Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-276 TAMAT)

Agus Mualif: Para Rasul Dalam Peradaban (Seri-276 TAMAT)
Penulis, Agus Mualif Rohadi berfoto ditengah-tengah Masjid Kubah Batu dan Masjid Qibli, Yerusalem




Oleh : Agus Mualif Rohadi

IX. Nabi Muhammad

Abu Bakar berkata: “ Adapun kebaikan memang berada pada kalian sebagaimana yang kalian katakan, dan kalian memang berhak memilikinya. Tapi, orang-orang Arab hanya tahu bahwa perkara (memilih pengganti Nabi) ini adalah hak orang-orang Qurays, karena mereka orang orang Arab yang paling baik nasab dan negerinya. Sungguh aku menerima dengan hati terbuka dan lapang dada bahwa untuk menjadi pemimpin kalian salah seorang dari dua orang ini (sambil menunjuk Umar bin Khattab dan Abu Ubadah bin Al-Jarrah). Maka baiatlah diantara keduanya yang mana yang kalian sukai “.

Umar bin Khattab sangat jengkel dengan perkataan Abu Bakar, karena dirinya tidak ingin memimpin Abu Bakar. Namun seorang muhajirin mengusulkan agar yang dipilih terdiri dari satu orang dari anshar dan satu orang dari muhajirin. Namun usulan tersebut justru membuat pertemuan tersebut menjadi kisruh, bahkan muncul suara suara yang meninggi.

Umar bin Khattab khawatir pertemuan tersebut berujung terjadinya konflik. Dalam situasi kalut tersebut, Umar bin Khattab berkata pada Abu Bakar,  “Wahai Abu bakar, ulurkan tanganmu “. Umar bin Khattab dengan suara keras dan tegas kemudian mengangkat tangan Abu Bakar dan membai’atnya. Ternyata, perbuatan Umar bin Khattab tersebut justru dapat menghentikan keributan, dan bai’atnya kemudian diiukti baik oleh orang orang anshar dan muhajirin yang berada di Saqifah bani saidah. Abu Bakar dapat mereka terima sebagai pengganti nabi Muhammad (Khalifah). Di saat yang tepat, ketika semua orang bingung dan kisruh saling bertentangan membicarakan siapa pengganti nabi Muhammad, Umar bin Khattab langsung berbai’at pada Abu Bakar yang hal itu menghentikan perdebatan dan diikuti bai’at pada Abu Bakar oleh orang orang yang hadir di saqifah.

Ibnu Ishaq berkisah, esoknya, ketika di masjid, Umar bin Khattab mengulangi acara bai’at terhadap Abu Bakar. Saat itu, Ali Bin Abu Thalib belum nampak di masjid karena sedang berada di bilik Aisyah bersama sama beberapa orang mengurus jenazah nabi Muhammad. Umar bin Khattab berpidato : “ Wahai manusia sekalian, kemarin aku telah khilaf berbicara yang menyelisihi Kitabullah dan ucapanku bukanlah wasiat yang diwasiatkan Rasulullah kepadaku. Namun telah diwartakan kepadaku bahwa Rasulullah SAW akan mengatur segala urusan kita. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewariskan kalian Kitab-Nya yang dengannya Dia membimbing Rasul-Nya. Jika kalian berpegang teguh kepada Kitabullah, Allah akan membimbing kalian sebagaimana Dia membimbing Rasulullah. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menghimpun urusan kalian kepada orang terbaik kalian, sahabat Rasulullah, dan salah satu dari dua orang tatkala keduanya berada di dalam gua Hira’. Maka berbai’atlah kalian kepadanya “.

Baca Juga:

Semua orang segera membai’at Abu Bakar. Yang telah membai’at di bani Saqifah kembali mengulang bai’atnya dan yang belum berbai’at kemudian berbai’at kepada Abu Bakar. Setelah acara bai’at selesai, Abu Bakar kemudian berdiri dan berpidato: “Amma ba’du. Wahai manusia, kalianlah yang telah memutuskan untuk memilihku menjadi pemimpin kalian, namun aku bukanlah orang yang terbaik di tengah kalian semua. Oleh karena itu, jika aku berbuat yang benar maka tak ada alasan bagi kalian kecuali mendukungku. Jika aku berbuat salah maka segera luruskanlah aku. Berbicara yang benar adalah amanah dan berbicara dusta adalah khianat. Orang yang lemah di tengah kalian bagiku dia adalah orang yang kuat disiku hingga aku berikan haknya insya Allah. Dan orang yang kuat ditengah kalian bagiku dia hanyalah orang yang lemah di sisiku hingga aku mengambil hak darinya insya Allah. Bila sampai ada suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Begitu pula seandainya perbuatan zina merebak disebuah kaum, maka Allah akan menimpakan prahara dan bencana di tengah mereka. Sepanjang aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka taatlah kalian kepadaku. Dan tidak ada kewajiban bagi kalian taat kepadaku jika kalian menemukan aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tegakkanlah shalat, mudah mudahan Allah memberi rahmat pada kalian“.

