sofyan bin Harb dan al-Mughirah bin Syu’bah. Al-Latta mirip dengan berhala Yunani Athena, dewi perang. Al-Uzza sebanding dengan dewi Yunani Aphrodite atau dewi Romas Venus, dewi cinta dan kesuburan. Al-Manat adalah dewi keberuntungan yang menguasai waktu dan taqdir.

Ketika berhala tersebut dihancurkan, ternyata dibawah berhala tersebut tersimpan banyak harta. Atas temuan harta tersebut, nabi Muhammad memerintahkan pada penduduk Thaif agar digunakan untuk membayar hutang kepada Urwah bin Mas’ud dan al-Aswad yang sebelumnya telah mereka bunuh. Dengan demikian, peristiwa pembunuhan Urwah bin Mas’ud dan al-Aswad telah diselesaikan oleh penduduk Thaif.

Pada bulan Ramadhan, kaum muslim dari Thaif bepergian ke Madinah untuk berpuasa bersama nabi Muhammad. Ketika berbuka puasa dan sahur mereka dibawakan makanan oleh Bilal bin Rabah. Ketika mereka pulang ke Thaif, Rasulullah berpesan kepada Utsman bin Abu Al-Ash: “Wahai Utsman, jangan mengimami shalat terlalu lama dan perhatikanlah kondisi mereka karena diantara para makmum ada orang yang lanjut usia, anak kecil, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan“.

Tokoh tokoh bani Tamim diantaranya Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi, Az Zibriqan bin Badr AtTamimi, Amr bin al-Ahtam, al-Habab bersama Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udud, datang ke Madinah menghadap Rasulullah SAW untuk menyatakan masuk Islam.

(bersambung ……………..)

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=