CABE, Catetan Babe (304): Metode Historiografi

CABE, Catetan Babe (304): Metode Historiografi
Ridwan Saidi




Oleh: Ridwan Saidi
(Budayawan, Sejarawan, Politisi Senior)




Silsilah tak dapat untuk rujukan kecuali dilegalisasi pengadilan. Narasi zonder time line adalah dongeng.

Ketika saya meneliti Mualim Teko, focus saya pada toponim Teko. Kp tertua di Jakarta Kapuk Muara dimana terdapat Kp Kapuk Teko. Disini ada Gg Teko. Penduduk sekitar makam TPU Kapuk Teko memberi kesaksian disitu ada makam tua. Tapi TPU sudah jadi danau.

Dari arsip Warta Kota saya temukan makam dengan penghadapan Jerussalem. Ini penghadapan makam mestinya sampai abad X M.

Teko pasti tidak merujuk pabrik teko. Bukan jamannya. Saya teringat kumpi saya Sali yang suka sebut2 nama mualim Teko. Siapa beliau?

Saya baca laporan Raffles tentang temuannya dua kitab aksara Arab Melayu ditulis Abu Nashr bin Ibrahim dengan judul Baca2an (doa) dan Masail (pengajaran sembayang, munakahat, dan penyelenggaraan jenazah).

Ini bahasa Melayu Betawi. Menurut pemegang kitab terakhir yang tinggal di Selamba (salah ucap jadi Salemba) orang-orang dari pelbagai kota menyalin kitab ini sejak usai ditulis. Dua kitab ini ada di British Library dan sudah digitalisasi. Silakan download.

Ternyata biografi Abu Nashr ada dalam Ensiklopedi Persia. Mualim Teko julukan untuk Abu Nashr bin Ibrahim. Ilmunya terus mengalir seperti air di Teko.

Informan adalah migran Persia, yang kembali pulang, dan bertemu dengan mualim. Dari pengakuan mualim ternyata beliau berguru di perguruan Buchara yang didirikan Imam Hambali.

Menurut Ensiklopedia Persia mualim wafat 983 M dan dimakam di Kapuk Teko. Saya katakan Mualim Teko kaga nyang jabanin.

Tahun 1610 muncul Ki Alang dari Kampung Daleman Kota Inten. Tulisan beliau Hikayat Tumenggung Al Wazir diterbitkan Balai Pustaka kemudian. Di buku dikisahkan debat Ki Alang vs “pengeran” Jayakarta tentang ketrampilan berpikir. Jayakarta kéok.

Jangan ciptakan tokoh melalui dongeng katanya katényè. (RSaidi)

EDITOR: REYNA







banner 468x60