Dengan pidato Abu Bakar tersebut, kaum muslim telah mempunyai khalifah dan menjadi amirul mukminin bagi kaum muslim. Pertemuan di masjid bubar, dan kaum muslim segera berkonsentrasi mempersiapkan pemakaman Rasulullah SAW.

Ibnu Ishaq berkisah, kaum muslim berbeda pendapat bagaimana harus memandikan jenazah nabi Muhammad. Perdebatan mereka tidak berhenti sehingga Allah membuat mereka tertidur semua hingga dagu mereka menyentuh dada masing-masing. Ketika mereka serentak terbangun, ada seseorang dari pojok berkata: “ Hendaklah Kalian memandikan jenazah Rasulullah SAW tanpa melepas pakaian beliau. Aisyah berkata: “ Mereka lalu memandikan jenazah Rasulullah lengkap dengan pakaiannya tanpa melepasnya, menyiram air keatas pakaian beliau, dan menggosok beliau dengan menggosok pakaian beliau “.

Ibnu Ishaq berkisah dari Abdullah bin Abu bakar, Husain bin Abdullah, dan ulama ulama lainnya, bahwa Ali bin Abu Thalib, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Al-Fadhl bin Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Qutsam bin Al-Abbas, Usamah bin Zaid bin Haritsah dan Syuqran mantan budak Rasulullah adalah orang-orang yang memandikan Rasulullah. Aws bin Khauli salah seorang dari bani Awf bin Al-Khazraj, seorang sahabat Rasulullah dan iku serta perang badr, berkata pada Ali bin Abu Thalib: “Demi Allah, kami juga berhak terhadap Rasulullah“. Ali bin Abu Thalib mempersilahkannya untuk mengikuti prosesi memandikan Rasulullah. Ali Bin Abu Thalib membaringkan jenazah Rasulullah pada dadanya sementara Al-Abbas bin Abdul Muthalib dan Al-Fadhl bin Al-Abbas membolak balikkan badan Rasulullah diatas dada Ali bin Abu Thalib, sedang Usamah bin Zaid dan Syuqran menyediakan gayung berisi air diberikan kepada Ali bin Abu Thalib untuk dipakai memandikan Rasulullah. Ali memakai sarung tangan sehingga tidak langsung menyentuh tubuh nabi Muhammad. Ali bin Abu Thalib berkata: “Wahai Rasulullah, betapa harum mewanginya engkau semasa hidup dan setelah wafatmu “.

Usai dimandikan, jasad beliau dikafani dengan tiga kain, dua kain produk Shuhari (asal Yaman) dan satunya burdah yang dihiasi dengan katun yang dilipat. Setelah itu kaum muslim menshalatkan jenazah nabi Muhammad satu persatu secara bergantian, baik laki- aki, perempuan bahkan anak anak.

Perberbedaan pendapat muncul kembali ketika membicarakan tentang dimana Rasulullah dikuburkan. Ketika perbedaan tidak mendapatkan jalan keluar, saat itu Abu Bakar berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda – Jika seorang nabi meninggal dunia maka hendaknya ia dimakamkan di tempat ia meninggal dunia“. Kemudian ranjang nabi Muhammad di bilik Aisyah diangkat dan ditempat tersebut digali untuk kubur Nabi Muhammad SAW. Aisyah berkata bahwa penggalian liang lahat tersebut dilakukan pada malam rabu.

muslimahnews.net ….. replika kubur nabi Muhammad, Abu Bakar,Umar ibn Khattab di bilik Aisyah. Paling kiri adalah kubur NabiMuhammad yang berada di bekas ranjang nabi Muhammad di bilikAisyah.

Ibnu Ishaq berkisah dari Husain bin Abdullah dari ikrimah dari ibnu Abbas yang berkata : “Abu Ubidah bin Al-jarrah menggali dengan galian penduduk Makkah yaitu galian dengan dengan lubang ditengahnya, sedang Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl menggali seperti galian orang orang Madinah yaitu Lahad. Sebelumnya Al-Abbas memanggil keduanya agar menggali liang lahad dengan yang terbaik untuk Rasulullah SAW.

Ketika jenazah nabi Muhammad akan di kuburkan, yang berada di liang lahad adalah Ali bin Abu Thalib, Al-Fadhl bin Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Qutsam bin Al-Abbas, Syuqran mantan budak Rasulullah, dan Aws bin Khauli. Tatkala Rasulullah telah di liang lahadnya, Syuqran menutup jenazah beliau dengan kain yang sering dipakai dan digelar beliau. Syuqran berkata: “Demi Allah, kain ini tidak ada yang memakainya setelah engkau untuk selamanya. Maka iapun (kain) dikubur bersama Rasulullah SAW “. Penguburan Rasulullah telah selesai. Kaum
muslim mulai menapak kehidupan masa depannya dengan berpegang pada Al-Qur’an dan AlHadits.
———————————————————— TAMAT —–

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=