Batara R Hutagalung : Gunter Guillaume, Komunis Penyusup Ulung Dari Jerman Timur

Batara R Hutagalung : Gunter Guillaume, Komunis Penyusup Ulung Dari Jerman Timur
Batara R Hutagalung




Catatan Batara R. Hutagalung

Ahli Sejarah, Penulis Buku “Indonesia Tidak Pernah Dijajah”

 

Pendahuluan

Sering kita mendengar orang-orang mengatakan “AKU PANCASILA,” “NKRI HARGA MATI,” namun perilaku, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang2 tersebut justru memprovokasi, mengadu –domba untuk memecah-belah dan memojokkan kelompok-kelompok lain yang tidak sejalan dengan mereka. Siapapun dapat menyatakan “AKU PANCASILA”, termasuk orang2 komunis yang bertujuan mengganti Pancasila dengan ideologi komunis mengatakan, bahwa dia seorang demokrat yang Pancasilais. Demikian juga orang-orang yang ikut dalam konspirasi untuk memecah-belah NKRI, tentu akan pura-pura berteriak-teriak “NKRI HARGA MATI.”

Di Jerman Barat, di masa Perang Dingin antara blok komunis dan blok anti komunis ada contoh yang sangat baik, yaitu bagaimana seorang dari Jerman Timur negara komunis yang otoriter dan tidak mengizinkan adanya perbedaan pendapat, yang disusupkan ke Jerman Barat yang demokratis dan anti komunis, berhasil menonjol sebagai seorang yang seolah-olah paling demokratis, anti komunis dan sebagainya.

Paralel seperti ini, yang paling berbahaya untuk Indonesia adalah para “PENYUSUP PANCASILA” dan “PENYUSUP NKRI HARGA MATI’,  yang menyusup/disusupkan ke institusi-institusi/lembaga negara, partai-partai politik, organisasi-ganisasi massa dan berbagai komunitas. Mereka adalah bagian dari konspirasi asing dan aseng untuk memecah-belah NKRI dan kemudian menguasai harta kekayaan/SDA NKRI. Atau mereka adalah keturunan PKI yang ingin berkuasa di Republik Indonesia. Mereka pura-pura menyatakan dirinya “PANCASILAIS,” bersemboyan “NKRI HARGA MATI” untuk mendapat kepercayaan dari rakyat Indonesia.

Apabila mereka sudah mendapat kepercayaan di lingkungan di mana mereka ditempatkan, kemudian sampai pada pucuk pimpinan, mereka mempengaruhi pengambilan kebijakan dan keputusan. Dengan menguasai perekonomian kemudian ikut menentukan dalam pengambilan keputusan dalam pemerintahan, maka de facto merekalah penguasa negeri ini. Penyusupan antek-antek asing di Indonesia telah terjadi sejak tahun 1945.

Di awal pembentukan bangsa dan negara Indonesia di masa pendudukan tentara Jepang, pribumi yang mempersiapkan untuk mendirikan bangsa dan negara Indonesia juga mengalami penyusupan dari seorang bangsa Cina yang bernama Liem Koen Hian (LKH). Dalam menyusun rancangan Undang-Undang Dasar negara yang akan dibentuk, pemerintah militer Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan (BPUPK).

Dalam BPUPK yang terdiri dari 60 orang (kemudian ada penambahan), ada 4 orang wakil bangsa Cina. Salah satunya adalah Liem Koen Hian. Ketika membahas mengenai kewarga-negaraan negara Indonesia yang akan dibentuk, 3 orang wakil bangsa Cina menolak menjadi warga negara Indonesia. LKH menyatakan, bahwa komunitas Cina di lingkungannya bersedia menjadi warga negara Indonesia. Dia bahkan meminta agar bangsa Cina juga diakui sebagai pribumi/orang Indonesia asli.




Ternyata LKH dan lingkungannya beraliran sosialis/komunis. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dia berhasil mendapat kepercayaan dari para pemimpin Republik Indonesia, sehingga dia menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Perundingan Renville pada bulan Desember 1947. Kedoknya akhirnya terbuka. Ternyata dia adalah penyusup dari Cina komunis RRC. Tahun 1951 dia ditangkap. Setelah dibebaskan, sampai meninggal dia tidak mau menjadi warga negara Indonesia. (Lihat Risalah Sidang-sidang BPUPKI, diterbitkan oleh Setneg, Edisi tahun 1998, halaman 480).

Kini komunitas Cina sedang berusaha memutar balikkan fakta sejarah dan memperjuangkan agar LKH, penyusup dari RRC, mendapat gelar pahlawan nasional Indonesia. Kasus LKH ini harus menjadi peringatan untuk bangsa Indonesia, bahwa sudah pernah ada penyusup bangsa lain, yang pura-pura ingin jadi pribumi, ternyata adalah penyusup dari negara Cina komunis.

Saat ini banyak sekali penyusup di semua lapisan dan elemen masyarakat Indonesia. Mereka sangat lihai bersilat lidah dan menulis di berbagai media sosial. Mereka berhasil mengecoh sebagian masyarakat, seolah-olah mereka sangat nasionalis, Pancasilais, membela NKRI, menulis gagasan-gagasan yang hebat … namun isinya selalu provokatif dan sifatnya mengadu-domba rakyat.

Oleh karena itu, yang harus diwaspadai di Indonesia adalah para “PENYUSUP PANCASILA” dan “PARA PENYUSUP NKRI HARGA MATI.”







Tags: , , ,
banner 468x60