Daniel M Rosyid : Haj dan Tantangan Persatuan

Daniel M Rosyid : Haj dan Tantangan Persatuan




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Kita panjatkan syukur ke hadirat Allah swt yang telah mengizinkan kita berkumpul di pagi yang cerah dalam majelis Ied ini untuk merayakan keteladanan Qurban Nabi Ibrahim as dan putranya, Ismail as. Kita juga berdoa semoga saudara2 muslim yang kini di Mekkah dapat menyelesaikan tahap2 akhir ibadah haji dengan baik dan kembali ke tanah air sebagai hajjan mabruuran dalam keadaan selamat dan sehat wal ‘afiyat. Aamiin.

Haj adalah penampilan puncak setiap muslim setelah digembleng melalui beberapa tahapan rukun Islam sebelumnya, yaitu shaum sebulan penuh selama Ramadhan (maupun puasa sunnah lainnya) menjadi muttaqun. Kemampuan pengendalian syahwat perut dan kelamin adalah kompetensi muttaqun. Kompetensi ini merupakan prasyarat bagi tingkat rukun Islam berikutnya, yaitu az zakat. Kompetensi muzakki adalah kompetensi yang dibutuhkan untuk hidup yang bersih dari riba.

Resep Islam lain yang penting dalam menjaga syahwat perut dan kelamin serta hidup bersih tanpa riba adalah nikah. Kompetensi jujur, amanah, peduli, setia, rela berkorban dan tanggungjawab secara pro bono dikembangkan dalam pernikahan. Bahkan menikah dipandang dalam sunnah Rasul sebagai separuh dari Islam. Kecenderungan generasi milenial untuk menunda menikah, bahkan hidup bebas tanpa menikah harus diwaspadai kerena telah menyemarakkan perzinahan dalam berbagai bentuk.

Demikianlah itu rukun Islam membina kehidupan setiap muslim sebagai pribadi, berkeluarga dan bermasyarakat. Dalam perspektif rukun Islam itulah hanya muttaqun yang sudah muzakki yang sejatinya siap mengambil peran al Haj yang telah diteladankan oleh Ibrahim dan Ismail.

Hampir setiap minggu, khotib Jumat selalu mengajak kita yang sudah mengaku beriman untuk bertaqwa dan berharap agar kita tidak mati kecuali dalam keadaan muslim (3:102) :

Ya ayyuha alladziina aamanuu ittaquu Allah haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun”.

Mengapa? Karena manusia mu’min yang mati bukan dalam keadaan muslim adalah manusia yang merugi. Allah swt berfirman (3:85) :

wa man yabtaghy ghayra al Islami diinan falan yuqbala minhu wa huwa fil aakhirati min al khaasiriin”.

Islam adalah cara mengorganisasikan hidup yang sempurna yang memberi pedoman abgi setiap mukmim dalam semua segi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia (5:3) :

al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaykum ni’maty wa radhiitu lakumul islaama diinan”

Memang iman itu sebagai nilai harus ditebus dengan Islam sebagai ongkosnya (9:111) :

inna Allaha ‘staray minal mu’miniina anfusahum wa amwalahum bi anna lahumul jannah”.

Ongkos terbesar untuk membayar iman itu ternyata bukan duit/uang, atau harta benda, tapi adalah diri/keakuan/ego. Seruan taqwa dan tidak mati kecuali dalam keadaan muslim memang diteruskan seruan untuk tidak berpecah belah (3:103) :

Wa’tashimuu bi hablillahi jamii’an wa laa tafarraquu !”

Puncak persatuan Islam itu sebenarnya ditampilkan dalam prosesi haji sebagai sebuah konferensi ummat Islam sejagad, tanpa sekat2 suku, kelas, jabatan, dan bangsa/negara. Adalah keakuan iblis yang harus ditebus bagi persatuan ummat sebagaimama dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim as dan Ismail as.

Benih-benih perpecahan itu dimulai saat Iblis menolak bersujud mengikuti Adam as (2: 34) karena iblis yg terbuat dari api merasa dirinya lebih hebat daripada Adam yg hanya terbuat dari tanah :

Usjuduu li aadama fasajaduu illa ibliis aba wastakbara wa kaana min al kaafiriin”.

Adalah kesombongan diri, kelas, suku dan kelompok serta bangsa yang memecah belah ummat Islam dan juga ummat manusia seluruhnya. Padahal di mata Allah kemuliaan itu ditentukan hanya oleh taqwa seseorang, bukan oleh yang lain (49:13) :

Inna akramakum ‘inda Allahi atqaakum

Pemujaan pada kelompok, dan suku adalah penyakit iblis yg bakal menghambat persatuan dan berpotensi menjadi ongkos yang tidak pernah kita bayar sebagai mukmin untuk menjadi muslim. Untuk itu saya menyeru kepada saya pribadi dan hadirin semua agar kita mencermati transaksi yang tidak pernah kita tuntaskan ini karena bakal menjadi penghalang kita untuk tidak mati kecuali sebagai muslim.

Sebagai ummat kita berkeyakinan bahwa, menjawab gerakan sekulerisme garis keras yang ditengarai Nader Hashemi, muslim memiliki semua kompetensi yang dibutuhkan warga negara untuk mampu mewujudkan janji-janji Republik ini.

Gunung Anyar 10/8/2019

Editor : Setyanegara 

 

 

 

 







Tags: ,
banner 468x60